Prediksi Lebaran 2026 Menurut Pemerintah Muhammadiyah NU Dan BRIN Lengkap Terbaru

Kamis, 12 Maret 2026 | 11:35:53 WIB
Prediksi Lebaran 2026 Menurut Pemerintah Muhammadiyah NU Dan BRIN Lengkap Terbaru

JAKARTA - Menjelang berakhirnya bulan Ramadan, perhatian masyarakat mulai tertuju pada penentuan Hari Raya Idul Fitri. 

Setiap tahun, momen ini selalu dinanti karena menjadi penanda berakhirnya ibadah puasa sekaligus waktu berkumpul bersama keluarga.

Di Indonesia, penentuan awal Syawal sering menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Hal ini karena berbagai lembaga dan organisasi Islam menggunakan metode yang berbeda dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Perbedaan metode tersebut kadang menghasilkan tanggal Lebaran yang tidak selalu sama. Meski begitu, masyarakat umumnya tetap menantikan pengumuman resmi dari pemerintah setelah sidang isbat dilaksanakan.

Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan 1447 Hijriah, sejumlah lembaga telah memberikan prediksi mengenai kapan Hari Raya Idul Fitri 2026 akan berlangsung. Beberapa di antaranya berasal dari organisasi Islam besar dan lembaga penelitian astronomi.

Penetapan awal Syawal menurut Muhammadiyah

Organisasi Islam Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan tanggal 1 Syawal 1447 Hijriah. Berdasarkan keputusan organisasi tersebut, Hari Raya Idul Fitri 2026 diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Penetapan ini merujuk pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengenai hasil hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah. Keputusan tersebut didasarkan pada perhitungan astronomi yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Metode yang digunakan adalah sistem perhitungan hisab dengan pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT. Sistem ini memanfaatkan perhitungan astronomi untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah secara global.

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, ijtimak menjelang Syawal 1447 Hijriah terjadi pada Kamis, 30 Ramadan 1447 Hijriah. Waktu ijtimak tersebut bertepatan dengan tanggal 19 Maret 2026 pukul 01.23.28 UTC.

Pada saat matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, sebelum pukul 24.00 UTC terdapat wilayah yang telah memenuhi Parameter Kalender Global. Kondisi inilah yang menjadi dasar Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 20 Maret 2026.

Prediksi awal Lebaran menurut pemerintah

Berbeda dengan Muhammadiyah, pemerintah Indonesia belum menetapkan secara resmi kapan Hari Raya Idul Fitri 2026 akan berlangsung. Penetapan tanggal 1 Syawal akan diumumkan setelah sidang isbat digelar.

Sidang tersebut rencananya dilaksanakan pada Kamis, 19 Maret 2026 yang bertepatan dengan 29 Ramadan. Hasil sidang inilah yang nantinya menjadi acuan resmi pemerintah dalam menentukan awal Syawal.

Sebagai gambaran awal, kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dari Kementerian Agama Republik Indonesia memperkirakan Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Namun tanggal tersebut masih bersifat prediksi dan belum menjadi keputusan final. Pemerintah tetap menunggu hasil sidang isbat sebelum mengumumkan secara resmi kepada masyarakat.

Dalam proses penentuan awal Syawal, pemerintah menggunakan dua pendekatan utama. Metode tersebut adalah perhitungan astronomi atau hisab serta pengamatan langsung terhadap hilal yang dikenal sebagai rukyatul hilal.

Peran sidang isbat dalam penentuan awal Syawal

Sidang isbat memiliki peran penting dalam menentukan awal bulan Hijriah di Indonesia. Melalui forum ini, pemerintah menggabungkan berbagai metode ilmiah dan pengamatan lapangan untuk memastikan keputusan yang diambil.

Jika bulan sabit atau hilal berhasil terlihat dan memenuhi kriteria yang telah disepakati oleh negara-negara MABIMS, maka 1 Syawal akan ditetapkan pada hari berikutnya. Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat maka bulan Ramadan akan disempurnakan menjadi 30 hari.

Sidang isbat biasanya digelar di Auditorium H.M. Rasjidi yang berada di Kantor Kementerian Agama di Jakarta. Proses tersebut dimulai pada sore hari menjelang waktu Magrib.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa sidang ini melibatkan banyak pihak dari berbagai lembaga.

“Karena melibatkan representasi yang luas, keputusan sidang isbat memiliki legitimasi keagamaan yang kuat,” tegasnya dikutip dari laman resmi Kemenag.

Melalui proses ini, pemerintah berupaya memastikan bahwa keputusan yang diambil memiliki dasar ilmiah sekaligus diterima secara luas oleh masyarakat.

Keterlibatan lembaga astronomi dan ormas Islam

Penentuan awal Syawal tidak hanya melibatkan pemerintah. Berbagai lembaga penelitian serta organisasi masyarakat Islam juga turut berperan dalam proses tersebut.

Beberapa institusi yang biasanya terlibat antara lain ahli astronomi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika serta peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Selain itu, pengelola planetarium dan observatorium di berbagai daerah juga ikut melakukan pemantauan hilal. Data hasil pengamatan tersebut kemudian disampaikan dalam sidang isbat sebagai bahan pertimbangan.

Organisasi masyarakat Islam seperti Nahdlatul Ulama juga memiliki metode tersendiri dalam menentukan awal bulan Hijriah. NU biasanya menggunakan pendekatan rukyat atau pengamatan langsung terhadap hilal.

Meski metode yang digunakan berbeda, tujuan seluruh pihak pada dasarnya sama, yaitu memastikan penetapan awal Syawal dilakukan secara akurat.

Kolaborasi antara lembaga ilmiah, pemerintah, dan organisasi Islam ini menjadi ciri khas sistem penentuan kalender Hijriah di Indonesia.

Kemungkinan perbedaan waktu Lebaran di Indonesia

Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah membuat kemungkinan perbedaan tanggal Lebaran tetap ada setiap tahun. Namun kondisi tersebut bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia.

Sebagian organisasi Islam lebih mengutamakan metode hisab, sementara yang lain menggabungkannya dengan rukyatul hilal. Perbedaan pendekatan inilah yang kadang menghasilkan tanggal yang berbeda.

Meskipun demikian, masyarakat umumnya tetap menjalankan ibadah dengan penuh toleransi terhadap perbedaan tersebut. Banyak pihak juga menganggap perbedaan ini sebagai bagian dari dinamika penentuan kalender Islam.

Dengan Ramadan 1447 Hijriah yang kini memasuki sepuluh hari terakhir, masyarakat tinggal menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat. Hasil sidang tersebut nantinya akan menjadi pedoman nasional mengenai kapan Hari Raya Idul Fitri 2026 dirayakan.

Apakah Lebaran akan berlangsung pada 20 Maret seperti yang ditetapkan Muhammadiyah atau pada 21 Maret seperti prediksi pemerintah, semua akan dipastikan setelah proses penentuan hilal selesai dilakukan.

Terkini