Mitos Minum Setelah Makan Ganggu Pencernaan Dipercaya Sejak Zaman Dahulu Hingga Sekarang

Minggu, 18 Januari 2026 | 11:11:57 WIB
Mitos Minum Setelah Makan Ganggu Pencernaan Dipercaya Sejak Zaman Dahulu Hingga Sekarang

JAKARTA - Banyak orang masih menahan diri untuk tidak minum air setelah makan karena takut pencernaannya terganggu. 

Keyakinan ini begitu melekat dalam keseharian, bahkan sering diwariskan dari orang tua ke anak tanpa pernah dipertanyakan kembali kebenarannya. Padahal, rasa haus yang muncul setelah makan merupakan respons alami tubuh yang seharusnya tidak diabaikan begitu saja.

Anggapan bahwa minum setelah makan bisa mengencerkan asam lambung dan membuat pencernaan tidak optimal ternyata bukan pemikiran baru. Sejak zaman dahulu, pandangan ini sudah berkembang dan dipercaya secara turun-temurun. Akibatnya, muncul kebiasaan menunda minum demi menjaga proses cerna tetap “ideal” menurut kepercayaan lama tersebut.

Akar kepercayaan lama soal minum setelah makan

Pada masa lampau, pemahaman mengenai cara kerja sistem pencernaan masih sangat terbatas. Banyak orang meyakini bahwa cairan yang masuk ke lambung setelah makan akan melemahkan asam lambung. Padahal, asam lambung diproduksi secara konsisten sesuai kebutuhan tubuh, bukan mudah berubah hanya karena minum air.

Dari keyakinan tersebut kemudian muncul anjuran populer untuk menunggu sekitar 30 menit setelah makan sebelum minum. Tujuannya agar makanan dapat dicerna dengan sempurna tanpa gangguan cairan tambahan. Sayangnya, anjuran ini terus diikuti meski ilmu kedokteran telah berkembang pesat.

Pandangan medis tentang air dan asam lambung

Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa minum air setelah makan dapat merusak proses pencernaan. Secara medis, air hampir tidak berpengaruh terhadap konsentrasi asam di lambung. Tubuh memiliki mekanisme alami untuk menyesuaikan produksi asam lambung sesuai kondisi.

Berdasarkan analisis klinis, minum air selama atau setelah makan tidak terbukti menyebabkan gangguan pencernaan. Hal ini juga ditegaskan dalam laporan kesehatan yang dilansir dari Vinmec pada Jumat (16/1/2026). Dengan kata lain, kekhawatiran yang selama ini beredar lebih bersifat mitos daripada fakta.

Perbedaan kebiasaan minum dan respons tubuh

Kebiasaan minum air memang berbeda pada setiap orang. Anak-anak umumnya minum saat makan, sedangkan orang dewasa sering memilih sebelum atau sesudah makan. Perbedaan ini wajar dan dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, serta preferensi pribadi masing-masing individu.

Sebagian orang mengaku merasa kembung atau lebih banyak gas jika minum air saat makan. Namun, keluhan tersebut belum terbukti secara ilmiah sebagai dampak langsung dari air. Para ahli menilai, faktor psikologis dan sugesti berperan besar dalam munculnya rasa tidak nyaman tersebut.

Peran sugesti dalam keluhan pencernaan

Sugesti bahwa minum setelah makan itu “tidak baik” bisa memengaruhi cara tubuh merespons. Ketika seseorang sudah meyakini akan muncul gangguan, tubuh cenderung lebih peka terhadap sensasi kecil yang sebenarnya normal. Hal inilah yang kemudian dianggap sebagai masalah pencernaan.

Padahal, dalam banyak kasus, keluhan tersebut tidak berkaitan langsung dengan air, melainkan dengan jenis makanan, kecepatan makan, atau kondisi lambung masing-masing orang. Oleh karena itu, penting membedakan antara mitos yang diwariskan dan fakta medis yang telah diteliti.

Air minum dan rasa kenyang alami

Di sisi lain, minum air, terutama sebelum makan, justru sering dikaitkan dengan rasa kenyang. Air membantu mengisi ruang di lambung sehingga seseorang cenderung makan dalam porsi lebih kecil. Karena tidak mengandung kalori, kebiasaan ini kerap dimanfaatkan sebagai cara sederhana untuk mengontrol asupan makanan.

Minum air sebelum makan tidak mengganggu kesehatan dan dapat membantu pengaturan pola makan. Selama dilakukan dengan wajar, kebiasaan ini justru mendukung gaya hidup sehat tanpa perlu metode ekstrem atau pembatasan berlebihan.

Peran air dalam sistem pencernaan tubuh

Minum air setelah makan tidak membahayakan sistem pencernaan. Sebaliknya, air berperan penting dalam membantu proses pencernaan, terutama di usus. Cairan ini membantu melunakkan makanan dan memecah struktur makanan besar agar lebih mudah diserap tubuh.

Selain itu, air berfungsi sebagai pembawa yang membantu makanan bergerak lebih lancar melalui saluran pencernaan. Karena peran ini, kebiasaan minum air yang cukup sering dikaitkan dengan penurunan risiko sembelit dan gangguan pencernaan ringan.

Manfaat nyata minum air setelah makan

Selama tubuh terasa nyaman, tidak ada larangan untuk minum air saat atau setelah makan. Bahkan, banyak jenis makanan sehari-hari sudah mengandung air, seperti sup dan hidangan berkuah. Artinya, tubuh sebenarnya sudah terbiasa menerima cairan bersamaan dengan makanan.

Beberapa manfaat minum air setelah makan antara lain membantu melunakkan makanan di lambung, mendukung penyerapan nutrisi, mengurangi risiko sembelit, memberikan rasa kenyang yang membatasi asupan kalori, membantu pergerakan makanan di saluran cerna, serta mendukung hidrasi yang berperan penting dalam metabolisme tubuh.

Dengan memahami fakta ini, masyarakat diharapkan tidak lagi terjebak pada mitos lama. Mendengarkan sinyal tubuh dan memahami dasar ilmiah pencernaan jauh lebih bermanfaat daripada mengikuti anggapan turun-temurun yang belum tentu benar.

Terkini