Laba BRI 2025 Capai Angka Tertinggi, Kinerja Keuangan Semakin Kuat Berkat Kredit UMKM yang Berkualitas dan Efektif

Minggu, 11 Mei 2025 | 12:05:28 WIB

JAKARTA - Di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik dan dampak perang tarif, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, yang dikenal dengan BRI, menunjukkan kinerja yang gemilang pada Triwulan I 2025. Laba bersih konsolidasian BRI tercatat mencapai Rp13,8 triliun, menunjukkan pertumbuhan yang solid meski banyak tantangan ekonomi global yang dihadapi.

Pada konferensi pers yang diselenggarakan oleh BRI, Hery Gunardi, Direktur Utama BRI, menegaskan bahwa meskipun dampak negatif dari ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif baru masih terasa, perekonomian domestik Indonesia tetap menunjukkan ketahanan, berkat konsumsi domestik yang masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini mencerminkan bagaimana BRI, meskipun menghadapi tantangan, tetap bisa mencatatkan hasil yang sangat positif.

Fokus Utama: Mendukung UMKM sebagai Penggerak Ekonomi

Dalam konferensi yang sama, BRI mengungkapkan bahwa sektor UMKM tetap menjadi perhatian utama dalam strategi bisnis perseroan. Akhmad Purwakajaya, Direktur Micro BRI, menjelaskan bahwa BRI terus memperkuat penyaluran kredit ke sektor ini, yang tercatat mencapai 81,97% dari total kredit yang disalurkan oleh bank tersebut, atau senilai Rp1.126,02 triliun. Sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia ini memiliki peran yang sangat vital dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan mendongkrak perekonomian negara.

BRI juga memperluas jangkauan layanannya dengan melibatkan lebih dari 1,2 juta agen dalam program AgenBRILink, yang tersebar di lebih dari 67.000 desa di seluruh Indonesia. Program ini membantu mempercepat inklusi keuangan dengan menyediakan layanan perbankan bagi masyarakat di daerah terpencil, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Kinerja Keuangan yang Solid Didorong oleh Penyaluran Kredit Berkualitas

Selain fokus pada UMKM, BRI berhasil menjaga kualitas portofolio kreditnya dengan baik. Mucharom, Direktur Manajemen Risiko BRI, menyampaikan bahwa meskipun penyaluran kredit terus meningkat, BRI menerapkan kebijakan manajemen risiko yang ketat. Hal ini tercermin pada perbaikan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang turun menjadi 2,97%, dari sebelumnya 3,11% di tahun lalu.

Dari sisi penyaluran kredit, BRI berhasil mencatatkan total kredit sebesar Rp1.373,66 triliun, dengan pertumbuhan sebesar 4,97% year on year (YoY). Penyaluran kredit ini diikuti dengan seleksi yang sangat hati-hati dan memprioritaskan sektor yang potensial, terutama UMKM. BRI pun berhasil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dengan kualitas kredit yang terjaga.

Peran Digitalisasi dalam Meningkatkan Layanan dan Inovasi BRI

BRI juga semakin memperkuat infrastruktur digitalnya untuk mengakomodasi kebutuhan nasabah yang terus berkembang. Melalui aplikasi BRImo, yang kini digunakan oleh lebih dari 40 juta pengguna, BRI memperluas layanan digital banking yang memudahkan nasabah melakukan transaksi secara real-time. Pencapaian transaksi 1,2 miliar dengan nilai Rp1.599 triliun pada Triwulan I 2025 menunjukkan bahwa teknologi menjadi salah satu pendorong utama dalam perkembangan bisnis BRI.

Selain itu, melalui platform pembayaran digital, QRIS dan EDC, BRI terus memperluas jangkauan transaksi non-tunai yang semakin banyak digunakan oleh masyarakat di seluruh Indonesia, dari pusat kota hingga daerah pelosok. Sebagai bukti, lebih dari 4,3 juta merchant QRIS dan 344 ribu merchant EDC kini sudah tersebar di berbagai wilayah.

Stabilitas Keuangan BRI: Likuiditas dan Permodalan yang Kuat

BRI juga memperlihatkan stabilitas keuangan yang solid. Viviana Dyah Ayu, Direktur Finance & Strategy BRI, mengungkapkan bahwa BRI berada dalam posisi yang kuat baik dari segi likuiditas maupun permodalan. Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 86,03%, sementara Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI mencapai 24,03%, yang jauh di atas batas ketentuan regulator.

“Keberhasilan ini didukung oleh strategi yang tepat dalam mengelola dana pihak ketiga dan juga berfokus pada penghimpunan dana murah (CASA), yang mencapai 65,77% dari total dana pihak ketiga,” jelas Viviana.

Dengan kondisi likuiditas yang memadai dan permodalan yang kuat, BRI memiliki ruang yang cukup untuk terus tumbuh dan menghadapi tantangan di masa depan. Keberhasilan ini menjadi modal penting bagi BRI untuk mengembangkan bisnisnya, mengoptimalkan peluang yang ada, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Optimisme BRI di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Meski menghadapi berbagai tantangan ekonomi global, Hery Gunardi menegaskan bahwa BRI tetap optimis dengan prospek masa depan. “Kami memiliki lebih dari 36.600 tenaga pemasar, lebih dari 6.000 unit kerja, dan jangkauan yang luas dari 221 juta rekening simpanan yang terus berkembang. Ini adalah kekuatan besar yang memungkinkan kami untuk terus berinovasi dan memberikan layanan terbaik bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” ungkapnya.

BRI pun menegaskan komitmennya untuk terus mendukung sektor UMKM sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Transformasi BRI menjadi universal bank yang melayani semua segmen, baik mikro, kecil, maupun korporasi besar, menjadi bagian dari langkah perseroan untuk mengoptimalkan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Terkini