Pemain Abroad Asia Berpeluang Bela Timnas Indonesia di Piala AFF 2026

Minggu, 18 Januari 2026 | 10:48:34 WIB
Pemain Abroad Asia Berpeluang Bela Timnas Indonesia di Piala AFF 2026

JAKARTA - Situasi Piala AFF 2026 menempatkan Timnas Indonesia pada tantangan yang berbeda dari turnamen internasional lainnya. 

Kompetisi ini digelar di luar kalender FIFA, sehingga ketersediaan pemain menjadi isu utama sejak awal. Kondisi tersebut membuat pelatih John Herdman harus berpikir realistis sekaligus kreatif dalam menyusun skuad terbaik. Alih-alih bergantung pada pemain yang merumput di Eropa atau Amerika Serikat, fokus kini bergeser pada potensi pemain abroad yang berkarier di kawasan Asia.

Piala AFF 2026 dijadwalkan berlangsung pada 24 Juli hingga 26 Agustus 2026. Timnas Indonesia tergabung di Grup A bersama Vietnam, Singapura, Kamboja, serta pemenang playoff antara Timor Leste atau Brunei Darussalam. 

Dengan jadwal tersebut, banyak pemain diaspora yang bermain di liga top dunia diprediksi tidak dapat dilepas klubnya. Namun, situasi ini justru membuka ruang bagi pemain-pemain Asia untuk unjuk kemampuan di level internasional.

Keterbatasan kalender dan dampaknya bagi skuad Garuda

Absennya Piala AFF dari kalender resmi FIFA menjadi faktor krusial dalam perencanaan Timnas Indonesia. Klub-klub Eropa dan Amerika Serikat tidak memiliki kewajiban melepas pemainnya, sehingga nama-nama seperti Jay Idzes, Kevin Diks, Emil Audero, Ole Romeny, Calvin Verdonk, Dean James, Justin Hubner, hingga Maarten Paes berpotensi absen. Hal ini tentu mengurangi opsi bagi pelatih, terutama dari segi pengalaman bermain di level tertinggi.

Meski demikian, keterbatasan ini bukan tanpa solusi. Banyak liga di Asia, khususnya Asia Tenggara, berada dalam masa transisi musim pada periode tersebut. Artinya, sejumlah pemain abroad yang merumput di kawasan ini masih memungkinkan untuk memperkuat Timnas Indonesia. Situasi inilah yang menjadi peluang strategis bagi John Herdman untuk tetap meramu tim kompetitif.

Pemain Thailand dan Malaysia jadi alternatif realistis

Sejumlah pemain Indonesia yang berkarier di Thailand masuk dalam radar potensial. Shayne Pattynama dan Sandy Walsh yang membela Buriram United, Asnawi Mangkualam di Port FC, serta Pratama Arhan bersama Bangkok United, menjadi opsi menarik. Keempat pemain ini sudah memiliki pengalaman internasional dan terbiasa bermain di kompetisi dengan intensitas tinggi.

Thai League 1 musim 2025/2026 dijadwalkan berakhir pada 10 Mei 2026. Jika musim baru belum dimulai saat Piala AFF digelar, peluang mereka untuk dipanggil semakin terbuka. Kondisi ini memberikan keuntungan bagi Timnas Indonesia karena para pemain tersebut dapat bergabung tanpa benturan jadwal klub yang signifikan.

Selain Thailand, Liga Super Malaysia juga menyumbang kandidat potensial. Ramadhan Sananta yang bermain untuk DPMM FC dinilai masih memiliki peluang besar untuk dipanggil. Kehadirannya dapat menambah kedalaman lini depan, terutama dalam situasi di mana opsi penyerang menjadi terbatas.

Peran penting pengalaman Asia Tenggara

Pemain-pemain yang berkarier di Asia Tenggara memiliki keunggulan tersendiri. Mereka sudah akrab dengan karakter permainan regional, kondisi cuaca, serta atmosfer pertandingan Piala AFF yang dikenal penuh tekanan. Faktor adaptasi ini menjadi nilai tambah yang tidak bisa diabaikan, terutama ketika waktu persiapan relatif singkat.

Selain itu, pemain abroad Asia umumnya mendapat menit bermain reguler di klubnya. Hal ini penting untuk menjaga kebugaran dan konsistensi performa saat memperkuat tim nasional. Dengan komposisi seperti ini, Timnas Indonesia diharapkan tetap mampu bersaing, meski tanpa kekuatan penuh dari pemain Eropa.

Kesempatan emas bagi pemain pelapis dan muda

Piala AFF 2026 juga berpotensi menjadi ajang pembuktian bagi pemain yang selama ini jarang mendapat kesempatan di laga FIFA Matchday. Turnamen ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas basis pemain dan mengevaluasi kedalaman skuad nasional. Bagi John Herdman, situasi ini selaras dengan visinya membangun tim jangka menengah dan panjang.

Dengan memberikan kesempatan kepada pemain muda atau pelapis, pelatih dapat menilai kesiapan mereka tampil di level internasional. Pengalaman ini akan sangat berguna untuk agenda besar Timnas Indonesia ke depan, termasuk target jangka panjang menuju Piala Dunia 2030.

Pendekatan realistis John Herdman

Sejak awal, John Herdman telah menyampaikan pandangannya secara terbuka. Ia menyadari bahwa membawa pemain tier satu dan dua dari Eropa dan Amerika Serikat hampir mustahil karena komitmen klub dan status turnamen di luar kalender FIFA. Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya memiliki kolam talenta yang luas.

"Turnamen pada Juli dan Agustus 2026 adalah sesuatu yang berbeda. Sulit membawa pemain tier satu dan dua, karena mereka punya komitmen kepada klubnya, dan itu di luar kalender FIFA," ujar John Herdman.

“Jadi, itulah pentingnya memiliki kolam talenta yang luas. Saya pikir turnamen Piala AFF 2026 jadi suatu kesempatan yang bagus untuk saya memahami seberapa dalam kolam talenta yang dimiliki Indonesia.”

"Lalu juga memberikan kesempatan kepada para pemain yang tidak mendapatkannya saat Maret atau Juni 2026 di kalender FIFA. Untuk memberikan kesempatan kepada para pemain muda, namun dengan skala yang jauh lebih besar," ucapnya.

Dengan pendekatan tersebut, Piala AFF 2026 tidak hanya menjadi target prestasi, tetapi juga sarana evaluasi dan pengembangan. Pemain abroad Asia diprediksi akan memegang peran sentral dalam rencana ini, menjadi jembatan antara keterbatasan kalender dan ambisi Timnas Indonesia untuk tetap kompetitif di kawasan Asia Tenggara.

Terkini