Konsumsi Gula Berlebih Picu Penyakit Serius Ini Peringatan Penting Kesehatan Masyarakat

Senin, 26 Januari 2026 | 14:52:36 WIB
Konsumsi Gula Berlebih Picu Penyakit Serius Ini Peringatan Penting Kesehatan Masyarakat

JAKARTA - Kesadaran publik terhadap pola konsumsi gula kembali menguat seiring meningkatnya kasus penyakit tidak menular di Indonesia. 

Di tengah gaya hidup modern, minuman kemasan manis sering dipilih karena praktis dan mudah ditemukan. Namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian masyarakat luas.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menilai kebiasaan mengonsumsi minuman manis dalam kemasan masih sangat umum. Banyak orang menganggapnya aman dikonsumsi setiap hari, tanpa menyadari kandungan gula yang tinggi di dalam satu botol minuman. Padahal, asupan gula berlebih dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius.

Berdasarkan pengamatan Kementerian Kesehatan, pola konsumsi ini berkontribusi terhadap meningkatnya angka diabetes dan penyakit metabolik lainnya. Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk terus mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam memilih asupan harian, terutama terkait gula.

Minuman Manis Dalam Kemasan Masih Jadi Favorit

Minuman kemasan manis menjadi bagian dari keseharian masyarakat, baik saat bekerja, beraktivitas di luar rumah, maupun sekadar melepas dahaga. Pilihan rasa yang beragam serta kemasan praktis membuat produk ini mudah diterima oleh berbagai kalangan usia.

Namun, Menteri Kesehatan mengingatkan bahwa kandungan gula dalam minuman tersebut tidak bisa dianggap sepele. “Minuman kemasan manis rata-rata mengandung 20 sampai 35 gram gula,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, Kamis (22/1/2026).

Angka tersebut mendekati batas maksimal konsumsi gula harian orang dewasa yang disarankan, yakni sekitar 50 gram. Artinya, satu botol minuman manis saja sudah hampir memenuhi separuh kebutuhan gula harian, sebelum ditambah asupan dari makanan lain.

Batas Aman Gula Harian Sering Terlampaui

Masalah muncul ketika konsumsi minuman manis tidak berdiri sendiri. Dalam satu hari, masyarakat masih mengonsumsi makanan lain yang juga mengandung gula tersembunyi, seperti camilan, kue, hingga saus dan bumbu siap saji.

Menurut Budi, kondisi ini membuat total asupan gula harian dengan mudah melampaui batas aman. Tubuh yang terus menerus menerima gula berlebih akan mengalami gangguan metabolisme, yang dalam jangka panjang berdampak pada kesehatan secara menyeluruh.

Kesadaran akan batas konsumsi gula harian masih tergolong rendah. Banyak orang tidak terbiasa membaca informasi nilai gizi pada kemasan, sehingga tidak menyadari seberapa besar gula yang masuk ke dalam tubuh setiap harinya.

Jus Kemasan Bukan Selalu Pilihan Sehat

Salah satu kesalahan umum yang masih sering terjadi adalah anggapan bahwa jus kemasan identik dengan minuman sehat. Padahal, menurut Menteri Kesehatan, kandungan gula dalam jus kemasan sering kali lebih tinggi dibandingkan buah utuh yang digunakan.

“Akibatnya, terlalu banyak gula di dalam tubuh bisa memicu diabetes, yang kerap menjadi pintu masuk berbagai masalah kesehatan serius lainnya,” kata Budi. Pernyataan ini menegaskan bahwa label sehat tidak selalu mencerminkan kandungan nutrisi sebenarnya.

Proses pengolahan jus kemasan sering menghilangkan serat alami buah, sementara gula tambahan justru meningkat. Hal ini membuat lonjakan gula darah terjadi lebih cepat dibandingkan mengonsumsi buah segar secara langsung.

Diabetes Dan Dampak Serius Bagi Tubuh

Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa diabetes sering menjadi awal dari berbagai komplikasi berat. Salah satu dampak yang paling sering terjadi adalah gangguan ginjal, yang pada tahap lanjut dapat berujung pada tindakan cuci darah.

Penyakit ginjal kronis disebut sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Banyak pasien baru menyadari kondisi ginjalnya ketika sudah memasuki tahap lanjut, sehingga pilihan pengobatan menjadi terbatas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih bukan hanya persoalan berat badan atau kadar gula darah, tetapi berkaitan langsung dengan kualitas hidup dan angka harapan hidup masyarakat.

Pentingnya Deteksi Dini Dan Cek Kesehatan

Untuk menekan risiko penyakit akibat konsumsi gula berlebih, Kementerian Kesehatan mendorong masyarakat agar lebih proaktif memeriksakan kesehatannya. Salah satu langkah yang dianjurkan adalah memanfaatkan layanan cek kesehatan gratis di puskesmas.

“Jangan tunggu sampai masalah ginjal muncul,” ujar Budi. Pemeriksaan dini dinilai sangat penting untuk mengetahui kondisi gula darah sejak awal, sebelum muncul komplikasi yang lebih serius.

Masyarakat berusia 40 tahun ke atas diminta lebih waspada terhadap risiko penyakit metabolik. Jika hasil pemeriksaan gula darah menunjukkan risiko tinggi, pemeriksaan lanjutan dianjurkan untuk memastikan kondisi ginjal secara lebih mendalam.

Budi menegaskan bahwa langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan. Dengan mengendalikan konsumsi gula dan rutin memeriksa kesehatan, masyarakat dapat menurunkan risiko penyakit serius dan menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.

Terkini