Harga Minyak Dunia Naik 0,4 Persen Dipicu Negosiasi Nuklir AS Iran

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:27:03 WIB
Harga Minyak Dunia Naik 0,4 Persen Dipicu Negosiasi Nuklir AS Iran

JAKARTA - Pergerakan harga minyak kembali menjadi sorotan pelaku pasar global setelah mencatatkan kenaikan tipis pada perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis WIB. 

Kenaikan ini terjadi di tengah dinamika geopolitik yang masih berkembang, khususnya terkait pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Meski tidak melonjak signifikan, sinyal positif dari jalannya negosiasi memberi sentimen tersendiri bagi pasar energi. Investor pun mencermati setiap perkembangan yang berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan global.

Mengutip Yahoo Finance, Kamis, 19 Februari 2026, harga minyak mentah Brent berjangka sebagai patokan internasional untuk kontrak beli atau jual di masa depan, naik 0,4 persen menjadi USD67,66 per barel. 

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai harga patokan untuk pasar domestik AS, naik dengan jumlah yang sama persis, yaitu 0,4 persen, menjadi USD62,48. Kenaikan yang relatif terbatas ini mencerminkan sikap hati-hati investor dalam merespons perkembangan terbaru. Pasar masih menimbang peluang kemajuan negosiasi dengan potensi risiko pasokan yang ada.

Optimisme yang muncul dari pernyataan pejabat Amerika Serikat memberi dorongan psikologis terhadap harga minyak. Namun, absennya terobosan besar dalam pembicaraan membuat kenaikan tersebut tidak berlangsung agresif. 

Investor tetap mempertimbangkan berbagai skenario, termasuk kemungkinan ketegangan baru yang dapat memicu gangguan distribusi energi. Situasi ini membuat pergerakan harga cenderung stabil dalam rentang terbatas. Dinamika geopolitik tetap menjadi faktor dominan dalam pembentukan harga.

Komentar Wakil Presiden AS Jadi Perhatian Pasar

Perhatian pasar tertuju pada komentar Wakil Presiden AS JD Vance yang menyampaikan perkembangan terbaru negosiasi. Ia mengatakan putaran kedua pembicaraan dengan Iran berlangsung produktif dalam beberapa aspek. 

Meski demikian, Teheran disebut belum bersedia membahas sejumlah 'garis merah' yang telah ditetapkan Presiden AS Donald Trump. Pernyataan tersebut menjadi indikator penting bagi pelaku pasar energi global.

"Kepentingan utama kami di sini adalah kami tidak ingin Iran mendapatkan senjata nuklir," kata Wakil Presiden AS JD Vance dalam sebuah wawancara dengan Fox News. 

Ucapan ini menegaskan posisi Amerika Serikat dalam perundingan yang tengah berlangsung. Sikap tegas tersebut dinilai dapat memengaruhi arah negosiasi berikutnya. Pasar merespons dengan mencermati peluang tercapainya kesepakatan yang berimbas pada sanksi energi.

Meski ada nada optimistis, belum adanya kesepakatan konkret membuat pelaku pasar bersikap waspada. Investor menyadari bahwa proses diplomasi kerap berjalan panjang dan penuh dinamika. Setiap pernyataan resmi dari pejabat tinggi dapat memicu volatilitas harga dalam waktu singkat. 

Oleh karena itu, reaksi pasar cenderung moderat sembari menunggu perkembangan lanjutan. Faktor geopolitik tetap menjadi variabel utama dalam pergerakan harga minyak saat ini.

Kemajuan Negosiasi di Jenewa

Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara tim Amerika Serikat dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff. 

Araghchi menyatakan bahwa pembicaraan yang berlangsung di Jenewa menunjukkan adanya kemajuan. Ia bahkan menggambarkan suasana pertemuan tersebut sebagai lebih konstruktif dibanding sebelumnya. Pernyataan ini memberi sinyal positif bagi stabilitas kawasan dan pasar energi.

"Telah diputuskan bahwa kedua belah pihak akan mengerjakan draf perjanjian potensial, dan setelah bertukar teks. Waktu putaran pembicaraan selanjutnya akan ditentukan," jelas dia. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses negosiasi masih terus berjalan dan memasuki tahap penyusunan draf. Meski belum menghasilkan kesepakatan final, langkah ini dianggap sebagai perkembangan berarti. Pasar pun memantau setiap detail yang dapat memengaruhi kebijakan energi global.

Kesepahaman awal yang dicapai belum menjamin kesepakatan akan segera terwujud. Araghchi menegaskan bahwa masih ada tahapan lanjutan sebelum hasil akhir dapat dipastikan. 

Proses ini membutuhkan kompromi dari kedua belah pihak terkait isu sensitif. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam mengambil posisi. Harga minyak pun bergerak dalam batas kenaikan yang relatif tipis.

Dampak Strategis terhadap Pasokan Global

Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran dipantau ketat oleh pasar energi global. Iran merupakan salah satu produsen minyak utama yang memiliki peran penting dalam rantai pasokan dunia. Selain itu, negara tersebut berada di jalur strategis Selat Hormuz. Jalur air sempit ini dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya.

Setiap potensi gangguan di kawasan tersebut dapat memicu lonjakan harga secara signifikan. Karena itu, perkembangan negosiasi nuklir memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas pasokan energi. Investor mempertimbangkan kemungkinan pelonggaran sanksi jika kesepakatan tercapai. Sebaliknya, kegagalan pembicaraan berisiko memperpanjang ketidakpastian geopolitik.

Dalam konteks inilah kenaikan harga minyak sebesar 0,4 persen dipandang sebagai refleksi sikap menunggu pasar. Sentimen positif memang muncul, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong reli besar. Pasar global masih menunggu kejelasan arah diplomasi kedua negara. Hingga ada keputusan konkret, pergerakan harga diperkirakan tetap sensitif terhadap setiap pernyataan resmi.

Terkini