Lafal Niat Puasa dan Doa Berbuka Ramadan Lengkap Arab Artinya

Jumat, 20 Februari 2026 | 11:34:12 WIB
Lafal Niat Puasa dan Doa Berbuka Ramadan Lengkap Arab Artinya

JAKARTA - Ramadan selalu menghadirkan dua momen penting yang dinantikan setiap hari, yakni sahur dan berbuka puasa. 

Di antara keduanya, terdapat rangkaian ibadah yang bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud ketaatan seorang Muslim kepada Allah SWT. Puasa dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat sebagai fondasi utamanya. Tanpa niat, ibadah puasa tidak memiliki landasan yang sah.

Umat Islam memulai ibadah puasa di bulan Ramadan dengan melaksanakan makan sahur dan berbuka. Teknisnya makan sahur dilakukan sebelum terbit fajar dan berbuka saat terbenam matahari. Penentuan waktu ini menjadi batas tegas antara dimulainya dan berakhirnya kewajiban menahan diri.

Menjelang imsak, masyarakat mempersiapkan hidangan sahur secukupnya. Suasana dini hari terasa berbeda karena diisi dengan aktivitas ibadah dan kebersamaan keluarga. Setelah santap sahur, umat Islam melafalkan niat puasa sebagai bentuk kesungguhan menjalankan kewajiban di bulan suci Ramadan.

Niat menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan menahan lapar biasa. Dalam ajaran Islam, niat terletak di dalam hati, namun melafalkannya membantu meneguhkan tekad. Dengan niat yang jelas, puasa yang dijalankan memiliki nilai ibadah yang sempurna. Berikut lafal niat puasa Ramadan sebagaimana yang telah diajarkan.

Lafal niat puasa Ramadan

Adapun lafal niat puasa sebagaimana yang Anda tuliskan adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu sauma radin 'an adai fardhi syahri ramadhana hazihissanati lillahitaala.

Artinya: Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala.

Lafal tersebut dibaca setelah sahur dan sebelum masuk waktu Subuh. Meski niat cukup di dalam hati, pelafalan ini menjadi tradisi yang menguatkan kesadaran beribadah. Setiap Muslim dianjurkan menghadirkan keikhlasan dalam mengucapkannya.

Makna niat dalam ibadah puasa

Niat bukan hanya rangkaian kata, tetapi pernyataan komitmen spiritual. Dengan niat, seseorang menegaskan bahwa puasanya dilakukan semata-mata karena Allah Ta’ala. Hal ini membedakan puasa sebagai ibadah dari sekadar aktivitas menahan makan dan minum.

Keikhlasan menjadi inti dari bacaan niat tersebut. Ketika niat diucapkan dengan kesadaran penuh, hati akan lebih siap menjalani puasa seharian. Kekuatan niat juga membantu menjaga konsistensi dalam menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Selain itu, niat mengingatkan bahwa puasa Ramadan adalah kewajiban fardhu. Penegasan kata “fardhi syahri ramadhana” menunjukkan bahwa ibadah ini memiliki kedudukan yang sangat penting. Dengan demikian, setiap Muslim diharapkan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab.

Momentum berbuka puasa

Setelah menjalani puasa sepanjang hari, umat Islam kemudian menantikan waktu berbuka saat azan Magrib berkumandang. Berbuka puasa menjadi momen penuh syukur atas nikmat dan kekuatan yang diberikan. Rasa lapar dan dahaga yang ditahan sejak pagi terbayar dengan kebahagiaan sederhana saat waktu berbuka tiba.

Berbuka bukan hanya soal menyantap makanan dan minuman. Ia juga menjadi waktu yang dianjurkan untuk berdoa, karena termasuk salah satu waktu mustajab. Dalam suasana haru dan syukur, doa berbuka dilafalkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

Doa berbuka puasa yang dibaca adalah:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Allahumma lakasumtu wabika amantu wa'ala rizqika aftartu birahmatika ya arhamarrahimin.

Doa tersebut mengandung pengakuan bahwa puasa dilakukan karena Allah dan berbuka pun atas rezeki yang diberikan-Nya. Kalimat ini menegaskan ketergantungan manusia sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Setiap tegukan air dan suapan makanan menjadi wujud rasa syukur.

Nilai kebersamaan dalam sahur dan berbuka

Momentum sahur dan berbuka puasa di bulan Ramadan tidak hanya menjadi rutinitas ibadah, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, kesabaran, serta rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga berkumpul di meja makan, saling mengingatkan waktu imsak dan Magrib. Suasana ini menciptakan kedekatan emosional yang jarang ditemukan di bulan-bulan lain.

Kesabaran yang dilatih sejak fajar hingga Magrib membentuk karakter yang lebih tenang dan terkendali. Proses menahan diri mengajarkan empati kepada mereka yang kekurangan. Nilai sosial puasa pun terasa semakin nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Rasa syukur juga tumbuh dari pengalaman sederhana selama berpuasa. Seteguk air saat berbuka terasa begitu berharga setelah seharian menahan dahaga. Dari sini, umat Islam belajar menghargai nikmat yang sering kali dianggap biasa.

Dengan memahami lafal niat puasa dan doa berbuka secara benar, ibadah Ramadan menjadi lebih bermakna. Setiap hari dimulai dengan niat yang tulus dan diakhiri dengan doa penuh syukur. Inilah rangkaian spiritual yang menjadikan Ramadan sebagai bulan istimewa.

Pada akhirnya, niat dan doa bukan sekadar bacaan, melainkan penguat hubungan antara hamba dan Tuhannya. Melalui sahur dan berbuka, seorang Muslim menjalani proses pembelajaran spiritual yang mendalam. Ramadan pun menjadi waktu terbaik untuk memperbarui komitmen iman dan memperbanyak amal kebaikan.

Terkini