Rantai Pasok Lokal Menjadi Fondasi Daya Saing Industri Komponen Otomotif Indonesia

Rabu, 04 Februari 2026 | 13:10:18 WIB
Rantai Pasok Lokal Menjadi Fondasi Daya Saing Industri Komponen Otomotif Indonesia

JAKARTA - Satu unit mobil yang melaju di jalan raya sejatinya adalah hasil kerja ribuan komponen yang saling terhubung. 

Di balik performa kendaraan, terdapat sistem kompleks yang melibatkan baut kecil, sensor presisi, hingga perangkat besar seperti transmisi dan sistem keselamatan.

Setiap kendaraan modern tersusun dari sekitar 25.000 komponen. Jumlah tersebut menegaskan bahwa industri otomotif bukan sekadar soal pabrikan kendaraan, melainkan ekosistem besar yang sangat bergantung pada kekuatan rantai pasok.

Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor menegaskan bahwa produksi satu kendaraan melibatkan jaringan pemasok luas, bahkan ditopang sekitar 4.000 perusahaan dalam ekosistem otomotif. Kinerja pabrikan pun sangat ditentukan oleh stabilitas dan kualitas rantai pasok tersebut.

Di Indonesia, ekosistem ini berkembang melalui proses panjang yang kini mulai menunjukkan hasil nyata.

Jejak panjang penguatan rantai pasok otomotif nasional

Empat dekade lalu, industri otomotif Indonesia masih sangat bergantung pada komponen impor. Seiring waktu, arah kebijakan mulai mendorong penguatan pemasok lokal sebagai fondasi industri kendaraan.

Pada awal 1970-an, pemerintah memperkenalkan program Kendaraan Bermotor Niaga Sederhana yang mendorong peningkatan kandungan lokal. Kebijakan tersebut diperkuat melalui Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 307 Tahun 1976 tentang Lokalisasi Komponen.

Selain itu, terbit pula SK Nomor 167 Tahun 1979 tentang Percepatan Lokalisasi Komponen dengan Cara Penanggalan atau deletion program. Langkah ini mendorong pabrikan kendaraan membangun basis pemasok dalam negeri.

Dari fase perakitan sederhana, industri komponen tumbuh menuju manufaktur dengan tingkat kompleksitas yang terus meningkat.

Ekosistem pemasok makin padat dan berlapis

Ukuran kekuatan industri komponen dapat dilihat dari besarnya jaringan pemasok. GIAMM saat ini menaungi sekitar 250 perusahaan komponen, yang sebagian besar berskala kecil dan menengah.

Di luar itu, jumlah pemasok otomotif di Indonesia mencapai lebih dari 1.500 perusahaan. Ekosistem ini menjadi tulang punggung industri kendaraan nasional.

Data GIAMM juga mencatat sektor otomotif menyerap sekitar 1,5 juta tenaga kerja dan berkontribusi sekitar 8 persen terhadap produk domestik bruto manufaktur. Angka tersebut menunjukkan bahwa industri komponen berdampak langsung pada struktur ekonomi nasional.

Karena itu, daya saing otomotif tidak cukup diukur dari penjualan domestik semata, tetapi juga dari kinerja ekspor.

Ekspor kendaraan menguat di tengah penyesuaian pasar domestik

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat ekspor kendaraan buatan Indonesia menguat sepanjang 2025. Ekspor mobil dalam kondisi utuh mencapai 518.212 unit selama Januari hingga Desember 2025.

Angka ini meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat 472.194 unit, atau tumbuh sekitar 9,7 persen secara tahunan. Capaian ini memperlihatkan peran ekspor sebagai penopang industri.

Bagi industri komponen, kenaikan ekspor CBU menandakan permintaan pasokan yang stabil dan konsisten. Standar kualitas dan ketepatan produksi pun semakin tinggi mengikuti kebutuhan pasar global.

Data Kementerian Koordinator Perekonomian menunjukkan produksi kendaraan roda empat pada 2024 mencapai 1.196.464 unit, dengan wholesales 865.723 unit, menegaskan pentingnya ekspor di tengah fase penyesuaian pasar domestik.

Ekspor CKD tumbuh, komponen hadapi dinamika berbeda

Selain kendaraan utuh, ekspor kendaraan dalam bentuk completely knocked down juga meningkat. Pada 2025, ekspor CKD tercatat 63.263 set, naik dari 46.311 set pada 2024.

Pertumbuhan sekitar 36,6 persen ini menegaskan posisi Indonesia sebagai basis produksi yang semakin diperhitungkan. Penguatan tersebut berjalan seiring dengan kebutuhan komponen yang konsisten.

Namun, ekspor komponen secara volume justru menurun. Pada 2025, ekspor komponen mencapai 141.912.643 pieces, turun sekitar 7,3 persen dibandingkan 2024.

Meski demikian, GIAMM mencatat nilai ekspor komponen pada 2024 mencapai sekitar 7,5 miliar dollar AS, dengan impor sekitar 6,9 miliar dollar AS, sehingga Indonesia tetap menjadi net eksportir.

Pabrikan besar berperan sebagai jangkar ekosistem

Di tengah ekosistem tersebut, pabrikan besar berfungsi sebagai jangkar kualitas dan efisiensi rantai pasok. Toyota menjadi salah satu contoh dengan membangun basis manufaktur komponen sejak 1976 dan 1982.

Sekitar 80 persen komponen kendaraan Toyota di Indonesia berasal dari pemasok lokal yang memenuhi standar The Toyota Way dan Toyota Production System. Pemasok diposisikan sebagai mitra strategis.

Melalui Toyota Manufacturers Club, Toyota membina ratusan pemasok lewat pelatihan dan Kaizen Festival. Program Jishuken juga diterapkan untuk menanamkan prinsip Just in Time dan Jidoka.

Pendekatan ini membentuk budaya efisiensi dan kendali kualitas hingga ke tingkat pemasok.

Tantangan lokalisasi dan era elektrifikasi kendaraan

Meski berkembang, GIAMM menilai kedalaman lokalisasi Indonesia masih sekitar 55 persen. Komponen bernilai tambah tinggi seperti elektronik, sistem keselamatan, dan infotainment masih bergantung pada impor.

Tantangan semakin besar dengan masuknya era elektrifikasi. Pada kendaraan hybrid dan listrik, komponen kunci seperti baterai, motor listrik, dan power control unit masih didominasi impor.

GIAMM mendorong stimulus jangka pendek melalui kebijakan PPnBM atau PPN-DTP berbasis kandungan lokal. Untuk jangka panjang, insentif investasi diarahkan agar teknologi elektrifikasi dapat dilokalisasi.

Targetnya, kandungan lokal dapat meningkat hingga 80 persen agar manfaat kebijakan kembali ke industri komponen domestik dan memperkuat daya saing nasional.

Terkini