Hari Gizi Nasional 2026 Dorong Pangan Lokal Sebagai Kunci Lawan Stunting

Kamis, 22 Januari 2026 | 09:39:40 WIB
Hari Gizi Nasional 2026 Dorong Pangan Lokal Sebagai Kunci Lawan Stunting

JAKARTA - Upaya membangun generasi sehat tidak selalu harus bergantung pada pangan impor atau produk mahal. 

Justru, bahan pangan yang tumbuh dan tersedia di sekitar masyarakat memiliki potensi besar dalam memenuhi kebutuhan gizi. Inilah pesan utama yang kembali digaungkan dalam peringatan Hari Gizi Nasional 2026. Momentum ini menjadi ajakan reflektif agar masyarakat dan pemerintah melihat ulang cara memenuhi gizi secara berkelanjutan.

Hari Gizi Nasional 2026 diperingati pada Minggu, 25 Januari, dengan membawa perhatian publik pada pentingnya gizi seimbang sejak dini. Pada peringatan tahun ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengusung tema Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal. Tema tersebut menegaskan bahwa kekayaan pangan nusantara memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Peringatan ini tidak hanya menyasar kesadaran individu, tetapi juga menjadi pengingat kolektif akan tantangan gizi nasional. Stunting masih menjadi masalah serius yang berdampak panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, Hari Gizi Nasional menjadi ruang penting untuk menguatkan komitmen bersama dalam memperbaiki pola konsumsi masyarakat.

Hari Gizi Nasional sebagai momentum evaluasi kebijakan

Pakar gizi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Prof. Hery Winarsi, menilai Hari Gizi Nasional 2026 seharusnya dimaknai lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, peringatan ini perlu dijadikan momentum evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan gizi nasional yang sedang berjalan. Evaluasi tersebut penting agar program yang dirancang benar-benar berdampak nyata.

“Hari Gizi Nasional harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pangan, kesehatan, dan edukasi gizi nasional,” ujar Hery di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dikutip dari Antara. Pernyataan ini menegaskan perlunya pendekatan komprehensif dalam mengatasi persoalan gizi di Indonesia.

Ia menyoroti bahwa kebijakan gizi tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sistem pangan yang kuat. Edukasi gizi kepada masyarakat juga harus berjalan seiring agar perubahan perilaku konsumsi dapat tercapai. Tanpa evaluasi menyeluruh, program gizi berisiko tidak efektif meski anggaran telah dikeluarkan.

Stunting sebagai ancaman kualitas generasi

Menurut Hery, persoalan gizi, khususnya stunting, tidak bisa dipandang secara sederhana. Stunting bukan hanya soal tinggi badan anak yang tidak sesuai usia. Masalah ini berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Dampaknya mencakup kecerdasan, produktivitas, hingga daya saing bangsa di tingkat global.

Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan kognitif lebih rendah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi prestasi pendidikan dan peluang kerja. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting harus dilakukan sejak masa kehamilan hingga usia dini.

Tema Hari Gizi Nasional 2026 dinilai sangat relevan dengan tantangan tersebut. Fokus pada pangan lokal menjadi strategi penting karena lebih mudah diakses masyarakat. Dengan pemanfaatan yang tepat, pangan lokal mampu memenuhi kebutuhan gizi tanpa bergantung pada pasokan luar.

Program Makan Bergizi Gratis dan tantangannya

Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam menjamin pemenuhan gizi masyarakat. Program ini menyasar anak usia sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Hery mengapresiasi program tersebut sebagai bentuk kehadiran negara dalam memutus mata rantai stunting antargenerasi.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kualitas menu yang disajikan. “Program Makan Bergizi Gratis tidak boleh hanya berorientasi pada rasa kenyang. Menu harus benar-benar bergizi seimbang, dengan kecukupan protein hewani dan nabati, serta zat gizi mikro penting seperti zat besi, vitamin A, dan vitamin C,” tambahnya.

Menu yang tidak seimbang berisiko membuat program kehilangan tujuan utamanya. Anak memang merasa kenyang, tetapi kebutuhan gizinya belum tentu terpenuhi. Karena itu, perencanaan menu harus berbasis ilmu gizi dan disesuaikan dengan kebutuhan kelompok sasaran.

Pentingnya pendekatan pangan lokal

Hery juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis pangan lokal dalam penyusunan menu Program Makan Bergizi Gratis. Ia menilai kebutuhan gizi dan ketersediaan pangan di setiap daerah berbeda. Oleh sebab itu, menu tidak bisa diseragamkan secara nasional tanpa mempertimbangkan konteks lokal.

“Menu makanan di Purwokerto tentu tidak bisa disamakan dengan di Sumatera atau daerah lain. Justru pangan lokal harus diangkat agar program ini efektif, diterima masyarakat, dan berkelanjutan,” katanya. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan mendukung perekonomian lokal.

Pemanfaatan pangan lokal juga mendorong kemandirian pangan daerah. Selain lebih segar dan terjangkau, pangan lokal memiliki nilai budaya yang kuat. Dengan demikian, masyarakat lebih mudah menerima dan menerapkan pola konsumsi sehat.

Optimalisasi pangan lokal dan kolaborasi lintas sektor

Hery menilai pemanfaatan pangan lokal seperti ikan, kacang-kacangan, umbi-umbian, dan pangan fermentasi masih belum optimal. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, bahan pangan tersebut bisa menjadi sumber gizi berkualitas tinggi. Inovasi dalam pengolahan menjadi kunci agar nilai gizinya semakin maksimal.

Salah satu inovasi yang ia dorong adalah pemanfaatan kacang-kacangan yang difermentasi sebagai alternatif pengganti susu sapi. “Kacang-kacangan yang dikecambahkan dan difermentasi, misalnya menjadi yoghurt nabati, memiliki protein yang lebih mudah diserap tubuh. Proses ini juga menurunkan antinutrisi dan meningkatkan antioksidan,” tambahnya.

Lebih jauh, Hery menegaskan bahwa stunting merupakan persoalan multidimensi. Penanganannya membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari perbaikan sanitasi, akses air bersih, ketahanan pangan keluarga, hingga edukasi gizi bagi ibu. Pengentasan kemiskinan juga menjadi bagian penting dari solusi.

Dengan pendekatan gizi seimbang berbasis pangan lokal dan dukungan kebijakan yang tepat, ia optimistis Indonesia mampu menurunkan angka stunting. Langkah ini diyakini dapat menyiapkan generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

Terkini