JAKARTA - Lonjakan harga emas yang terjadi sepanjang akhir 2025 tampaknya belum akan berhenti.
Setelah menembus level agresif di kisaran Rp2,5 juta per gram, logam mulia kembali menjadi sorotan utama pelaku pasar global. Banyak analis menilai, kondisi ekonomi dunia yang masih sarat ketidakpastian membuka ruang bagi emas untuk melanjutkan reli pada 2026.
Berbeda dengan periode sebelumnya, kenaikan emas kali ini tidak hanya dipicu faktor spekulatif. Permintaan fisik yang stabil, ditambah sikap hati-hati investor menghadapi risiko global, membuat emas kembali diposisikan sebagai aset pelindung nilai. Tak heran jika lembaga keuangan dunia mulai menyusun proyeksi berani untuk harga emas sepanjang 2026.
Tren Kenaikan Emas Belum Kehilangan Tenaga
Setelah mencetak rekor agresif di angka Rp2,5 juta per gram pada akhir 2025, tren kenaikan emas diprediksi belum akan mereda. Banyak analis melihat pola penguatan yang terbentuk masih cukup solid untuk berlanjut. Emas dinilai tetap relevan sebagai instrumen lindung nilai di tengah fluktuasi ekonomi global.
Ketidakpastian ekonomi global menjadi salah satu pendorong utama. Gejolak geopolitik, perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar, hingga kebijakan moneter yang belum sepenuhnya stabil membuat investor cenderung mencari aset aman. Dalam situasi seperti ini, emas kembali memainkan perannya sebagai safe haven.
Permintaan Fisik Jadi Penopang Utama
Selain faktor makroekonomi, permintaan fisik emas yang relatif stabil juga menjadi bahan bakar utama bagi kenaikan harga. Konsumsi emas dari sektor perhiasan maupun industri masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Di sisi lain, pembelian emas oleh lembaga keuangan dan investor institusi turut memperkuat sentimen positif.
Permintaan fisik ini memberikan fondasi yang lebih kuat bagi pergerakan harga emas. Tidak hanya bergantung pada sentimen jangka pendek, emas didukung oleh kebutuhan riil yang terus berulang. Hal ini membuat banyak analis menilai bahwa kenaikan emas di 2026 bukan sekadar lonjakan sesaat.
Proyeksi Harga dari Lembaga Keuangan Dunia
Sejumlah lembaga keuangan global telah merilis proyeksi harga emas yang cukup optimis untuk tahun 2026. Dengan asumsi kurs berada di kisaran Rp16.000 per dolar AS, simulasi harga emas per gram menunjukkan potensi penguatan lanjutan. Proyeksi ini menjadi acuan penting bagi pelaku pasar.
Morgan Stanley menetapkan target harga emas untuk pertengahan 2026 di level US$4.500 per ounce. Jika dikonversi, angka tersebut setara dengan estimasi Rp2.538.000 per gram. Proyeksi ini mencerminkan keyakinan bahwa emas masih memiliki ruang untuk menguat seiring berlanjutnya tekanan global.
Sementara itu, Deutsche Bank memproyeksikan harga emas di kisaran US$4.450 per ounce atau sekitar Rp2.511.000 per gram. Bank ini juga mencatat bahwa rentang harga tertinggi emas berpotensi menyentuh level Rp2,79 juta per gram, tergantung dinamika pasar global sepanjang tahun berjalan.
Proyeksi paling agresif datang dari Goldman Sachs. Lembaga ini memprediksi harga emas dapat melonjak hingga US$4.900 per ounce pada akhir 2026. Jika dikonversi ke rupiah, estimasi harga emas berada di sekitar Rp2.765.000 per gram, mencerminkan optimisme yang sangat kuat terhadap prospek emas.
Faktor Bank Sentral Dorong Optimisme Analis
Salah satu alasan utama di balik proyeksi optimistis tersebut adalah langkah bank sentral berbagai negara yang terus memborong emas. Pembelian emas dilakukan untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai mata uang. Tren ini diperkirakan masih berlanjut di 2026.
Bank sentral cenderung meningkatkan kepemilikan emas sebagai respons terhadap ketidakpastian sistem keuangan global. Dengan emas sebagai aset yang relatif stabil, cadangan negara menjadi lebih terlindungi dari gejolak eksternal. Kondisi ini memberikan dukungan struktural bagi harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Peran Investor Institusi Lewat ETF Emas
Selain bank sentral, minat investor institusi juga menjadi faktor penting. Melalui instrumen Exchange Traded Fund atau ETF emas, tekanan beli dari investor besar terus mengalir. Aliran dana yang konsisten ke ETF emas mencerminkan kepercayaan jangka panjang terhadap prospek logam mulia.
ETF emas memudahkan investor institusi untuk mendapatkan eksposur terhadap harga emas tanpa harus menyimpan fisik. Selama sentimen global masih diliputi kehati-hatian, permintaan melalui ETF diperkirakan tetap kuat. Kondisi ini turut menjaga harga emas berada di jalur penguatan.
Emas Tetap Jadi Primadona Investasi 2026
Dengan berbagai faktor pendukung tersebut, emas diperkirakan tetap menjadi primadona investasi pada 2026. Kombinasi antara ketidakpastian global, permintaan fisik yang stabil, pembelian bank sentral, serta minat ETF emas menciptakan ekosistem yang kondusif bagi kenaikan harga.
Meski demikian, investor tetap disarankan mencermati dinamika pasar secara menyeluruh. Proyeksi harga yang tinggi tidak menutup kemungkinan adanya koreksi jangka pendek. Namun secara fundamental, banyak analis sepakat bahwa emas masih memiliki daya tarik kuat sebagai aset lindung nilai dan diversifikasi portofolio sepanjang 2026.