JAKARTA - Langkah diplomasi dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat memasuki babak baru setelah tercapainya kesepakatan tarif resiprokal.
Di balik penurunan bea masuk bagi produk Indonesia, terdapat kewajiban yang perlu dipenuhi pemerintah. Salah satunya adalah peningkatan impor batu bara kokas atau metalurgi dari Negeri Paman Sam.
Permintaan tersebut menjadi bagian dari paket perundingan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump. Meski rincian volume maupun nilai transaksi belum dipublikasikan, komitmen itu tercantum dalam dokumen resmi yang dirilis pemerintah Amerika Serikat. Kesepakatan ini menempatkan sektor energi dan industri baja sebagai fokus utama kerja sama.
Dalam dokumen yang dirilis White House terungkap bahwa Indonesia mesti memfasilitasi dan mendorong peningkatan impor batu bara kokas dari AS. Permintaan tersebut diarahkan untuk memperkuat fondasi industri dalam negeri. Pemerintah Indonesia pun harus menyesuaikan kebijakan perdagangan dan energinya.
Kebijakan ini dinilai strategis karena menyentuh rantai pasok industri baja nasional. Batu bara kokas merupakan bahan baku penting dalam proses produksi baja. Tanpa pasokan memadai, kapasitas industri hilir berisiko terhambat.
Impor Batu Bara Kokas Jadi Bagian Kesepakatan
Dalam dokumen kesepakatan disebutkan bahwa peningkatan impor bertujuan mendukung produksi baja nasional, mendorong industrialisasi, meningkatkan keamanan energi, serta mengurangi ketergantungan impor dari pihak yang dituding memanipulasi pasar. Poin ini menjadi salah satu klausul penting dalam kerja sama dagang kedua negara.
“Meningkatkan impor batu bara metalurgi kokas AS untuk mendukung produksi baja, industrialisasi lokal, dan keandalan serta keamanan energi, serta mengurangi ketergantungan pada impor dari pihak yang memanipulasi pasar,” sebagaimana tertulis dalam dokumen kesepakatan tarif AS RI, Jumat 20 Februari 2026. Kutipan tersebut menegaskan arah kebijakan yang harus ditempuh Indonesia.
Kesepakatan impor komoditas batu bara metalurgi itu merupakan salah satu bagian penting dalam kesepakatan tarif resiprokal RI AS. Indonesia menerima penurunan tarif impor AS sebesar 19% kepada produk produk asal Indonesia. Bahkan terdapat tarif 0% untuk komoditas tertentu seperti kelapa sawit, kopi, dan kakao.
Di sisi lain, Indonesia juga wajib menghapuskan hambatan tarif secara preferensial pada lebih dari 99% produk AS yang masuk ke Tanah Air. Artinya, komitmen ini bersifat dua arah dan menuntut penyesuaian kebijakan domestik. Pemerintah harus menimbang dampaknya terhadap industri lokal.
Dorongan Penggunaan Teknologi Batu Bara AS
Selain menaikkan impor batu bara kokas, Indonesia juga diminta meningkatkan penggunaan teknologi batu bara AS. Kerja sama ini mencakup percepatan pengembangan, penerapan, hingga komersialisasi teknologi. Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas pemanfaatan batu bara dalam berbagai sektor.
“Termasuk dengan memanfaatkan semua mekanisme pendanaan yang tersedia untuk mendukung kemajuan teknologi batu bara, termasuk penggunaan batu bara dan produk sampingan batu bara untuk memproduksi bahan bangunan, bahan baterai, serat karbon, grafit sintetis, dan bahan cetak, serta untuk membangkitkan tenaga listrik dan proses industri lainnya,” sebagaimana tertulis dalam dokumen yang dirilis White House itu.
Dorongan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintahan Trump yang menegaskan komitmennya menghidupkan industri batu bara. Ia berencana menggelontorkan dana US$175 juta untuk memperbaiki enam pembangkit listrik tenaga uap dan memerintahkan Departemen Pertahanan membeli listrik dari berbagai PLTU lainnya.
“Kami akan membeli batu bara melalui militer. Ini akan menjadi lebih murah dan efektif dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya,” tegas Trump di Gedung Putih, seperti dikutip dari Bloomberg News. Pernyataan itu menegaskan arah kebijakan energi AS yang kembali bertumpu pada batu bara.
Klaim Trump Soal Kebangkitan Batu Bara
Menurut Trump, batu bara adalah sumber energi yang paling bisa diandalkan. Pemerintahannya akan memastikan berbagai langkah untuk meningkatkan pembangkitan dan menyediakan listrik dengan harga yang lebih terjangkau. Ia bahkan mengklaim peningkatan signifikan dalam produksi listrik berbasis batu bara.
“Pembangkitan listrik dari batu bara naik hampir 15% pada tahun pertama pemerintahan saya. Angka itu akan naik menjadi 25% atau 30% pada tahun ini.” Pernyataan tersebut menunjukkan optimisme tinggi terhadap kebangkitan industri batu bara di AS.
“Lebih banyak batu bara berarti lebih sedikit biaya dan uang bertambah di kantong rakyat AS. Tidak buruk,” papar Trump. Klaim ini menjadi bagian dari narasi besar kebijakan energinya yang pro industri domestik.
Bagi Indonesia, dinamika ini perlu dicermati karena berkaitan langsung dengan strategi energi nasional. Ketergantungan pada impor harus dikelola hati hati agar tidak mengganggu keseimbangan neraca perdagangan. Pemerintah dituntut cermat dalam mengeksekusi kesepakatan tersebut.
Kinerja Produksi dan Ekspor Batu Bara Indonesia
Di tengah kesepakatan impor, data domestik menunjukkan tantangan tersendiri. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat realisasi produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton. Angka itu anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sejumlah 836 juta ton.
Sebagian besar produksi tersebut disalurkan untuk pasar ekspor, yakni sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi. Sementara realisasi penyaluran batu bara untuk pasar domestik mencapai 254 juta ton atau 32%. Komposisi ini menunjukkan dominasi ekspor dalam struktur industri nasional.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik melaporkan ekspor batu bara terkoreksi 3,66% ke level 390,93 juta ton sepanjang Januari hingga Desember 2025. Volume ini lebih rendah dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 405,76 juta ton.
Berdasarkan nilainya, kinerja ekspor batu bara sepanjang 2025 turun 19,7% ke level US$24,48 miliar atau sekitar Rp411,14 triliun dengan asumsi kurs Rp16.795 per dolar AS. Torehan tersebut terpaut lebar dari capaian sepanjang 2024 di level US$30,49 miliar atau sekitar Rp512,07 triliun. Data ini menjadi latar penting di tengah kewajiban peningkatan impor batu bara kokas dari Amerika Serikat.