Wamenaker: Dunia Industri Kini Butuh SDM Adaptif dan Kompeten

Senin, 15 Juni 2026 | 03:19:01 WIB
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor. (Foto: NET)

JAKARTA - Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menyatakan bahwa sektor industri saat ini kian memerlukan tenaga kerja yang mempunyai kompetensi nyata, mampu beradaptasi, serta siap bekerja di tengah pesatnya transformasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

"Saat ini kami berada di era transformasi ketenagakerjaan yang bergerak sangat cepat. Dunia industri tidak lagi hanya mencari individu yang memegang selembar ijazah, melainkan mencari sarjana yang cakap dan memiliki kompetensi nyata," ujar Wamenaker dalam keterangannya di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Ia menambahkan bahwa ijazah perguruan tinggi tidak lagi menjadi modal tunggal untuk memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, para lulusan dituntut untuk memiliki keahlian khusus yang memang diperlukan oleh sektor industri.

"Ijazah tidak lagi cukup karena industri tidak lagi bertanya apa ijazah kamu, melainkan apa kompetensimu. Sertifikat kompetensi inilah yang menjadi bukti bahwa tenaga kerja kami memiliki standar kemampuan yang dibutuhkan industri," kata dia.

Guna merespons tantangan tersebut, pemerintah akan kembali menjalankan program Magang Nasional (MagangHub) yang menyasar para lulusan baru diploma maupun sarjana (fresh graduate). 

Program ini didukung dengan anggaran sebesar Rp4,14 triliun dan disusun untuk menguatkan kompetensi sekaligus mempercepat transisi lulusan perguruan tinggi ke dunia kerja.

Menurut Wamenaker, Magang Nasional hadir sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan keterampilan (skill gap) serta ketidaksesuaian (mismatch) antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. 

Melalui program ini, peserta akan mendapatkan berbagai manfaat, mulai dari uang saku, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, pendampingan mentor profesional, hingga kesempatan sertifikasi kompetensi yang diakui secara nasional.

Afriansyah menjelaskan bahwa sertifikasi kompetensi merupakan instrumen penting untuk mendongkrak daya saing tenaga kerja Indonesia di tengah persaingan global yang kian ketat. 

Ia mengungkapkan, kondisi ketenagakerjaan nasional saat ini menunjukkan tren yang positif, di mana tingkat pengangguran terbuka per Februari 2026 tercatat sebesar 4,68 persen.

Kendati demikian, tantangan berupa disrupsi teknologi, otomatisasi, dan munculnya kebutuhan kompetensi baru tetap menuntut adanya penguatan ekosistem pelatihan serta vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri. 

Selain itu, Afriansyah mendorong perguruan tinggi agar memperkuat kolaborasi dengan Balai Latihan Kerja (BLK) dan pihak industri.

"Kampus, pemerintah, dan industri harus bergerak bersama menyiapkan sumber daya manusia atau SDM yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini maupun masa depan," ujarnya.

Terkini