Festival

Festival Sakura Fuji Dibatalkan Akibat Overtourism, Ini Pilihan Wisata Alternatif Musim Semi

Festival Sakura Fuji Dibatalkan Akibat Overtourism, Ini Pilihan Wisata Alternatif Musim Semi
Festival Sakura Fuji Dibatalkan Akibat Overtourism, Ini Pilihan Wisata Alternatif Musim Semi

JAKARTA - Keindahan bunga sakura yang biasanya menjadi magnet wisata di kaki Gunung Fuji tahun ini justru berujung pada keputusan berat. 

Pemerintah setempat memilih menghentikan sebuah festival populer demi menjaga ketenangan warga. Fenomena overtourism yang kian intens memaksa kota tersebut mengambil langkah tegas, sekaligus memicu diskusi lebih luas soal pariwisata berkelanjutan dan pilihan destinasi alternatif bagi wisatawan.

Festival bunga sakura yang selama satu dekade terakhir digelar di sebuah kota di kaki Gunung Fuji resmi dibatalkan pada 2026. Pengumuman tersebut disampaikan pada Selasa, 3 Februari 2026, dengan alasan utama bahwa kehidupan warga setempat semakin terancam oleh membludaknya wisatawan. Keputusan ini menjadi sorotan karena festival tersebut dikenal sebagai salah satu agenda musim semi paling diminati di kawasan itu.

Overtourism Mengancam Kehidupan Warga Lokal

Pemerintah kota menilai dampak pariwisata massal telah melampaui batas toleransi. Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi, menegaskan bahwa di balik panorama Gunung Fuji yang memukau, terdapat realitas sosial yang tidak bisa diabaikan. “Di balik pemandangan indah (Gunung Fuji) terdapat kenyataan bahwa kehidupan tenang warga terancam. Kami merasakan krisis yang kuat,” kata Horiuchi dalam pernyataan resminya.

Festival bunga sakura tersebut biasanya berlangsung selama beberapa minggu dan mampu menarik sekitar 200 ribu wisatawan. Lonjakan wisatawan asing memicu kemacetan lalu lintas yang parah, penumpukan sampah puntung rokok, hingga keluhan serius dari warga. Pemerintah kota bahkan menerima laporan pelanggaran batas properti dan kasus buang air besar di kebun pribadi warga.

Keputusan Berat Mengakhiri Festival Satu Dekade

Situasi yang semakin tidak terkendali membuat pemerintah kota mengambil langkah drastis. “Untuk melindungi martabat dan lingkungan hidup warga kami, kami telah memutuskan untuk mengakhiri festival yang telah berlangsung selama 10 tahun ini,” sambung Horiuchi. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keputusan ini diambil bukan tanpa pertimbangan panjang.

Pembatalan festival menjadi simbol bahwa daya tarik wisata yang berlebihan dapat berbalik menjadi ancaman. Meski demikian, keputusan ini bukan berarti menutup total akses wisata. Pemerintah tetap membuka lokasi taman yang menghadap Gunung Fuji, lengkap dengan pohon sakura dan pagoda lima lantai, meski tanpa rangkaian acara festival resmi.

Gunung Fuji Tetap Jadi Magnet Wisata Abadi

Meski festival dibatalkan, kawasan sekitar Gunung Fuji diperkirakan tetap akan ramai menjelang musim semi. Gunung Fuji dikenal sebagai objek wisata abadi Jepang yang selalu menarik pengunjung domestik maupun mancanegara. Pemerintah menyadari bahwa pembatalan festival tidak serta-merta menghilangkan arus wisatawan.

Kota-kota lain di kaki Gunung Fuji bahkan telah lebih dulu menghadapi masalah serupa. Mereka menerapkan berbagai kebijakan pengendalian, mulai dari membangun penghalang visual untuk mencegah kerumunan foto, menaikkan biaya masuk pendakian, hingga membatasi jumlah pengunjung harian. Langkah-langkah ini menjadi cerminan upaya menyeimbangkan pariwisata dan kualitas hidup warga.

Minat Wisata Sakura Meluas Ke Destinasi Lain

Sakura selama ini identik dengan Jepang, namun minat wisatawan kini semakin meluas. Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, tiket.com mencatat peningkatan pencarian perjalanan bertema sakura sejak awal tahun. Menariknya, pencarian tersebut tidak hanya mengarah ke Jepang, tetapi juga ke berbagai destinasi lain di Asia.

“Kami melihat wisatawan Indonesia kini semakin terbuka mengeksplorasi berbagai destinasi selain Jepang, sekaligus memanfaatkan momentum awal tahun untuk mulai merencanakan liburan musim semi,” kata Maria Risa Puspitasari, SVP of Brand Marketing, tiket.com. Tren ini membuka peluang bagi destinasi alternatif yang menawarkan pengalaman serupa dengan kepadatan lebih rendah.

Korea Selatan Dan Taiwan Jadi Pilihan Populer

Korea Selatan menjadi salah satu alternatif utama untuk menikmati sakura. Di Seoul, kawasan seperti Yeouido Park, Seokchon Lake, dan Namsan Park menawarkan pemandangan sakura berlatar gedung perkotaan modern. Sementara Busan menghadirkan Dalmaji Hill dan Oncheoncheon Stream dengan nuansa pesisir yang khas, dilengkapi berbagai festival musim semi tahunan.

Taiwan juga menawarkan pengalaman sakura yang lebih santai dan relatif terjangkau. Wisatawan dapat menikmati hamparan sakura di Yangmingshan National Park dan Wulai dengan latar pegunungan dan udara sejuk. Aktivitas berburu sakura di Taiwan kerap dikombinasikan dengan wisata kuliner pasar malam, kedai teh tradisional, hingga pemandian air panas. Akses penerbangan tersedia melalui China Airlines dengan rute Jakarta–Taipei dan Denpasar–Taipei.

Tiongkok Dan Hong Kong Hadirkan Nuansa Berbeda

Di Tiongkok, Beijing menjadi salah satu kota favorit menikmati sakura. Yuyuantan Park, Temple of Heaven, dan Summer Palace menawarkan perpaduan bunga sakura dengan bangunan klasik bersejarah. Nuansa budaya dan heritage yang kuat memberikan pengalaman musim semi yang berbeda dibanding Jepang.

Hong Kong menjadi opsi praktis bagi wisatawan dengan waktu terbatas. Kota ini memiliki spot sakura di Kowloon Park, Hong Kong Velodrome Park, hingga kawasan Ngong Ping yang memadukan pemandangan sakura, cable car, dan lanskap pegunungan. Destinasi ini cocok untuk liburan singkat tanpa harus menghadapi kepadatan ekstrem.

Alternatif Lokasi Sakura Di Jepang Tetap Tersedia

Bagi wisatawan yang tetap memilih Jepang, masih banyak lokasi selain Tokyo, Kyoto, dan Osaka yang dapat dipertimbangkan. Weathernews sejak awal tahun telah merilis perkiraan tanggal mekar sakura pertama 2026. Beberapa di antaranya adalah Tokyo pada 21 Maret 2026, Osaka 27 Maret 2026, Fukuoka 23 Maret 2026, hingga Sapporo pada 25 April 2026.

Daftar tersebut menunjukkan bahwa Jepang menawarkan rentang waktu dan lokasi yang luas untuk menikmati sakura. Dengan perencanaan matang dan pemilihan destinasi yang lebih sepi, wisatawan tetap bisa merasakan keindahan musim semi tanpa menambah tekanan pada wilayah yang sudah terdampak overtourism.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index