JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali terlihat pada pembukaan perdagangan Rabu pagi.
Di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya stabil, mata uang Garuda harus mengawali hari dengan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini mencerminkan respons pasar terhadap pergerakan dolar global yang masih fluktuatif.
Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Rabu, di tengah pergerakan dolar global yang masih fluktuatif.
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan dengan depresiasi tipis 0,03% ke level Rp16.820/US$. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Selasa rupiah turut ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,18% ke posisi Rp16.815/US$.
Pelemahan beruntun ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Meskipun depresiasinya relatif kecil, arah pergerakan tetap menjadi perhatian pelaku pasar yang mencermati sentimen global dan regional.
Pergerakan Indeks Dolar AS
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis 0,02% ke level 97,827. Namun, pada penutupan perdagangan kemarin DXY masih menguat 0,14%.
Pergerakan indeks dolar yang naik turun dalam rentang terbatas mencerminkan ketidakpastian pasar global. Meski pagi ini melemah tipis, penguatan pada penutupan sebelumnya tetap memberikan tekanan tersendiri bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pergerakan rupiah hari ini masih mengikuti dinamika dolar AS di pasar global. Dalam sepekan terakhir, DXY bergerak cukup volatil, sempat tertekan di awal pekan namun kemudian berangsur pulih.
Volatilitas tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati hati dalam mengambil posisi. Setiap perubahan arah dolar AS berpotensi langsung tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot domestik.
Dampak Penguatan Dolar Bagi Emerging Market
Setiap penguatan dolar biasanya menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang karena investor cenderung kembali melirik aset berdenominasi greenback.
Kecenderungan tersebut berkaitan dengan persepsi risiko global. Ketika dolar AS menguat, arus dana sering kali beralih ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga mata uang emerging market mengalami tekanan.
Dalam konteks ini, pelemahan rupiah yang terjadi pagi ini tidak terlepas dari dinamika tersebut. Walaupun indeks dolar tidak menguat signifikan pada pagi hari, penguatan sebelumnya masih membayangi sentimen pasar.
Kebijakan Tarif AS Dan Sentimen Global
Sentimen pasar global juga masih dipengaruhi arah kebijakan tarif AS. Setelah Mahkamah Agung AS membatalkan pungutan tarif yang diberlakukan lewat aturan darurat, pemerintah AS mulai menerapkan tarif baru sebesar 10% untuk barang-barang tertentu di luar pengecualian, dan membuka ruang kenaikan tarif menjadi 15% sesuai rencana Trump.
Kebijakan ini mengacu pada Section 122, yang mengizinkan tarif hingga 15% namun mensyaratkan persetujuan Kongres jika ingin diperpanjang setelah 150 hari. Trump juga menyatakan periode 150 hari tersebut akan dimanfaatkan untuk menyiapkan skema tarif lain yang secara hukum diperbolehkan.
Langkah tersebut menambah ketidakpastian dalam perdagangan global. Kebijakan tarif baru berpotensi memicu respons dari negara mitra dagang, sehingga meningkatkan tensi ekonomi internasional.
Prospek Volatilitas Rupiah Hari Ini
Di tengah ketidakpastian tersebut, pelaku pasar masih menanti respons negara mitra dagang serta sinyal lanjutan dari Gedung Putih terkait arah kebijakan tarif berikutnya. Perkembangan ini berpotensi menjaga volatilitas di pasar valuta asing, termasuk pergerakan rupiah, sepanjang perdagangan hari ini.
Dengan latar belakang sentimen global yang kompleks, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sensitif terhadap perubahan arah dolar AS. Setiap pernyataan atau kebijakan baru dari otoritas Amerika Serikat dapat segera memicu reaksi di pasar.
Secara keseluruhan, rupiah dibuka loyo di level Rp16.820 per dolar AS dengan depresiasi tipis 0,03%. Meski pelemahannya terbatas, tekanan eksternal dari volatilitas dolar dan kebijakan tarif AS tetap menjadi faktor utama yang membentuk arah pergerakan nilai tukar pada perdagangan hari ini.