Asing Borong Saham UNTR EXCL BBTN Usai MSCI Crash IHSG

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:42:12 WIB
Asing Borong Saham UNTR EXCL BBTN Usai MSCI Crash IHSG

JAKARTA - Gejolak pasar akibat MSCI crash sempat mengguncang kepercayaan pelaku pasar domestik. 

Indeks Harga Saham Gabungan bahkan mengalami trading halt dua kali karena tekanan jual yang cukup besar. Namun di balik kepanikan jangka pendek tersebut, arus dana asing justru menunjukkan dinamika berbeda.

Di balik tekanan MSCI crash yang sempat membuat Indeks Harga Saham Gabungan mengalami trading halt dua kali, investor asing ternyata masih melakukan aksi akumulasi saham saham Indonesia. Fenomena ini memperlihatkan bahwa koreksi tajam tidak selalu direspons dengan aksi jual oleh seluruh pelaku pasar.

Dalam periode 28 Januari hingga 23 Februari 2026, kami mengumpulkan data investor asing tercatat aktif memborong sejumlah saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia. Aktivitas tersebut menunjukkan strategi selektif di tengah volatilitas tinggi.

Alih alih keluar dari pasar, investor global justru memanfaatkan tekanan harga sebagai momentum masuk. Strategi ini mengindikasikan keyakinan bahwa fundamental emiten tertentu tetap solid meski indeks bergejolak.

Daftar Saham Paling Banyak Diakumulasi

Saham PT United Tractors Tbk menjadi yang paling banyak diakumulasi dengan nilai beli bersih mencapai Rp573,2 miliar. Posisi ini menempatkan UNTR sebagai incaran utama dana asing selama periode tersebut.

Di posisi kedua, PT XLSmart Tbk mencatatkan net buy sebesar Rp549,2 miliar. Arus masuk dana yang besar ini memperlihatkan minat terhadap sektor telekomunikasi.

Selanjutnya, aliran dana asing juga deras masuk ke PT Bank Tabungan Negara Tbk sebesar Rp281,6 miliar dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk Rp261,3 miliar. Kedua saham tersebut menunjukkan daya tarik berbeda dari sektor perbankan dan komoditas.

PT Amman Mineral Internasional Tbk menyusul dengan Rp234,3 miliar. Arus dana ini semakin menegaskan dominasi saham berbasis sumber daya alam dalam daftar akumulasi.

Saham Lain Dalam Radar Asing

Sementara itu, PT Astra International Tbk diborong Rp194,2 miliar. Emiten konglomerasi ini tetap menjadi pilihan karena diversifikasi bisnisnya.

PT Bumi Resources Minerals Tbk mencatat net buy Rp182,3 miliar, sedangkan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk sebesar Rp174,5 miliar. Keduanya merepresentasikan sektor pertambangan dan ritel konsumsi.

Dua saham lainnya yang masuk daftar akumulasi asing adalah PT Barito Renewables Energy Tbk sebesar Rp161,3 miliar dan PT Merdeka Gold Resources Tbk Rp150,1 miliar. Daftar ini memperlihatkan penyebaran minat pada energi terbarukan dan emas.

Dari data tersebut terlihat bahwa saham saham berkapitalisasi besar tetap menjadi fokus utama. Likuiditas tinggi dan fundamental relatif kuat menjadi pertimbangan penting investor global.

Strategi Reposisi Portofolio Asing

Dari data di atas menjadi bukti bahwa setelah MSCI crash, minat asing ke saham saham Indonesia belum sepenuhnya surut, melainkan sedang melakukan reposisi portofolio secara lebih selektif. Pendekatan ini menekankan kualitas dan tema sektoral tertentu.

Alih alih melakukan panic selling, investor asing tampak memanfaatkan volatilitas untuk masuk ke saham saham tertentu dengan fundamental kuat dan prospek sektor yang masih menarik. Strategi ini lazim diterapkan dalam kondisi pasar bergejolak.

Jika dicermati, mayoritas saham yang diborong asing berada di sektor komoditas dan energi, seperti UNTR, ADRO, AMMN, dan BRMS. Fokus ini mencerminkan keyakinan terhadap prospek harga komoditas global.

Emiten emiten tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan pergerakan harga komoditas global, khususnya logam dan mineral yang tengah berada dalam tren kenaikan. Kenaikan harga komoditas menjadi katalis penting bagi kinerja perusahaan.

Komoditas Jadi Tema Utama Investasi

Penguatan harga emas dan logam dasar menjadi katalis utama yang menjaga daya tarik sektor ini di mata investor global. Ketika harga komoditas menguat, margin dan potensi laba emiten turut terdorong.

Selain itu, eksposur terhadap komoditas juga dinilai memberikan perlindungan relatif terhadap gejolak eksternal, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar global. Sektor ini sering dianggap sebagai lindung nilai alami.

Dengan kata lain, asing masih melihat Indonesia sebagai pasar yang menarik, namun dengan pendekatan yang lebih taktis dan berbasis tema terutama pada komoditas yang sedang bullish. Strategi tematik menjadi kunci alokasi dana saat ini.

Kesimpulannya, MSCI crash memang mengguncang pasar dalam jangka pendek, tetapi tidak mengubah narasi besar bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang relevan khususnya bagi sektor sektor yang terhubung dengan siklus kenaikan harga komoditas global.

Terkini