UMKM

Program UMKM BISA Ekspor Kemendag Catat Transaksi Rp2,27 Triliun Sepanjang 2025

Program UMKM BISA Ekspor Kemendag Catat Transaksi Rp2,27 Triliun Sepanjang 2025
Program UMKM BISA Ekspor Kemendag Catat Transaksi Rp2,27 Triliun Sepanjang 2025

JAKARTA - Upaya mendorong pelaku usaha kecil menembus pasar global terus menunjukkan hasil nyata. 

Sepanjang 2025, Kementerian Perdagangan mencatat nilai transaksi signifikan dari program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor atau UMKM BISA Ekspor. Program ini menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam memperluas akses UMKM Indonesia ke pasar internasional secara berkelanjutan.

Capaian tersebut menegaskan bahwa pelaku UMKM nasional memiliki daya saing yang kian kuat. Dengan pendampingan, fasilitasi, serta akses jejaring global yang tepat, produk UMKM dinilai mampu memenuhi kebutuhan dan selera pasar luar negeri. Pemerintah pun menilai keberhasilan ini sebagai sinyal positif bagi penguatan ekspor berbasis kerakyatan.

Nilai Transaksi Tembus Triliunan Rupiah

Kementerian Perdagangan mencatat program UMKM BISA Ekspor telah memfasilitasi 1.217 pelaku usaha sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, total transaksi yang berhasil dibukukan mencapai 134,87 juta dolar AS atau setara Rp2,27 triliun. Angka ini menjadi bukti konkret kontribusi UMKM dalam perdagangan internasional Indonesia.

“Capaian ini membuktikan UMKM Indonesia punya kesempatan bersaing untuk diterima di pasar internasional,” ujar Menteri Perdagangan Budi dalam keterangannya di Jakarta, Senin. Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari konsistensi program yang menghubungkan UMKM dengan calon pembeli global.

Total transaksi tersebut terdiri atas purchase order senilai 57,45 juta dolar AS serta potensi transaksi sebesar 77,42 juta dolar AS. Potensi ini diharapkan dapat terealisasi dalam periode berikutnya seiring keberlanjutan komunikasi bisnis antara pelaku UMKM dan mitra luar negeri.

Ratusan Business Matching Jadi Penggerak

Sepanjang 2025, program UMKM BISA Ekspor melaksanakan 622 kegiatan penjajakan bisnis atau business matching. Kegiatan ini mencakup 399 sesi pitching, yakni presentasi produk UMKM kepada perwakilan perdagangan Republik Indonesia di luar negeri, serta 223 pertemuan langsung dengan pembeli mancanegara.

Pitching dan business matching tersebut menjadi jembatan penting antara UMKM dan pasar global. Melalui forum ini, pelaku usaha tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga mendapatkan masukan terkait standar kualitas, desain, hingga preferensi konsumen di negara tujuan.

Dalam pelaksanaannya, mitra internasional yang paling banyak terlibat berasal dari Uni Emirat Arab. Negara lain yang aktif dalam kegiatan ini antara lain Hungaria, Hong Kong, Malaysia, dan Korea Selatan. Keterlibatan berbagai negara ini menunjukkan luasnya jangkauan pasar potensial bagi produk UMKM Indonesia.

Produk Unggulan UMKM Paling Diminati

Dari sisi komoditas, produk makanan dan minuman menjadi yang paling mendominasi dalam sesi pitching dan business matching. Persentasenya mencapai 29,99 persen, mencerminkan tingginya minat pasar global terhadap produk pangan olahan asal Indonesia.

Di posisi berikutnya terdapat produk perkebunan dengan kontribusi 14,91 persen. Furnitur dan dekorasi rumah serta tekstil dan produk tekstil atau fesyen masing-masing menyumbang 10,94 persen. Sementara itu, produk perikanan mencatatkan porsi sebesar 5,63 persen.

Komposisi ini menunjukkan keragaman produk UMKM yang mampu menembus pasar internasional. Selain itu, data tersebut juga menjadi acuan bagi pemerintah dalam merancang strategi pengembangan komoditas ekspor UMKM ke depan.

Business Matching Tematik Dorong Inklusivitas

Selain kegiatan reguler yang digelar setiap bulan, UMKM BISA Ekspor juga menginisiasi business matching tematik. Inisiatif ini bertujuan menggaungkan fasilitasi UMKM yang inklusif, agar lebih banyak pelaku usaha dari berbagai latar belakang memperoleh kesempatan yang sama.

Business matching tematik Disabilitas dilaksanakan pada 26–29 September 2025. Kegiatan ini mempertemukan UMKM dengan Indonesia Trade Promotion Center di Santiago, Cile, ITPC Osaka di Jepang, Atase Perdagangan RI Berlin di Jerman, serta Atase Perdagangan RI Bangkok di Thailand. Produk yang dipromosikan meliputi kerajinan dan fesyen.

Kemendag juga menyelenggarakan dua sesi business matching dalam rangka peringatan Hari Perempuan Internasional atau Women’s Day 2025. Kegiatan ini melibatkan perwakilan perdagangan RI di Hungaria dan Inggris, dengan menampilkan produk makanan ringan, fesyen, dan batik.

“Business matching tematik mendorong partisipasi UMKM penyandang disabilitas dan perempuan pelaku usaha agar produk unggulannya dapat dikenal dan diterima di pasar internasional,” jelas Budi. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan komitmen untuk memastikan akses pasar global yang setara.

Strategi Penguatan Program ke Depan

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyampaikan bahwa program UMKM BISA Ekspor akan terus diperkuat. Salah satu fokusnya adalah melibatkan secara aktif kedutaan besar RI dan konsulat jenderal RI di berbagai negara tujuan ekspor.

Kemendag juga telah menyusun rekomendasi 178 pameran internasional yang dapat dimanfaatkan pembina UMKM. Rekomendasi ini disiapkan sebagai referensi untuk mendorong produk binaan UMKM agar lebih siap masuk pasar ekspor pada 2026.

“Para pembina UMKM juga mengharapkan masukan yang lebih intensif dari perwakilan perdagangan RI menyangkut kesesuaian produk UMKM dengan karakteristik pasar negara tujuan,” kata Puntodewi. Dengan sinergi tersebut, pemerintah berharap kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional dapat terus meningkat secara berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index