JAKARTA - Di tengah arus deras pemain keturunan yang memilih kembali ke Indonesia, satu nama masih konsisten menempuh jalur berbeda.
Saat banyak pemain diaspora memutuskan merumput di BRI Super League, Elkan Baggott justru tetap bertahan mengejar mimpi di Eropa. Pilihan ini membuat perjalanannya terasa sunyi, penuh tantangan, sekaligus menarik untuk disimak.
Fenomena pulang kampung pemain keturunan semakin terlihat jelas dalam beberapa musim terakhir. Sejumlah nama muda yang masih berada di usia emas karier memilih berkiprah di kompetisi domestik demi mendapatkan menit bermain reguler. Dion Markx dan Eliano Reijnders kini memperkuat Persib Bandung, sementara Rafael Struick berlabuh ke Dewa United. Mauro Zijlstra pun resmi menjadi bagian dari Persija Jakarta.
Di tengah tren tersebut, Elkan Baggott menjadi pengecualian. Bek jangkung Timnas Indonesia itu masih berusaha mempertahankan tempatnya di sepak bola Inggris. Keputusan tersebut menempatkannya pada jalur yang lebih berat, namun sekaligus mencerminkan tekad kuat untuk terus berkembang di level kompetitif Eropa.
Pilihan Berbeda di Tengah Arus Pulang Kampung
Keputusan Elkan Baggott untuk tetap bertahan di Inggris bukan tanpa alasan. Di saat banyak pemain keturunan melihat BRI Super League sebagai peluang baru, Elkan memilih jalur yang lebih menantang. Ia menyadari bahwa persaingan di Eropa jauh lebih ketat, namun pengalaman tersebut diyakini bisa membentuk kualitasnya sebagai pemain bertahan.
Pilihan ini membuat perjalanan karier Elkan terasa berbeda dibanding rekan-rekannya. Saat pemain lain mendapatkan sorotan besar di kompetisi domestik, Elkan justru harus berjuang dalam senyap, menanti kesempatan tampil di klub yang level persaingannya tinggi. Situasi inilah yang kemudian melahirkan istilah jalan sunyi dalam perjalanan kariernya.
Status Kontrak Bersama Ipswich Town
Elkan Baggott saat ini masih terikat kontrak dengan Ipswich Town hingga akhir Januari 2028. Secara status, ia merupakan bagian dari rencana jangka panjang klub. Namun, realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan kontrak yang dimiliki seorang pemain.
Karier Elkan di Ipswich Town terbilang tidak mudah. Ia lebih sering menjalani masa peminjaman ke klub lain ketimbang tampil reguler bersama tim utama. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pemain muda yang membutuhkan jam terbang konsisten untuk berkembang.
Selama berada di bawah kontrak Ipswich Town, Elkan Baggott sudah dipinjamkan ke empat klub berbeda. Blackpool, Gillingham, Cheltenham Town, dan Bristol Rovers menjadi tempat singgahnya dalam upaya mencari menit bermain. Setiap peminjaman memberi pengalaman baru, namun juga menuntut adaptasi cepat di lingkungan yang berbeda.
Kemungkinan Peminjaman Kembali
Peluang Elkan Baggott untuk kembali dipinjamkan terbuka lebar pada bursa transfer Januari 2026. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh manajer Ipswich Town, Kieran McKenna. Menurutnya, sejumlah pemain muda memang membutuhkan waktu bermain lebih banyak demi perkembangan karier mereka.
“Sudah pasti hal itu menjadi pembahasan. Sejujurnya, mereka kurang beruntung saja. Pertama-tama, catatan cedera kami sepanjang tahun 2025 sangat minimal. Pemain seperti Elkan Baggott, Cameron Humphreys, dan Harry Clarke, jadi harus amat sabar,” kata McKenna.
Pernyataan tersebut menggambarkan situasi sulit yang dihadapi Elkan. Minimnya cedera di skuad utama membuat persaingan semakin ketat, sehingga peluang tampil menjadi terbatas. Peminjaman kembali bisa menjadi solusi, meski berarti Elkan harus kembali beradaptasi dengan klub baru.
Perjuangan Panjang di Sepak Bola Inggris
Bertahan di Inggris bukan perkara mudah, terutama bagi pemain bertahan muda. Elkan Baggott harus bersaing dengan pemain berpengalaman dan talenta lokal yang sudah terbiasa dengan ritme keras sepak bola Inggris. Setiap kesempatan tampil menjadi ajang pembuktian, bukan hanya bagi klub, tetapi juga untuk karier jangka panjangnya.
Meski jarang mendapat menit bermain bersama Ipswich Town, Elkan tetap menunjukkan profesionalisme. Ia terus menjaga kondisi fisik dan mental agar siap ketika kesempatan datang. Sikap ini menjadi modal penting untuk bertahan di lingkungan kompetitif yang menuntut konsistensi tinggi.
Kerinduan Publik Timnas Indonesia
Di luar karier klub, Elkan Baggott juga memiliki cerita tersendiri bersama Timnas Indonesia. Bek berusia 23 tahun ini sempat menjadi salah satu pilar di lini belakang Skuad Garuda. Hingga kini, ia telah mencatatkan 23 caps dan menyumbang dua gol untuk tim nasional.
Namun, sudah cukup lama Elkan tidak mengenakan seragam Timnas Indonesia. Piala Asia 2023 menjadi turnamen terakhir yang diikutinya bersama Skuad Garuda. Sejak saat itu, namanya absen dari daftar pemain yang dipanggil membela Merah Putih.
Banyak suporter Timnas Indonesia merindukan kehadirannya. Keunggulan Elkan dalam duel udara serta postur jangkungnya dianggap sebagai aset penting di lini pertahanan. Kerinduan tersebut menjadi bukti bahwa kontribusinya masih diingat, meski kini ia tengah berjuang jauh dari sorotan.
Menanti Hasil dari Jalan Sunyi
Pilihan Elkan Baggott untuk tetap bertahan di Eropa memang tidak menjanjikan hasil instan. Namun, jalan sunyi ini bisa menjadi fondasi kuat bagi kariernya di masa depan. Dengan pengalaman yang terus bertambah, Elkan berpeluang kembali sebagai pemain yang lebih matang, baik untuk klub maupun Timnas Indonesia.
Di tengah tren pulang kampung pemain keturunan, kisah Elkan menjadi pengingat bahwa setiap pemain memiliki jalannya sendiri. Bertahan di Eropa adalah pilihan berat, tetapi juga sarat pembelajaran. Kini, publik hanya bisa menunggu, apakah kesabaran dan kerja keras Elkan akan berbuah manis di kemudian hari.