Laba Rp13,8 Triliun yang Dibukukan BRI Menjadi Bukti Keberhasilan Dalam Menopang UMKM di Masa Sulit Ekonomi Global

Rabu, 07 Mei 2025 | 15:53:55 WIB

JAKARTA  – Dalam situasi ekonomi global yang diwarnai ketegangan geopolitik dan perang tarif dagang, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menunjukkan daya tahan yang kuat. Pada kuartal pertama tahun 2025, bank milik negara ini membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp13,80 triliun, serta mencatatkan total aset sebesar Rp2.098,23 triliun, tumbuh 5,49% dibandingkan kuartal I tahun lalu.

Pengumuman tersebut disampaikan dalam konferensi pers Kinerja Keuangan BRI Triwulan I 2025 yang digelar di Jakarta, dihadiri oleh Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, bersama jajaran direksi lainnya seperti Viviana Dyah Ayu (Finance & Strategy), Mucharom (Manajemen Risiko), Akhmad Purwakajaya (Micro), dan Aquarius Rudianto (Network & Retail Funding).

Hery Gunardi menekankan bahwa meskipun ada tekanan dari perang tarif dan fluktuasi nilai tukar, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat didukung konsumsi domestik. “Dampak jangka pendek depresiasi mata uang memang ada, namun fokus utama kami adalah pasar domestik sehingga perang tarif global tidak memberikan dampak signifikan bagi BRI. Negosiasi dagang dengan Amerika Serikat juga kami harapkan akan menghasilkan solusi positif,” jelasnya.

Sektor UMKM menjadi pilar utama bisnis BRI yang terus dikembangkan. Akhmad Purwakajaya mengungkapkan penyaluran kredit BRI hingga kuartal pertama 2025 mencapai Rp1.373,66 triliun atau naik 4,97% yoy, dengan porsi sebesar 81,97% dialokasikan untuk UMKM yakni Rp1.126,02 triliun. “Fokus kami adalah memperkuat segmen mikro melalui program AgenBRILink yang telah memiliki 1,2 juta agen tersebar di 67 ribu desa atau 88% desa di Indonesia,” ujar Akhmad.

Program AgenBRILink mencatat transaksi sebesar Rp423 triliun, naik signifikan 49,48% dari tahun sebelumnya. Program ini memperluas akses keuangan ke masyarakat yang selama ini sulit dijangkau perbankan konvensional, sekaligus meningkatkan literasi keuangan di berbagai daerah.

Mucharom menambahkan, perbaikan kualitas kredit menjadi perhatian utama BRI. Rasio NPL turun dari 3,11% menjadi 2,97%, sementara Loan at Risk juga berkurang dari 12,68% menjadi 11,12%. “Dengan NPL Coverage sebesar 200,60%, kami memiliki buffer yang kuat untuk mengantisipasi risiko yang mungkin timbul,” kata Mucharom.

Dalam hal penghimpunan Dana Pihak Ketiga, Aquarius Rudianto menyebutkan angka DPK BRI mencapai Rp1.421,60 triliun dengan komposisi dana murah (CASA) yang terus meningkat ke angka 65,77% atau Rp934,95 triliun. Ini menunjukkan daya tarik dana dari nasabah yang terus tumbuh.

Layanan digital juga terus dikembangkan guna memenuhi kebutuhan nasabah modern. “Super App BRImo kini melayani 40,28 juta pengguna aktif dengan transaksi mencapai 1,2 miliar senilai Rp1.599 triliun, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya. Selain itu, jaringan merchant QRIS kami telah mencapai 4,3 juta dan merchant EDC sebanyak 344 ribu,” terang Aquarius.

Direktur Finance & Strategy BRI, Viviana Dyah Ayu, menegaskan bahwa posisi likuiditas dan permodalan bank dalam kondisi kuat. Rasio LDR dan CAR berada pada level aman yaitu 86,03% dan 24,03%. “Hal ini memberi ruang bagi BRI untuk terus mengembangkan bisnis secara berkelanjutan di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis,” ujar Viviana.

Menutup acara, Hery Gunardi menegaskan bahwa BRI didukung oleh struktur organisasi yang solid dengan 36.600 tenaga pemasar dan 6 ribu lebih unit kerja di seluruh Indonesia. Bank ini melayani lebih dari 221 juta rekening simpanan serta 211 ribu pengguna korporasi melalui platform QLola. “Transformasi kami menuju universal banking bertujuan memberikan layanan menyeluruh bagi seluruh segmen, dari UMKM hingga korporasi besar. Kami optimistis kinerja positif ini akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan sesuai dengan visi Asta Cita pemerintah,” tutup Hery.

Terkini