JAKARTA - Saat banyak institusi keuangan dunia berjibaku dengan ketidakpastian ekonomi global, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) justru membuktikan ketangguhannya. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, BRI sukses mencetak laba Rp13,8 triliun, menjadi salah satu pencapaian terbaik di sektor perbankan nasional di tengah kondisi pasar yang penuh tekanan.
Ekonomi global saat ini tengah berhadapan dengan berbagai tantangan: mulai dari tensi geopolitik, perang tarif, hingga volatilitas nilai tukar. Namun, BRI mampu menjaga kinerja solidnya berkat strategi bisnis yang berorientasi domestik serta kepercayaan penuh pada potensi sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).
“Fokus kami tetap pada kekuatan dalam negeri. Indonesia memiliki konsumsi domestik yang kuat, dan itu menjadi fondasi bagi kami untuk terus tumbuh,” ungkap Hery Gunardi, Direktur Utama BRI, dalam paparan publik kinerja kuartal I 2025.
Strategi UMKM yang Konsisten Berbuah Hasil
BRI tidak sekadar bertahan. Bank pelat merah ini justru mempertegas peran strategisnya dalam mendukung ekonomi kerakyatan. Selama kuartal pertama, dari total Rp1.373,66 triliun kredit yang disalurkan, lebih dari 81% atau Rp1.126,02 triliun diarahkan ke sektor UMKM. Ini menjadi sinyal kuat bahwa BRI bukan hanya pemain besar dalam industri perbankan, tapi juga mitra utama pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia.
“UMKM bukan hanya target pasar kami, tetapi adalah bagian dari misi sosial dan ekonomi kami,” jelas Akhmad Purwakajaya, Direktur Micro BRI. Ia menyebut bahwa BRI terus melakukan berbagai upaya pemberdayaan melalui pendampingan, pelatihan, dan pembiayaan berkelanjutan.
Infrastruktur layanan mikro BRI juga diperkuat melalui jaringan AgenBRILink, yang saat ini telah tumbuh menjadi lebih dari 1,2 juta agen aktif. Mereka tersebar di 88% desa di Indonesia, melayani masyarakat secara langsung hingga ke pelosok. Nilai transaksi melalui AgenBRILink mencapai Rp423 triliun, menunjukkan peran penting agen dalam memfasilitasi inklusi keuangan nasional.
Digitalisasi Jadi Tulang Punggung Pertumbuhan
Di sisi lain, BRI terus menunjukkan keberhasilan transformasi digitalnya. Aplikasi BRImo, yang menjadi solusi transaksi digital utama, kini telah memiliki 40,28 juta pengguna aktif, tumbuh 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam kuartal ini saja, BRImo memproses 1,2 miliar transaksi keuangan senilai Rp1.599 triliun.
Tak hanya BRImo, BRI juga memperluas adopsi sistem pembayaran digital melalui jaringan 4,3 juta merchant QRIS dan 344 ribu EDC di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di desa-desa terpencil.
Menurut Aquarius Rudianto, Direktur Network & Retail Funding BRI, digitalisasi bukan sekadar inovasi, melainkan bagian dari strategi pertumbuhan yang inklusif. “Dengan ekosistem digital yang kuat, kami mampu menjangkau lebih banyak masyarakat, memperluas akses layanan, dan mendorong gaya hidup finansial yang modern dan efisien,” jelasnya.
Stabilitas Fundamental, Siap Hadapi Ketidakpastian
Meski ekspansi terus dilakukan, BRI tetap menjaga fondasi keuangan yang sehat. Rasio Non-Performing Loan (NPL) berhasil ditekan ke angka 2,97%, membaik dari 3,11% tahun sebelumnya. Sementara NPL Coverage meningkat ke 200,60%, mencerminkan kesiapan BRI menghadapi potensi risiko kredit.
Dari sisi likuiditas, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.421,60 triliun, dengan porsi dana murah (CASA) mencapai 65,77% atau Rp934,95 triliun. Pertumbuhan CASA ini berkontribusi besar terhadap efisiensi biaya dana dan stabilitas neraca.
Viviana Dyah Ayu, Direktur Finance & Strategy BRI, menegaskan bahwa posisi permodalan juga sangat kuat. Dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 24,03% dan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,03%, BRI memiliki ruang yang luas untuk memperluas ekspansi kredit ke depan.
“Di tengah tekanan global, kami tetap optimis. Fondasi yang kuat, tata kelola yang baik, dan strategi bisnis yang fokus membuat kami mampu bertahan dan terus berkembang,” kata Viviana.
Ekspansi Jaringan dan Visi Jangka Panjang
Dengan lebih dari 6.000 unit kerja dan 36.600 tenaga pemasar aktif, BRI menjadi bank dengan jangkauan terluas di Indonesia. Tak hanya menjangkau ritel dan mikro, BRI juga kini agresif membangun layanan korporasi melalui platform QLola, yang telah digunakan oleh 211 ribu nasabah korporat.
Hery Gunardi menegaskan bahwa BRI sedang bergerak menuju posisi sebagai universal banking institution yang mampu melayani seluruh spektrum kebutuhan nasabah, dari pedagang kecil di pasar tradisional hingga pelaku usaha besar di kawasan industri.
“Kami optimis bahwa transformasi ini tidak hanya membuat BRI semakin kompetitif, tapi juga memperbesar kontribusi kami pada pembangunan nasional. Cetak laba Rp13,8 triliun di tengah tantangan ekonomi global adalah bukti nyata bahwa kami berada di jalur yang tepat, dan komitmen kami terhadap UMKM tidak akan pernah bergeser,” tutup Hery.