BRI Bukukan Laba Rp13,8 Triliun dengan 1,2 Juta AgenBRILink, Mendorong Inklusi Keuangan dan Dukungan UMKM Hadapi Gejolak Global

Kamis, 15 Mei 2025 | 10:45:02 WIB

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali membuktikan kekuatan fundamentalnya di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada kuartal I 2025, BRI berhasil membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp13,80 triliun, mengukuhkan posisinya sebagai bank nasional dengan fokus utama pada pembiayaan sektor UMKM dan transformasi digital.

Total aset perseroan per Maret 2025 tercatat sebesar Rp2.098,23 triliun, naik 5,49% secara tahunan (year-on-year/yoy). Dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan I 2025, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa kondisi global yang dipenuhi ketidakpastian tidak membuat BRI lengah.

“Kami tetap fokus pada kekuatan domestik, yaitu konsumsi rumah tangga dan pembiayaan sektor UMKM yang terbukti tangguh. Perang tarif global diprediksi tidak memberi dampak signifikan ke BRI karena bisnis kami dominan di dalam negeri,” ujar Hery.

Penyaluran kredit sepanjang triwulan pertama 2025 mencapai Rp1.373,66 triliun atau naik 4,97% yoy. Lebih dari 81% portofolio kredit dialokasikan untuk sektor UMKM, yakni sebesar Rp1.126,02 triliun.

Akhmad Purwakajaya, Direktur Micro BRI, menjelaskan bahwa BRI terus memperluas jaringan inklusi keuangan melalui program AgenBRILink. “Kami telah memiliki 1,2 juta agen yang tersebar di lebih dari 67 ribu desa, dan ini menciptakan dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Akhmad.

AgenBRILink membukukan transaksi senilai Rp423 triliun per Maret 2025, meningkat hampir 50% dari tahun sebelumnya. Lonjakan ini menjadi indikator efektif dari strategi BRI menjangkau masyarakat lapisan bawah dan pelosok.

Peningkatan kinerja juga terlihat dari sisi manajemen risiko. Menurut Direktur Manajemen Risiko BRI, Mucharom, rasio kredit bermasalah atau NPL turun ke 2,97% dari sebelumnya 3,11%, sementara rasio Loan at Risk (LAR) turun menjadi 11,12%.

“Dengan NPL Coverage sebesar 200,60%, kami punya bantalan kuat menghadapi risiko eksternal, termasuk fluktuasi nilai tukar dan gejolak pasar global,” ujarnya.

Kinerja BRI juga ditopang oleh pertumbuhan dana murah. DPK BRI mencapai Rp1.421,60 triliun, dengan dana murah (CASA) naik signifikan menjadi Rp934,95 triliun atau 65,77% dari total DPK. Aquarius Rudianto, Direktur Network & Retail Funding, menyebutkan bahwa keberhasilan ini didukung digitalisasi yang terus berkembang.

“Super App BRImo menjadi tulang punggung layanan digital kami dengan 40,28 juta pengguna aktif dan volume transaksi mencapai Rp1.599 triliun dari 1,2 miliar transaksi,” terang Aquarius.

Selain itu, perluasan sistem pembayaran non-tunai juga menjadi bagian strategi BRI. Dengan 4,3 juta merchant QRIS dan 344 ribu merchant EDC, BRI memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam ekosistem ekonomi digital nasional.

Direktur Finance & Strategy, Viviana Dyah Ayu, menjelaskan bahwa posisi likuiditas dan permodalan BRI berada pada kondisi optimal. “Loan to Deposit Ratio (LDR) kami stabil di angka 86,03%, dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 24,03% memastikan kami punya ruang untuk ekspansi,” jelasnya.

Sebagai bank terbesar di Indonesia dari sisi aset dan jumlah nasabah, BRI terus bertransformasi menuju model universal banking. Hery Gunardi menekankan bahwa kekuatan jaringan distribusi dan SDM menjadi pilar penting dalam strategi pertumbuhan berkelanjutan.

“Dengan lebih dari 6 ribu unit kerja dan 36.600 tenaga pemasar, serta 221 juta rekening simpanan dan 211 ribu pengguna QLola korporasi, kami optimis dapat terus tumbuh dan berkontribusi pada pembangunan nasional,” pungkas Hery.

Dengan kinerja yang solid dan strategi yang adaptif, BRI menunjukkan bahwa bank nasional mampu menjadi penopang utama perekonomian Indonesia, terutama dalam memperkuat sektor UMKM dan memperluas layanan digital di tengah gejolak global.

Terkini