JAKARTA — Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali menorehkan kinerja impresif di awal tahun ini. Di tengah tekanan global akibat eskalasi perang tarif dan gejolak geopolitik, BRI mampu mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp13,80 triliun pada Triwulan I 2025, sekaligus mempertegas posisi strategisnya sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan.
Pencapaian tersebut disampaikan dalam konferensi pers Kinerja Keuangan BRI Triwulan I 2025 oleh Direktur Utama Hery Gunardi, didampingi jajaran direktur lainnya.
Ekonomi Global Bergejolak, BRI Tetap Optimistis
Dalam pemaparannya, Hery Gunardi menjelaskan bahwa dinamika global masih belum stabil akibat perang tarif yang memicu tekanan pada rantai pasok global. Meski demikian, BRI melihat ruang pertumbuhan berkat konsumsi domestik yang tetap menjadi motor ekonomi nasional.
“Ekonomi Indonesia relatif tangguh karena ditopang konsumsi dalam negeri. Jadi meski ada tekanan dari luar, dampaknya ke BRI tidak terlalu signifikan. Negosiasi dagang yang sedang berlangsung antara Indonesia dan AS juga memberi harapan,” ujar Hery.
UMKM Jadi Pilar Utama Strategi Bisnis
BRI tetap memprioritaskan sektor UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Hingga akhir Maret 2025, total penyaluran kredit BRI mencapai Rp1.373,66 triliun, tumbuh hampir 5% yoy. Dari jumlah tersebut, Rp1.126,02 triliun disalurkan kepada pelaku UMKM.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, mengungkapkan bahwa BRI terus memperluas akses keuangan melalui program inklusi digital. “Kami memiliki lebih dari 1,2 juta AgenBRILink yang tersebar di lebih dari 88% desa di Indonesia. Volume transaksinya sudah mencapai Rp423 triliun hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini,” kata Akhmad.
AgenBRILink memungkinkan masyarakat melakukan transaksi keuangan tanpa harus ke bank, menjadikan layanan keuangan BRI menjangkau lapisan terbawah masyarakat secara real-time.
Risiko Kredit Dikelola Ketat, NPL Menurun
Dari sisi kualitas kredit, Direktur Manajemen Risiko BRI, Mucharom, menjelaskan bahwa penurunan rasio NPL menjadi 2,97% merupakan hasil penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang efektif. “LAR juga menurun menjadi 11,12%. Ini mencerminkan portofolio kredit yang sehat,” ujarnya.
“Pencadangan kami kuat dengan rasio NPL coverage di angka 200,60%. Ini memberi ketenangan bagi investor dan stakeholder bahwa kami siap menghadapi ketidakpastian,” tambahnya.
Transformasi Digital Dorong Dana Murah dan Transaksi
Direktur Network & Retail Funding, Aquarius Rudianto, menjelaskan bahwa BRI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga sebesar Rp1.421,60 triliun. Dana murah (CASA) menyumbang Rp934,95 triliun atau 65,77% dari total DPK.
“Kontribusi BRImo sangat signifikan. Hingga akhir Maret 2025, jumlah pengguna mencapai 40,28 juta dengan 1,2 miliar transaksi bernilai Rp1.599 triliun,” tutur Aquarius. BRI juga membangun ekosistem digital payment dengan jutaan merchant QRIS dan EDC dari kota hingga desa.
Modal Kuat, Fondasi Pertumbuhan Jangka Panjang
Direktur Finance & Strategy BRI, Viviana Dyah Ayu, menyatakan bahwa indikator permodalan BRI sangat sehat. “LDR kami ada di angka 86,03% dan CAR 24,03%, jauh di atas ketentuan minimum regulator,” ungkapnya.
Dengan struktur permodalan yang kuat dan likuiditas memadai, BRI memiliki kapasitas untuk tumbuh berkelanjutan di masa depan.
Ekosistem Besar Jadi Kekuatan Strategis BRI
Menutup konferensi pers, Hery Gunardi menyatakan bahwa transformasi digital dan kekuatan jaringan adalah dua pilar utama keunggulan BRI ke depan.
“Kami memiliki lebih dari 221 juta rekening simpanan dan 211 ribu pengguna QLola di segmen korporasi. Dengan 36.600 tenaga pemasar dan lebih dari 6 ribu kantor, BRI menjadi bank dengan jaringan terluas di Indonesia. Ini adalah kekuatan nyata kami,” pungkas Hery.
Dengan kinerja solid dan strategi inklusif, BRI diyakini mampu menghadapi tantangan global sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi nasional di era transformasi digital saat ini.