Laba Bersih BRI Naik Menjadi Rp13,80 Triliun per Maret 2025, Kinerja Keuangan Tumbuh Berkat Pembiayaan UMKM

Laba Bersih BRI Naik Menjadi Rp13,80 Triliun per Maret 2025, Kinerja Keuangan Tumbuh Berkat Pembiayaan UMKM

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali menunjukkan kinerja solid di tengah ketidakpastian ekonomi global pada kuartal I tahun 2025. Di tengah tensi geopolitik dan dampak perang tarif internasional, BRI sukses mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp13,80 triliun.

Capaian tersebut disampaikan Direktur Utama BRI, Hery Gunardi dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2025, didampingi jajaran direksi lainnya. Ia menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik dan perang tarif telah memberi tekanan terhadap perdagangan global, namun Indonesia masih mampu bertahan berkat konsumsi domestik yang kuat.

"Perlu dicatat bahwa ekonomi Indonesia, termasuk bisnis BRI, lebih banyak bergantung pada konsumsi domestik. Sehingga selain dari depresiasi mata uang yang sudah terjadi, perang tarif diproyeksikan tidak berdampak signifikan,” ujar Hery Gunardi.

Lebih lanjut, Hery menyebutkan bahwa meskipun konsumsi domestik belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi, sektor UMKM tetap menjadi penggerak utama ekonomi. Oleh karena itu, BRI tetap berkomitmen menumbuhkembangkan dan memberdayakan UMKM.

“Kami terus memperkuat peran sebagai bank pro-rakyat. BRI tetap fokus mendukung pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional dengan pemberdayaan UMKM,” tegas Hery.

BRI mencatatkan total aset sebesar Rp2.098,23 triliun, tumbuh 5,49% secara tahunan (year on year). Pertumbuhan ini ditopang oleh penyaluran kredit sebesar Rp1.373,66 triliun, naik 4,97% yoy, di mana porsi kredit UMKM mencapai 81,97% atau setara Rp1.126,02 triliun.

Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menjelaskan bahwa ekspansi kredit UMKM juga didukung oleh penguatan literasi dan inklusi keuangan melalui AgenBRILink yang kini berjumlah lebih dari 1,2 juta agen.

“Agen-agen ini tersebar di lebih dari 67 ribu desa, menjangkau lebih dari 88% desa di Indonesia, dengan volume transaksi mencapai Rp423 triliun pada Triwulan I 2025,” ungkap Akhmad.

Sementara dari sisi risiko, BRI berhasil memperbaiki kualitas kredit. Rasio Non-Performing Loan (NPL) menurun dari 3,11% menjadi 2,97%, dan Loan at Risk (LAR) dari 12,68% menjadi 11,12%. Rasio NPL Coverage juga berada pada level aman di 200,60%.

“Dengan coverage ratio yang sangat memadai ini, BRI tidak hanya menjaga stabilitas neraca, tetapi juga memberi keyakinan kepada seluruh pemangku kepentingan,” ujar Direktur Manajemen Risiko BRI, Mucharom.

Direktur Network & Retail Funding BRI, Aquarius Rudianto, menambahkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.421,60 triliun, dengan proporsi CASA (Current Account Savings Account) sebesar 65,77% atau Rp934,95 triliun.

Pertumbuhan CASA ditopang oleh kinerja aplikasi BRImo, yang per akhir Maret 2025 telah memiliki 40,28 juta pengguna, meningkat 20,26% yoy. Aplikasi ini melayani 1,2 miliar transaksi finansial dengan volume Rp1.599 triliun.

“Transformasi digital BRI terus memperkuat ekosistem layanan perbankan, termasuk melalui 4,3 juta merchant QRIS dan 344 ribu merchant EDC yang tersebar hingga pelosok desa,” jelas Aquarius.

Dari sisi likuiditas dan permodalan, BRI mencatatkan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,03% dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 24,03%, jauh di atas ambang minimum yang dipersyaratkan regulator.

“Posisi likuiditas dan permodalan yang solid menjadi fondasi kuat bagi BRI untuk terus tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Direktur Finance & Strategy, Viviana Dyah Ayu.

Menutup konferensi pers, Hery menegaskan bahwa BRI siap menjawab tantangan ekonomi global dengan inovasi dan jangkauan layanan yang luas.

“Saat ini, BRI memiliki lebih dari 36.600 tenaga pemasar serta lebih dari 6.000 unit kerja di seluruh penjuru negeri. Kami juga memiliki lebih dari 221 juta rekening simpanan dan 211 ribu user QLola di segmen korporasi. Ini adalah kekuatan strategis kami,” pungkasny

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index