Prodia Perluas Layanan Genetika Nasional Lewat Program WES Gratis Penyakit Langka

Jumat, 06 Februari 2026 | 15:56:25 WIB
Prodia Perluas Layanan Genetika Nasional Lewat Program WES Gratis Penyakit Langka

JAKARTA - Upaya memperluas akses layanan kesehatan presisi di Indonesia terus bergulir seiring meningkatnya perhatian terhadap penyakit langka. 

Di tengah tantangan keterbatasan diagnosis dan mahalnya pemeriksaan genetik, PT Prodia Widyahusada Tbk mengambil langkah konkret melalui program tanggung jawab sosial perusahaan yang menyasar pemeriksaan Whole Exome Sequencing. Program ini menjadi pintu masuk bagi banyak keluarga untuk mendapatkan kepastian diagnosis yang selama ini sulit dijangkau.

PT Prodia Widyahusada Tbk memperkuat perannya di layanan diagnostik berbasis genetika melalui program CSR pemeriksaan Whole Exome Sequencing gratis bagi orang dengan penyakit langka. Program tersebut digelar bersama Indonesia Rare Disorder dan telah berjalan sejak Februari 2025, dengan fokus membantu pasien memperoleh diagnosis yang lebih akurat dan berbasis bukti ilmiah.

Komitmen Akses Diagnosis Penyakit Langka

Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengatakan inisiatif pemeriksaan Whole Exome Sequencing ini ditujukan untuk memperluas akses diagnosis yang akurat bagi orang dengan penyakit langka. Selain itu, program ini juga mendorong pentingnya deteksi dini serta pendampingan yang tepat bagi pasien dan keluarganya sejak awal perjalanan penyakit.

“Melalui kegiatan CSR pemeriksaan Whole Exome Sequencing (WES) ini, Prodia berupaya memperluas akses terhadap diagnosis yang akurat bagi Odalangka serta mendorong pemahaman akan pentingnya deteksi dini dan pendampingan yang tepat,” ujar Dewi dalam siaran pers, Kamis (5/2/2026). Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari kontribusi Prodia dalam mendukung sistem kesehatan yang lebih inklusif.

Manfaat Nyata Bagi Pasien Dan Keluarga

Sejak dijalankan, program WES tersebut telah memberikan manfaat penegakan diagnosis bagi 36 anak dengan penyakit langka yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Angka ini mencerminkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan diagnostik genetika yang selama ini masih terbatas dari sisi akses maupun biaya.

Dengan adanya hasil pemeriksaan genetik, keluarga pasien memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi medis yang dihadapi. Kepastian diagnosis ini membantu dokter dan tenaga kesehatan menentukan tata laksana yang lebih tepat, sekaligus memberi arah bagi keluarga dalam memahami prognosis dan perawatan jangka panjang.

Edukasi Genetik Jadi Bagian Program

Selain pemaparan hasil program, kegiatan CSR ini juga diisi dengan talkshow edukasi yang membahas peran pemeriksaan genetik dan konseling dalam tata laksana penyakit langka. Edukasi tersebut menjadi elemen penting untuk meningkatkan literasi kesehatan, khususnya terkait genetika yang masih relatif baru bagi sebagian masyarakat.

Melalui sesi diskusi, peserta mendapatkan pemahaman bahwa pemeriksaan genetik tidak hanya berfungsi sebagai alat diagnosis, tetapi juga sebagai dasar pengambilan keputusan medis. Konseling genetik dinilai krusial agar hasil pemeriksaan dapat dipahami dengan baik dan dimanfaatkan secara optimal oleh pasien serta keluarga.

Apresiasi Dari Kementerian Kesehatan

Direktur Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengapresiasi kontribusi Prodia dalam menyediakan pemeriksaan Whole Exome Sequencing sekaligus edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, inisiatif tersebut sejalan dengan upaya pemerintah membangun paradigma kesehatan yang lebih promotif dan preventif.

Pemeriksaan genetik dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung deteksi dini penyakit langka. Dengan diagnosis yang lebih cepat dan akurat, potensi komplikasi dapat ditekan, serta kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan. Kolaborasi dengan sektor swasta seperti yang dilakukan Prodia dianggap penting untuk menjangkau lebih banyak masyarakat.

Kolaborasi Lintas Sektor Dinilai Penting

Ketua The Indonesian Society of Human Genetics (InaSHG) Prof. dr. Gunadi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas dalam memperluas akses diagnosis dini serta konseling genetik di Indonesia. Menurutnya, penyakit langka memerlukan pendekatan lintas disiplin yang tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja.

Ia menilai program WES gratis ini sebagai contoh konkret sinergi yang dapat direplikasi di masa depan. Dengan melibatkan komunitas pasien, tenaga medis, serta institusi diagnostik, layanan genetika dapat menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini kurang terlayani.

Dampak Positif Bagi Komunitas Pasien

Ketua komunitas Indonesia Rare Disorder, Yola Tsagia, menyebut program CSR Prodia memberikan dampak signifikan, baik dari sisi akurasi diagnosis maupun pemahaman keluarga pasien. Banyak keluarga yang sebelumnya mengalami ketidakpastian akhirnya mendapatkan kejelasan mengenai kondisi yang dialami anak mereka.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif dan komitmen Prodia melalui program CSR ini, karena membantu memperluas akses pemeriksaan genetik serta memberikan pemahaman bagi keluarga terkait proses diagnosis dan perawatan ke depan,” ujarnya. Menurut Yola, kepastian diagnosis juga membantu keluarga membangun kesiapan mental dan rencana perawatan yang lebih terarah.

Kelanjutan Inisiatif CSR Genetika Prodia

Program WES ini melanjutkan inisiatif CSR Prodia sebelumnya di bidang genetika, seperti pemeriksaan Chromosomal Microarray Analysis yang telah dijalankan sejak 2019 dan 2023. Rangkaian program tersebut menunjukkan konsistensi Prodia dalam mengembangkan layanan diagnostik genetika sebagai bagian dari kontribusi sosial perusahaan.

Melalui pendekatan berkelanjutan ini, Prodia berupaya mendukung ekosistem kesehatan nasional dalam menghadapi tantangan penyakit langka. Dengan memperluas akses, meningkatkan edukasi, dan mendorong kolaborasi, program CSR WES diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan layanan genetika yang lebih merata dan berkelanjutan di Indonesia.

Terkini