JAKARTA - Memasuki awal tahun 2026, kinerja sektor energi kembali menjadi sorotan seiring mulai bergeraknya permintaan komoditas tambang.
Di tengah dinamika pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian, PT RMK Energy Tbk. menunjukkan sinyal positif. Manajemen memastikan penjualan batu bara perusahaan mengalami peningkatan, menandai fase pemulihan setelah tekanan pendapatan yang terjadi sepanjang 2025.
Optimisme ini disampaikan manajemen usai menjawab permintaan klarifikasi dari Bursa Efek Indonesia terkait penurunan pendapatan perusahaan hingga kuartal III 2025. Jawaban tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana perusahaan beradaptasi menghadapi perubahan pasar dan menyiapkan fondasi pertumbuhan di awal tahun berjalan.
Penurunan pendapatan kuartal III jadi perhatian pasar
Permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia berangkat dari laporan keuangan RMK Energy per 30 September 2025. Dalam laporan tersebut, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp1,12 triliun. Angka ini mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,75 triliun.
Manajemen menjelaskan bahwa penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya pendapatan dari penjualan batu bara pada semester I 2025. Tekanan harga batu bara global serta menurunnya permintaan dari pasar ekspor, khususnya China, menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja tersebut.
Dampak harga global dan permintaan China
Sekretaris Perusahaan RMK Energy, Muhtar, mengungkapkan bahwa kondisi pasar global sangat memengaruhi kinerja perusahaan pada paruh pertama 2025. Penurunan harga batu bara terjadi bersamaan dengan menurunnya permintaan dari China yang saat itu tengah menghadapi ketidakpastian ekonomi akibat isu perang dagang.
“Akibat dari penurunan harga batu bara dan menurunnya permintaan batu bara dari China akibat dari ketidakjelasan perekonomian global dikarenakan isu perang dagang,” ujar Muhtar. Situasi ini membuat penjualan batu bara tidak optimal, sehingga berdampak langsung pada pendapatan perusahaan di kuartal III.
Pemulihan penjualan mulai terlihat akhir 2025
Meski sempat tertekan, manajemen menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Pada kuartal IV 2025, penjualan batu bara perusahaan mulai kembali normal. Bahkan, tren positif tersebut berlanjut hingga awal 2026 dengan peningkatan volume penjualan yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.
Pemulihan ini tidak terlepas dari langkah strategis perusahaan yang mulai mengalihkan fokus penjualan ke pasar domestik. Langkah tersebut dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor yang lebih fluktuatif serta memberikan stabilitas permintaan di tengah ketidakpastian global.
Optimalisasi jalan hauling jadi kunci strategi
Salah satu strategi utama yang dijalankan perusahaan untuk mendorong pendapatan adalah meningkatkan volume batu bara yang diangkut melalui jalan hauling milik perseroan. Muhtar menjelaskan bahwa jalan hauling RMK Energy telah terhubung dengan beberapa tambang strategis yang mulai menggunakan jasa perusahaan.
“Jalan hauling perseroan telah terhubung dengan tambang WSL dan DBU yang pada kuartal III ini telah mulai menggunakan jasa Perseroan dan tambang MME terhubung pada kuartal IV dan mulai menggunakan jasa Perseroan,” jelasnya. Konektivitas ini diharapkan terus meningkatkan volume angkutan secara berkelanjutan.
Efisiensi operasional dorong margin lebih sehat
Peningkatan volume angkutan tidak hanya berdampak pada pendapatan, tetapi juga efisiensi biaya operasional. Dengan volume yang lebih besar, biaya tetap perusahaan dapat dibebankan pada jumlah produksi yang lebih tinggi, sehingga menekan biaya per unit.
Muhtar menyebutkan bahwa strategi ini akan meningkatkan efisiensi secara keseluruhan. “Di mana biaya tetap Perseroan akan dibebankan untuk volume yang lebih besar,” ungkapnya. Selain itu, perusahaan juga melakukan peningkatan kualitas jalan hauling melalui penerapan lapisan chipseal untuk mendukung kapasitas angkut yang lebih optimal.
Arus kas operasional sempat tertekan
Selain pendapatan, Bursa Efek Indonesia juga menyoroti penurunan kemampuan kegiatan operasional perusahaan dalam membukukan surplus kas. Per 30 September 2025, arus kas operasional RMK Energy tercatat defisit Rp65 miliar, berbalik dari posisi surplus Rp159 miliar pada periode sebelumnya.
Menanggapi hal ini, Muhtar menjelaskan bahwa kondisi tersebut bersifat sementara. Defisit kas operasional terjadi akibat peningkatan persediaan dan piutang usaha, seiring dengan adanya beberapa kontrak trading batu bara yang baru selesai pada kuartal IV 2025.
Kontrak baru perbaiki kas di kuartal berikutnya
Menurut Muhtar, pembayaran pembelian batu bara telah dilakukan pada kuartal III, sementara penerimaan dari penjualan baru masuk pada kuartal IV. “Di mana pembayaran pembelian batubara telah dilakukan di kuartal ketiga sedangkan penerimaan penjualan batu bara baru masuk di kuartal keempat,” jelasnya.
Dengan masuknya pembayaran tersebut di akhir tahun, manajemen optimistis posisi kas operasional akan kembali membaik. Tren peningkatan penjualan di awal 2026 juga diharapkan memperkuat likuiditas dan memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan untuk ekspansi ke depan.
Optimisme kinerja RMK Energy awal 2026
Secara keseluruhan, manajemen RMK Energy menilai tekanan kinerja yang terjadi pada 2025 telah berhasil direspons dengan strategi yang tepat. Peningkatan penjualan batu bara di awal 2026 menjadi indikasi bahwa langkah diversifikasi pasar dan optimalisasi operasional mulai membuahkan hasil.
Dengan fokus pada pasar domestik, peningkatan efisiensi, serta perluasan kerja sama dengan tambang potensial, perusahaan optimistis dapat menjaga tren positif sepanjang tahun. Kondisi ini diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan investor sekaligus memperkuat posisi RMK Energy di industri batu bara nasional.