Harga Minyak Dunia Turun Tajam Dipicu Meredanya Ketegangan Amerika Serikat Iran Global

Senin, 09 Februari 2026 | 13:04:39 WIB
Harga Minyak Dunia Turun Tajam Dipicu Meredanya Ketegangan Amerika Serikat Iran Global

JAKARTA - Pembukaan perdagangan awal pekan membawa sentimen berbeda bagi pasar energi global. 

Harga minyak dunia langsung bergerak melemah lebih dari satu persen pada Senin, 9 Februari 2026. Penurunan ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik berskala besar di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, setelah kedua negara menyelesaikan satu putaran pembicaraan diplomatik pada akhir pekan lalu.

Pelaku pasar menilai perkembangan dialog tersebut memberi sinyal penurunan risiko geopolitik jangka pendek. Sebelumnya, eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah kerap menjadi faktor utama yang menopang harga minyak. Namun, ketika sinyal diplomasi kembali menguat, harga pun merespons dengan koreksi cukup dalam di awal perdagangan global.

Harga Brent dan WTI Sama-Sama Terkoreksi

Mengutip data dari Investing.com, harga minyak mentah Brent tercatat turun 89 sen atau sekitar 1,31 persen. Harga komoditas acuan internasional tersebut berada di level USD67,16 per barel pada pembukaan perdagangan. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya premi risiko yang selama beberapa pekan terakhir membayangi pasar minyak.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat juga mengalami tekanan serupa. Harga WTI berada di posisi USD62,76 per barel, turun 79 sen atau sekitar 1,24 persen. Pergerakan searah kedua kontrak utama ini menunjukkan bahwa sentimen global menjadi faktor dominan yang memengaruhi pasar.

Analis menilai, tanpa adanya kekhawatiran langsung akan gangguan pasokan akibat konflik bersenjata, pasar cenderung fokus pada faktor fundamental lain seperti permintaan global dan kebijakan produksi negara-negara produsen utama.

Dialog Nuklir AS dan Iran Mulai Berjalan

Meredanya ketegangan dipicu oleh pernyataan pejabat tinggi Iran terkait perkembangan pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat. Diplomat utama Iran menyampaikan bahwa pembicaraan tidak langsung yang dimediasi oleh Oman telah dimulai dengan “baik” dan akan dilanjutkan pada tahap berikutnya.

Pernyataan tersebut memberi angin segar bagi pasar yang sebelumnya khawatir kegagalan diplomasi dapat mendorong kawasan Timur Tengah ke arah konflik terbuka. Selama beberapa bulan terakhir, ancaman eskalasi militer antara kedua negara kerap memicu volatilitas harga minyak.

Dengan dimulainya dialog, pelaku pasar melihat adanya peluang stabilisasi situasi geopolitik. Kondisi ini dinilai cukup untuk menekan spekulasi kenaikan harga minyak dalam jangka pendek, meskipun ketidakpastian jangka menengah masih tetap ada.

Ancaman Militer Masih Membayangi Diplomasi

Meski dialog nuklir menunjukkan sinyal positif, nada keras tetap muncul dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa negaranya akan menyerang pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah apabila diserang oleh pasukan AS yang telah berkumpul di kawasan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Teheran dan Washington sama-sama berjanji melanjutkan pembicaraan nuklir tidak langsung. Kedua pihak menggambarkan diskusi di Oman sebagai pembahasan yang positif, meski belum menghasilkan kesepakatan konkret.

Bagi pasar minyak, pernyataan Araqchi menunjukkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Ancaman militer masih menjadi faktor yang dapat sewaktu-waktu mengubah arah pergerakan harga jika situasi kembali memanas.

Peluang Lanjutan Negosiasi Masih Terbuka

Araqchi menyebutkan bahwa hingga kini belum ada tanggal pasti untuk putaran negosiasi berikutnya. Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal bahwa pertemuan lanjutan dapat berlangsung pada awal pekan depan.

“Kami dan Washington percaya bahwa pertemuan itu harus segera diadakan,” kata Araqchi. Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa kedua negara masih membuka ruang dialog meskipun tensi politik tetap tinggi.

Bagi pelaku pasar energi, keberlanjutan pembicaraan menjadi faktor penting. Setiap kemajuan diplomatik berpotensi menurunkan risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, yang selama ini menjadi salah satu wilayah kunci produksi global.

Tuntutan AS dan Sikap Tegas Teheran

Presiden Trump sebelumnya mengancam akan menyerang Iran setelah peningkatan kekuatan angkatan laut AS di kawasan Timur Tengah. Washington menuntut agar Iran menghentikan pengayaan uranium, yang dinilai sebagai jalur potensial menuju pengembangan bom nuklir.

Selain itu, AS juga menekan Iran untuk menghentikan pengembangan rudal balistik serta dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Tuntutan tersebut menjadi bagian dari tekanan politik dan ekonomi yang telah berlangsung lama.

Di sisi lain, Teheran secara konsisten membantah niat untuk mempersenjatai produksi bahan bakar nuklir. Iran menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai, meski klaim tersebut kerap diperdebatkan oleh negara-negara Barat.

Batasan Dialog Jadi Catatan Pasar

Meski kedua pihak menunjukkan kesiapan menghidupkan kembali diplomasi, Abbas Araqchi menegaskan bahwa pembicaraan dengan AS memiliki batasan yang jelas. Ia menolak memperluas ruang lingkup dialog di luar isu nuklir.

“Dialog apa pun membutuhkan pengekangan dari ancaman dan tekanan. (Teheran) hanya membahas masalah nuklirnya. Kami tidak membahas masalah lain dengan AS,” katanya.

Bagi pasar minyak, pernyataan ini menunjukkan bahwa proses diplomasi kemungkinan berjalan panjang dan penuh dinamika. Selama belum ada kesepakatan komprehensif, volatilitas harga masih berpotensi terjadi. Namun untuk saat ini, meredanya kekhawatiran konflik terbuka sudah cukup mendorong harga minyak dunia terkoreksi di awal pekan perdagangan global.

Terkini