Harga Emas Spot Rabu 4 Februari 2026 Pulih Usai Koreksi Tajam Global

Rabu, 04 Februari 2026 | 09:48:20 WIB
Harga Emas Spot Rabu 4 Februari 2026 Pulih Usai Koreksi Tajam Global

JAKARTA - Pasar logam mulia kembali bergerak dinamis pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, setelah mengalami tekanan hebat pada akhir pekan lalu. 

Harga emas yang sempat jatuh dari rekor tertinggi sepanjang masa mulai menunjukkan tanda pemulihan, dipicu aksi beli para investor yang memanfaatkan momentum koreksi. Kondisi ini mencerminkan bagaimana sentimen pasar global masih sangat responsif terhadap perubahan harga, nilai tukar, serta dinamika geopolitik internasional.

Pemulihan harga emas terjadi seiring meningkatnya minat investor untuk masuk kembali ke pasar setelah penurunan tajam dinilai sudah berlebihan. Selain emas, perak juga mencatatkan penguatan signifikan, menandakan kembalinya minat risiko atau risk-on di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat.

Aksi Beli Dorong Pemulihan Harga Emas

Harga emas pulih pada Selasa, 3 Februari 2026, setelah sebelumnya mengalami anjlok terdalam dalam lebih dari satu dekade. Berdasarkan laporan Bloomberg pada Rabu, 4 Februari 2026, harga emas di pasar spot sempat melonjak hingga 7,1% ke level US$4.990 per troy ounce. Kenaikan ini memulihkan sebagian besar pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Pada akhir perdagangan, harga emas tercatat naik 6,1% ke level US$4.946,49 per troy ounce. Penguatan ini menunjukkan bahwa minat beli masih cukup kuat, terutama dari pelaku pasar yang melihat koreksi harga sebagai peluang masuk. Sementara itu, pasar menilai tekanan jual ekstrem sebelumnya telah membuka ruang pemantulan teknikal.

Kondisi tersebut juga didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat yang membuat emas lebih menarik bagi investor global. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, emas tetap dipandang sebagai aset lindung nilai yang relevan.

Lonjakan Perak Ikuti Penguatan Logam Mulia

Tidak hanya emas, harga perak juga mencatatkan lonjakan tajam pada periode yang sama. Harga perak sempat melesat lebih dari 12% hingga diperdagangkan di atas US$89 per troy ounce. Pada penutupan perdagangan, perak menguat 7,04% menjadi US$84,85 per troy ounce.

Kenaikan perak mencerminkan sentimen positif yang kembali mengalir ke pasar komoditas, seiring meningkatnya selera risiko investor. Penguatan ini terjadi setelah perak mencatatkan penurunan harian terbesar dalam sejarah pada akhir pekan lalu, yang memicu kekhawatiran akan potensi pembalikan tren jangka pendek.

Reli perak dan emas sepanjang Januari sebelumnya ditopang oleh momentum spekulatif, gejolak geopolitik, serta kekhawatiran pasar terhadap independensi Federal Reserve. Namun, lonjakan tersebut terhenti mendadak setelah muncul peringatan bahwa kenaikan harga berlangsung terlalu cepat dan terlalu tinggi.

Koreksi Tajam Dinilai Sehat Jangka Panjang

Penurunan tajam harga emas dan perak pada akhir pekan lalu dipicu oleh aksi jual besar-besaran, terutama setelah posisi spekulatif di pasar mencapai level tinggi. Fund manager asal China dan investor ritel dari Barat sebelumnya membangun posisi besar melalui pembelian opsi beli dan produk ETF dengan leverage tinggi.

Arus dana tersebut memperbesar risiko pasar hingga akhirnya memicu kejatuhan mendadak pada perdagangan Asia hari Jumat, yang kemudian berlanjut hingga Senin. Meski demikian, sejumlah analis menilai koreksi ini justru memberikan dampak positif dalam jangka panjang.

Analis UBS Group AG Joni Teves menyebut koreksi harga membuka peluang bagi investor untuk membangun posisi strategis jangka panjang. “Fase ini seharusnya membuka peluang bagi investor untuk membangun posisi strategis jangka panjang pada tingkat harga masuk yang lebih atraktif,” ujarnya, seperti dikutip Bloomberg.

Optimisme Bank Besar Terhadap Prospek Emas

Mayoritas bank global masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek emas ke depan. Deutsche Bank, misalnya, menegaskan kembali proyeksinya bahwa harga emas berpotensi menguat hingga US$6.000 per ons dalam jangka menengah hingga panjang.

Peran investor China dinilai akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah pasar. Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, pusat perdagangan emas terbesar di Shenzhen dipadati pembeli yang memborong perhiasan dan emas batangan. Permintaan fisik ini menjadi penopang penting bagi harga emas global.

Namun, pasar China dijadwalkan tutup lebih dari sepekan mulai 16 Februari. Di sisi lain, bank-bank milik negara di China memperketat pengawasan terhadap investasi emas guna meredam volatilitas yang berlebihan di pasar domestik.

Sentimen Global Dan Faktor Geopolitik

Analis Bloomberg Intelligence Garfield Reynolds menilai penurunan tajam harga emas dalam tiga hari terakhir merupakan koreksi yang telah lama dinantikan pasar. Meski demikian, ia menilai faktor fundamental yang menopang tren kenaikan jangka panjang masih tetap kuat.

“Dengan minimnya kemungkinan terjadinya siklus pengetatan kebijakan moneter global secara agresif, serta masih membayangi risiko geopolitik, pergerakan harga logam mulia berpeluang kembali menguat secara moderat dan bertahap,” ujar Garfield.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk hubungan Amerika Serikat dan Iran. Presiden Donald Trump menyatakan adanya peluang pembicaraan terkait kesepakatan nuklir baru dalam waktu dekat. Jika tercapai terobosan diplomatik, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai berpotensi berkurang.

Harga Emas Kembali Tembus US$5.000

Pada perdagangan pagi hari, harga emas kembali melampaui level psikologis US$5.000 per troy ounce. Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 08.23 WIB, harga emas di pasar spot menguat 1,7% ke level US$5.033,21 per troy ounce. Sementara itu, emas berjangka di bursa Comex AS naik 2,62% ke level US$5.067,5 per troy ounce.

Penguatan ini melanjutkan reli lebih dari 6% pada sesi sebelumnya dan didorong oleh aksi beli lanjutan saat harga masih berada di bawah rekor tertinggi. Hingga penutupan perdagangan Selasa, harga emas masih sekitar 12% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat pada 29 Januari, meski secara tahunan tetap menguat hampir 15%.

Analis komoditas senior TD Securities Daniel Ghali menyatakan bahwa penjualan paksa di pasar logam mulia kemungkinan telah mencapai titik akhir. Namun, ia juga mengingatkan bahwa volatilitas ekstrem dalam sepekan terakhir dapat membuat investor ritel bersikap lebih berhati-hati dan memilih menunggu perkembangan selanjutnya.

Terkini