Rekomendasi Menu Buka Puasa Wonogiri Sego Tiwul hingga Mie Ayam

Selasa, 03 Maret 2026 | 10:32:29 WIB
Rekomendasi Menu Buka Puasa Wonogiri Sego Tiwul hingga Mie Ayam

JAKARTA - Menentukan tempat berbuka puasa sering kali menjadi agenda penting menjelang Ramadan. 

Di Wonogiri, pilihan kuliner tradisional hingga menu kekinian menawarkan pengalaman rasa yang beragam. Mulai dari sajian khas berbahan tiwul hingga mie ayam goreng dengan harga terjangkau, semuanya bisa menjadi opsi menarik saat azan Magrib tiba.

Buka puasa memang menjadi momen yang menyenangkan setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Tentu kebahagiaan itu semakin lengkap jika dibarengi dengan menu makanan yang enak. Wonogiri menghadirkan sejumlah tempat makan yang patut dipertimbangkan untuk berbuka bersama keluarga maupun teman.

Berikut tiga rekomendasi makanan yang bisa dinikmati saat buka puasa di Wonogiri. Setiap tempat memiliki ciri khas tersendiri, baik dari sisi rasa, suasana, maupun konsep penyajiannya.

Sego Tiwul Simbok di Pondok Makan Tebing Grenjengan

Pondok Makan Tebing Grenjengan berada di Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, atau dekat Waduk Gajah Mungkur. Lokasinya yang tak jauh dari kawasan wisata membuat tempat ini kerap menjadi tujuan kuliner. Suasana pedesaan yang asri menambah kenikmatan saat berbuka puasa.

Di sana terdapat salah satu menu khas Wonogiri yang patut dicoba yakni Sego Tiwul Simbok. Dalam sajian ini, nasi tiwul dibungkus menggunakan daun jati sehingga aromanya semakin khas. Cita rasa tradisional begitu terasa sejak suapan pertama.

Nasi tiwul tersebut dilengkapi berbagai pilihan lauk ndeso khas Wonogiri. Di antaranya cabuk, sambal bawang, urap, oseng, sayur lombok, bothok, bacem tempe benguk, dan peyek ikan asin. Kombinasi lauk sederhana ini justru menghadirkan kekayaan rasa yang menggugah selera.

Menu selengkap itu hanya dibanderol seharga Rp 20 ribu saja. Harga yang ramah di kantong membuatnya cocok dijadikan pilihan berbuka bersama keluarga. Sensasi makan tiwul dengan aneka lauk tradisional menjadi pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Nasi Tiwul Mbok Sembleng yang Legendaris

Kuliner lain yang wajib dicoba ketika berkunjung ke Giriwoyo adalah Nasi Tiwul Mbok Sembleng. Lokasinya berada di Dusun Saratan RT 003/RW 005, Desa Sejati, Giriwoyo, Wonogiri. Warung ini sudah cukup legendaris karena buka sejak tahun 1991.

Keberadaannya yang menyatu dengan rumah tinggal pemilik menghadirkan nuansa sederhana khas desa. Pengunjung dapat merasakan atmosfer perkampungan yang hangat dan akrab. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta kuliner tradisional.

Yang membuatnya unik, warung tersebut tidak buka setiap hari. Warung hanya beroperasi pada malam pasaran Jawa Pon dan Kliwon. Pola buka yang tidak setiap hari justru menambah kesan eksklusif dan membuat pembeli rela menunggu.

Sang pemilik, Tukimin, mengatakan sejak awal dia berjualan di rumah dan tidak setiap hari. Ada alasan khusus yang membuatnya tidak membuka warung setiap hari.

"Karena jauh dari jalan raya, saya memilih tidak jualan setiap hari. Saya khususkan saja waktunya, karena khawatir tidak laku," ujarnya, kepada TribunSolo.com.

Keputusan tersebut menjadi strategi tersendiri agar dagangannya tetap diminati. Meski hanya buka di waktu tertentu, warung ini tetap bertahan hingga kini. Nasi tiwulnya pun dikenal memiliki cita rasa khas desa yang autentik.

Mie Ayam Goreng Kedai Wonogiren SS

Pilihan berikutnya datang dari Kedai Mie Ayam Wonogiren SS yang berada di Desa Nambangan, Kecamatan Selogiri. Lokasinya tepat di pinggir jalan raya Wonogiri Sukoharjo sehingga mudah dijangkau. Kedai ini menawarkan varian mie ayam goreng yang berbeda dari biasanya.

Salah satu owner, Andy Prasetyo, menjelaskan bahwa mie yang digunakan dibuat sendiri tanpa micin. "Mie kami buat sendiri, tanpa micin jadi lebih sehat," kata salah satu Owner, Andy Prasetyo. Pernyataan ini menjadi nilai tambah bagi pembeli yang peduli pada kesehatan.

Proses pembuatan mie ayam goreng sejatinya tidak jauh berbeda dengan mie ayam biasa. Mie kering direbus dalam air mendidih hingga matang. Setelah itu mie diracik di mangkok dan diberi bumbu, minyak, serta ayam.

Namun ada satu proses tambahan untuk menciptakan varian goreng. Mie yang telah diracik kemudian dimasak kembali menggunakan wajan, mirip membuat nasi goreng. Saat proses itu, ditambahkan kaldu dan sejumlah bumbu seperti kecap agar rasanya lebih mantap.

Soal harga, kedai ini menawarkan tarif yang sangat terjangkau. "Harganya ini masih promo Rp 6 ribu, kalau normal nanti Rp 8 ribu saja," kata dia. Harga tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan dari berbagai kalangan.

Beragam pilihan kuliner di Wonogiri tersebut dapat menjadi referensi berbuka puasa. Mulai dari sajian tradisional berbahan tiwul hingga mie ayam goreng kekinian, semuanya menghadirkan cita rasa khas. Dengan suasana yang berbeda di tiap lokasi, momen berbuka puasa pun terasa semakin istimewa.

Terkini