Tiket Arus Balik Lebaran 2026 Kereta Api Daop 7 Madiun Nyaris Habis

Jumat, 20 Februari 2026 | 12:30:39 WIB
Tiket Arus Balik Lebaran 2026 Kereta Api Daop 7 Madiun Nyaris Habis

JAKARTA - Gelombang kepulangan setelah Hari Raya Idul Fitri 2026 mulai membentuk antrean panjang pemesanan tiket kereta api di wilayah operasional PT Kereta Api Indonesia Daop 7 Madiun. 

Alih-alih didominasi arus mudik, lonjakan justru terjadi pada fase arus balik ketika masyarakat kembali ke kota tempat bekerja. Situasi ini membuat ketersediaan kursi untuk jadwal tertentu semakin terbatas.

Tiket perjalanan arus balik Lebaran 2026 dari stasiun-stasiun di wilayah Daop 7 Madiun dilaporkan nyaris habis terjual. Tingginya permintaan terlihat jelas pada periode setelah Idul Fitri, seiring kebutuhan mobilitas masyarakat yang ingin kembali beraktivitas. Kondisi tersebut menunjukkan pergerakan penumpang lebih terkonsentrasi pada masa pasca Lebaran.

Lonjakan Permintaan Pasca Lebaran

Manajer Humas PT KAI Daop 7 Madiun, Tohari, menjelaskan bahwa peningkatan volume penumpang terjadi pada rentang H+1 hingga H+10. “Volume keberangkatan tertinggi terjadi pada periode pasca Lebaran (H+1 hingga H+10) dengan tingkat okupansi mencapai 80 persen hingga lebih dari 100 persen, terutama menuju kota-kota besar,” ujar Tohari dalam pernyataan tertulisnya, Kamis 19 Februari 2026.

Hari Raya Idul Fitri 2026 sendiri diperkirakan jatuh pada Jumat dan Sabtu, 20–21 Maret 2026. Setelah tanggal tersebut, arus perjalanan kembali ke kota-kota besar meningkat signifikan. Permintaan tiket melonjak terutama dari masyarakat yang kembali ke pusat-pusat ekonomi untuk melanjutkan pekerjaan.

Hingga Kamis malam, tiket perjalanan arus balik dari stasiun wilayah Daop 7 Madiun yang masih tersedia tercatat kurang dari 20 persen. Sebagian besar kursi telah dipesan untuk jadwal setelah Lebaran. Data ini menegaskan bahwa fase arus balik menjadi periode paling padat dalam siklus perjalanan tahun ini.

Perbandingan Arus Mudik dan Arus Balik

Berbeda dengan situasi setelah Lebaran, periode sebelum Hari Raya yakni 11 hingga 19 Maret 2026 justru menunjukkan tingkat okupansi yang relatif rendah. Rata-rata volume penumpang masih berada di bawah 50 persen dari kapasitas harian yang tersedia. Pola ini memperlihatkan bahwa masyarakat cenderung memilih bepergian mendekati atau setelah hari perayaan.

Kondisi tersebut memperlihatkan konsentrasi perjalanan yang lebih besar pada arus balik dibanding arus mudik. Hal ini berdampak langsung pada ketersediaan kursi yang semakin terbatas untuk jadwal-jadwal favorit. Penumpang yang tidak merencanakan perjalanan lebih awal berpotensi kesulitan mendapatkan tiket.

“Kami mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan tanggal-tanggal dengan okupansi yang masih rendah, khususnya pada periode 11 hingga 19 Maret,” kata Tohari. Imbauan ini ditujukan agar distribusi penumpang lebih merata dan kepadatan dapat ditekan.

Masa Angkutan Lebaran 2026 ditetapkan berlangsung selama 22 hari, mulai 11 Maret hingga 1 April 2026. Dalam rentang waktu tersebut, PT KAI Daop 7 Madiun menyediakan total 80.124 tempat duduk untuk keberangkatan dari stasiun-stasiun di wilayah operasionalnya.

Data Penjualan dan Kapasitas Kursi

Dari total kapasitas tersebut, hingga Kamis malam tercatat 55.147 tiket telah terjual atau sekitar 69 persen. Mayoritas tiket yang laku berasal dari jadwal keberangkatan pada 22 Maret hingga 1 April 2026. Rentang tanggal ini bertepatan dengan periode arus balik yang paling diminati.

“Dari 69 persen itu mayoritas tiket perjalanan untuk keberangkatan tanggal 22 Maret hingga 1 April 2026 atau periode arus balik,” imbuhnya. Pernyataan ini menegaskan dominasi fase kepulangan dalam penjualan tiket Lebaran tahun ini.

Jika menghitung pula tiket kereta api jarak jauh yang melintasi dan singgah di stasiun wilayah Daop 7 Madiun, total tempat duduk yang tersedia selama masa Angkutan Lebaran mencapai 73.079 kursi. Meski jumlahnya besar, ketersediaan pada periode arus balik tetap terbatas karena tingginya permintaan.

Kondisi ini memperlihatkan perlunya perencanaan perjalanan yang matang bagi masyarakat. Tanpa persiapan lebih awal, peluang mendapatkan tiket pada tanggal favorit semakin kecil.

Dominasi Kelas Ekonomi dan Alternatif Perjalanan

Dalam Angkutan Lebaran tahun ini, kelas ekonomi menjadi pilihan utama masyarakat. Tohari menyebut dominasi tersebut berkaitan dengan adanya stimulus diskon 30 persen untuk keberangkatan pada 14 hingga 29 Maret 2026. Program ini mendorong peningkatan okupansi pada sejumlah perjalanan kereta ekonomi.

Beberapa layanan bahkan mencatat okupansi melampaui kapasitas normal. Data sementara menunjukkan KA Kahuripan relasi Blitar–Kiaracondong mencapai 136 persen. KA Brantas kelas ekonomi relasi Blitar–Pasar Senen tercatat sebesar 74 persen.

Selain itu, KA Bangunkarta kelas ekonomi relasi Jombang–Pasar Senen mencapai 73 persen. KA Singasari kelas ekonomi relasi Blitar–Pasar Senen mencatat 69 persen, sedangkan KA Brantas Tambahan kelas ekonomi relasi Blitar–Pasar Senen sebesar 68 persen.

Meski demikian, masih terdapat alternatif perjalanan dengan tingkat okupansi relatif rendah. Tohari menyebut KA Madiun Jaya relasi Stasiun Madiun–Stasiun Pasar Senen masih memiliki keterisian di bawah 50 persen. “Jadi untuk arus balik pun masih tersedia tiket terutama dari KA Madiun Jaya dengan keberangkatan awal dari Stasiun Madiun,” pungkasnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa peluang mendapatkan tiket tetap ada, terutama bagi penumpang yang fleksibel dalam memilih jadwal dan layanan. Dengan memanfaatkan opsi yang masih tersedia, masyarakat tetap dapat merencanakan perjalanan arus balik Lebaran 2026 secara lebih efektif dan nyaman.

Terkini