JAKARTA - Berbuka puasa menjadi momen yang paling dinanti setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Namun dalam ajaran Islam, berbuka bukan sekadar melepas rasa haus, melainkan bagian dari rangkaian ibadah yang memiliki tuntunan adab tersendiri. Kesempurnaan puasa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menahan diri di siang hari, tetapi juga oleh cara mengakhirinya saat waktu Magrib tiba.
Umat Islam dianjurkan memahami adab berbuka puasa yang baik dan benar agar pahala ibadah semakin sempurna. Tata cara yang tepat tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga berdampak pada kesehatan tubuh. Dengan mengikuti tuntunan yang diajarkan, berbuka puasa menjadi momen penuh keberkahan sekaligus menjaga kondisi fisik tetap prima selama Ramadan.
Ustadz MUI Kota Palangka Raya, Syairi Abdullah, menjelaskan pentingnya menjaga adab berbuka puasa sesuai tuntunan syariat. Penjelasan tersebut disampaikan saat mengisi program Hikmah Ramadan di Pro 1 RRI Palangka Raya, Senin, 2 Maret 2026. Ia menekankan bahwa berbuka sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak tergesa-gesa.
Membaca Doa Sebelum Berbuka
Salah satu adab utama sebelum menyentuh makanan adalah membaca doa terlebih dahulu. Doa menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT setelah seharian menjalankan ibadah puasa. Momen berbuka juga termasuk waktu mustajab untuk memanjatkan permohonan kepada-Nya.
Ustadz Syairi Abdullah mengatakan sebelum berbuka dianjurkan untuk membaca doa terlebih dahulu. Setelah berdoa, umat Islam yang menjalankan puasa disarankan mengonsumsi camilan manis dan ringan seperti kurma dan air minum.
Anjuran ini sejalan dengan sunnah Rasulullah SAW yang mendahulukan makanan sederhana saat berbuka. Kurma dan air menjadi pilihan yang mudah dicerna serta membantu mengembalikan energi tubuh secara perlahan. Dengan mendahulukan doa dan makanan ringan, berbuka menjadi lebih tertib dan penuh kesadaran.
Melalui doa, seorang Muslim diingatkan bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah SWT. Kesadaran spiritual ini menjaga hati agar tidak berlebihan saat menikmati hidangan berbuka. Nilai ibadah pun tetap terjaga sejak awal hingga akhir waktu puasa.
Mengutamakan Makanan Ringan Terlebih Dahulu
Selain doa, adab penting lainnya adalah tidak langsung mengonsumsi makanan berat. Ustadz Syairi menegaskan pentingnya menjaga kesiapan sistem pencernaan setelah berpuasa seharian. Tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan asupan makanan yang masuk.
"Tapi bagusnya jangan dulu makan-makan yang berat, kenapa, karena pencernaan kita belum siap untuk itu. Karena itu makan yang ringan-ringan dulu misalnya kue yang lembut-lembut, setelah itu baru bawa salat magrib," katanya, saat mengisi program Hikmah Ramadan di Pro 1 RRI Palangka Raya, Senin, 2 Maret 2026.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur aspek spiritual, tetapi juga memperhatikan kesehatan jasmani. Mengonsumsi makanan ringan terlebih dahulu membantu tubuh menghindari gangguan pencernaan akibat perubahan pola makan yang mendadak.
Dengan berbuka secara bertahap, kadar gula darah yang menurun selama puasa dapat kembali stabil tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman. Cara ini juga membantu menjaga stamina untuk melaksanakan salat Magrib dan ibadah selanjutnya dengan lebih khusyuk.
Memberi Jeda Sebelum Makanan Berat
Setelah berbuka dengan makanan ringan dan melaksanakan salat Magrib, barulah diperbolehkan mengonsumsi makanan berat. Ustadz Syairi menjelaskan bahwa tubuh memerlukan jeda agar sistem pencernaan dapat bekerja dengan baik. Proses ini penting agar makanan yang dikonsumsi dapat diolah secara optimal.
"Setelah salat magrib dalam jangka 4, 5 atau 6 menit perut kita atau pencernaan kita sudah siap, maka pada saat itu boleh kita makan-makan yang agak berat," katanya.
Jeda waktu tersebut memberi kesempatan bagi tubuh untuk beradaptasi setelah seharian kosong dari asupan makanan. Salat Magrib menjadi momen istirahat sejenak sebelum melanjutkan makan dengan porsi yang lebih besar. Dengan cara ini, keseimbangan antara ibadah dan kesehatan tetap terjaga.
Anjuran ini sejalan dengan upaya menjaga kesehatan selama berpuasa. Berbuka secara bertahap mencegah rasa begah, mual, atau gangguan lambung yang kerap muncul akibat makan berlebihan secara tiba-tiba. Tubuh pun dapat menerima nutrisi dengan lebih baik.
Menjaga Keseimbangan Ibadah Dan Kesehatan
Adab berbuka puasa tidak hanya berkaitan dengan tata cara makan, tetapi juga menyangkut sikap dan pengendalian diri. Ramadan mengajarkan umat Islam untuk tetap sederhana dan tidak berlebihan dalam menikmati hidangan. Kendali diri yang dilatih sepanjang hari sebaiknya tetap dijaga saat berbuka.
Melalui pemahaman adab berbuka yang tepat, umat Islam diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih optimal. Selain memperoleh pahala, kesehatan tubuh pun tetap terjaga selama bulan Ramadan. Keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan jasmani menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah.
Berbuka yang dilakukan dengan doa, makanan ringan, jeda salat, serta pengaturan porsi makanan berat menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengatur kehidupan secara menyeluruh. Setiap anjuran memiliki hikmah yang mendalam bagi umatnya.
Dengan menerapkan adab berbuka puasa yang baik dan benar, seorang Muslim tidak hanya menuntaskan kewajiban, tetapi juga meraih nilai ibadah yang lebih tinggi. Ramadan pun menjadi sarana pembentukan karakter disiplin, syukur, dan kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri.