Mengenal Penyebab Gejala Dan Risiko Henti Jantung Yang Perlu Diwaspadai

Senin, 26 Januari 2026 | 14:52:35 WIB
Mengenal Penyebab Gejala Dan Risiko Henti Jantung Yang Perlu Diwaspadai

JAKARTA - Peristiwa meninggalnya publik figur Lula Lahfah pada Jumat akibat henti jantung kembali menyadarkan masyarakat bahwa kondisi ini dapat terjadi secara tiba-tiba dan tanpa banyak peringatan. 

Kejadian tersebut menimbulkan duka mendalam sekaligus menjadi pengingat bahwa henti jantung merupakan keadaan darurat medis yang dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia maupun latar belakang kesehatan sebelumnya.

Henti jantung atau sudden cardiac arrest terjadi ketika jantung mendadak berhenti memompa darah ke seluruh tubuh. Saat kondisi ini terjadi, aliran oksigen ke otak dan organ vital langsung terhenti. Tanpa pertolongan cepat, kematian dapat terjadi hanya dalam hitungan menit. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penyebab, gejala, serta faktor risiko henti jantung menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat.

Henti Jantung Sebagai Kondisi Darurat Medis

Henti jantung berbeda dengan serangan jantung, meskipun keduanya sering disalahartikan. Pada henti jantung, masalah utama terletak pada gangguan sistem listrik jantung yang membuat organ vital tersebut berhenti berdetak secara efektif. Akibatnya, tubuh kehilangan suplai darah dan oksigen secara mendadak.

Kondisi ini tergolong darurat karena membutuhkan penanganan segera, seperti resusitasi jantung paru atau penggunaan defibrillator. Tanpa tindakan cepat, risiko kerusakan otak permanen dan kematian sangat tinggi. Inilah sebabnya mengapa henti jantung menjadi salah satu penyebab kematian mendadak yang paling ditakuti.

Risiko Henti Jantung Berdasarkan Kelompok Usia

Risiko henti jantung diketahui meningkat seiring bertambahnya usia, meskipun kasus ini juga dapat terjadi pada usia muda. Perbedaan usia turut memengaruhi faktor penyebab yang mendasarinya. Dilansir dari National Heart, Lung, and Blood Institute, pada kelompok usia muda, henti jantung sering berkaitan dengan kelainan bawaan atau gangguan fungsi jantung tertentu.

Faktor genetik dan gangguan irama jantung menjadi penyebab yang paling sering ditemukan pada usia muda. Kelainan struktur jantung atau pembuluh darah koroner juga dapat meningkatkan risiko, terutama jika tidak terdeteksi sejak dini. Selain itu, peradangan jantung serta penggunaan zat atau obat-obatan tertentu turut berperan dalam memicu kondisi ini.

Sementara itu, pada kelompok usia yang lebih tua, penyakit jantung koroner menjadi penyebab utama terjadinya henti jantung. Risiko semakin tinggi pada individu yang memiliki riwayat penyakit jantung dan pembuluh darah atau gangguan fungsi jantung kronis. Faktor gaya hidup yang berlangsung lama juga ikut memperburuk kondisi jantung pada usia lanjut.

Kondisi Medis Yang Memicu Henti Jantung

Selain faktor usia, sejumlah kondisi medis lain juga dapat meningkatkan risiko henti jantung. Salah satu kondisi yang paling berbahaya adalah henti napas. Dalam banyak kasus, henti napas hampir selalu diikuti oleh henti jantung jika tidak segera ditangani.

Penyebab henti napas yang dapat berujung pada henti jantung meliputi tersedak, tenggelam, trauma atau cedera berat, overdosis obat, serta keracunan. Gangguan pernapasan berat juga dapat memicu kekurangan oksigen yang akhirnya menghentikan fungsi jantung.

Beberapa penyakit tertentu seperti pneumonia dan gangguan kejang diketahui dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius. Kondisi ini, jika tidak ditangani dengan cepat, dapat berkembang menjadi henti jantung yang fatal.

Peran Gangguan Metabolik Dalam Risiko Henti Jantung

Gangguan metabolik juga memiliki peran penting dalam meningkatkan risiko henti jantung. Penyakit seperti diabetes dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah dan sistem listrik jantung. Selain itu, ketidakseimbangan elektrolit dalam darah sangat berpengaruh terhadap irama jantung.

Perubahan kadar kalium, magnesium, dan kalsium dalam tubuh dapat mengganggu sinyal listrik jantung. Ketidakseimbangan ini dapat memicu aritmia berbahaya yang berujung pada henti jantung mendadak. Oleh karena itu, pengelolaan kondisi metabolik menjadi bagian penting dalam pencegahan.

Pengaruh Obat Dan Cedera Pada Dada

Penggunaan obat-obatan tertentu juga diketahui dapat meningkatkan risiko henti jantung. Beberapa jenis antibiotik, diuretik, dan obat jantung dapat memperburuk gangguan irama jantung, terutama jika digunakan tanpa pengawasan medis yang ketat.

Selain itu, benturan keras pada area dada kiri tepat di atas jantung dapat menyebabkan henti jantung secara mendadak. Kondisi ini sering terjadi pada olahraga dengan risiko benturan tinggi. Aktivitas seperti baseball, softball, hoki, lacrosse, sepak bola, dan olahraga kontak fisik lainnya memiliki potensi risiko tersebut.

Anak-anak, khususnya laki-laki, tercatat sebagai kelompok yang paling rentan mengalami henti jantung akibat cedera dada. Hal ini membuat pengawasan dan penggunaan alat pelindung menjadi sangat penting dalam aktivitas olahraga.

Gejala Henti Jantung Yang Perlu Diwaspadai

Mengutip dari Mayo Clinic, gejala utama henti jantung meliputi kolaps secara tiba-tiba, tidak adanya denyut nadi, tidak bernapas, serta kehilangan kesadaran. Gejala ini muncul secara mendadak dan membutuhkan pertolongan segera.

Dalam beberapa kasus, tubuh sebenarnya memberikan tanda peringatan sebelum henti jantung terjadi. Namun, gejala ini sering kali tidak disadari atau diabaikan. Tanda peringatan yang dapat muncul antara lain nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, sesak napas, tubuh terasa lemah, serta jantung berdebar cepat atau tidak teratur.

Karena henti jantung kerap terjadi tanpa tanda awal yang jelas, pemahaman terhadap faktor risiko dan gejalanya menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan. Kesadaran masyarakat, deteksi dini, serta respons cepat dapat menyelamatkan nyawa dan mengurangi risiko kematian akibat kondisi darurat ini.

Terkini