Batu Bara

Kebijakan Trump dan Indonesia Angkat Harga Batu Bara Tertinggi Setahun Global

Kebijakan Trump dan Indonesia Angkat Harga Batu Bara Tertinggi Setahun Global
Kebijakan Trump dan Indonesia Angkat Harga Batu Bara Tertinggi Setahun Global

JAKARTA - Pergerakan harga batu bara global memasuki fase yang jarang terjadi dalam satu tahun terakhir. 

Pada perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, harga komoditas energi ini melonjak dan bertahan di level tertinggi sejak Januari 2025. Kenaikan tersebut bukan semata dipicu faktor pasar, melainkan rangkaian kebijakan strategis dari dua negara kunci, yakni Amerika Serikat dan Indonesia. Kombinasi intervensi politik dan pengaturan pasokan membuat harga batu bara kembali menjadi sorotan pelaku industri energi dunia.

Mengacu data Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$119 per ton atau stagnan dibanding hari sebelumnya. Namun secara harian, harga tersebut telah melonjak 2,37 persen. Penutupan ini menjadi level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Kenaikan harga batu bara ini mencerminkan perubahan arah kebijakan energi global yang kini kembali memberi ruang besar bagi batu bara sebagai sumber energi andalan.

Dukungan Politik Trump Dorong Harga Batu Bara

Lonjakan harga batu bara tidak lepas dari kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali menunjukkan keberpihakan kuat pada industri batu bara. Dalam acara Champion of Coal di Gedung Putih pada Rabu waktu setempat, Trump menyampaikan bahwa ia telah menginstruksikan Departemen Energi AS untuk mengamankan pendanaan. Tujuannya agar sejumlah pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara tetap beroperasi.

Pembangkit listrik yang dimaksud berada di beberapa negara bagian penting seperti West Virginia, Ohio, North Carolina, dan Kentucky. Kebijakan ini secara langsung memberi sinyal positif kepada pasar bahwa batu bara masih memiliki peran strategis dalam bauran energi AS. Pernyataan Trump tersebut turut memperkuat ekspektasi permintaan batu bara dalam jangka menengah.

Selain itu, Trump juga mengumumkan rencana penandatanganan perintah eksekutif. Perintah ini akan mengarahkan Departemen Pertahanan AS untuk membuat perjanjian pembelian listrik langsung dengan PLTU berbasis batu bara. Langkah tersebut ditujukan untuk menjamin pasokan listrik yang stabil bagi kebutuhan militer Amerika Serikat.

Pentagon Amankan Pasokan Listrik Berbasis Batu Bara

Trump menegaskan bahwa keterlibatan militer dalam pembelian listrik dari PLTU batu bara akan memberikan efisiensi biaya. “Kami sekarang akan membeli banyak batu bara melalui militer, dan itu akan lebih murah serta jauh lebih efektif dibandingkan apa yang telah kami gunakan selama bertahun-tahun,” kata Trump, dikutip dari Reuters. Pernyataan ini semakin menguatkan optimisme pasar terhadap masa depan batu bara.

Trump juga menginstruksikan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk menyusun kontrak pembelian listrik jangka panjang. Kontrak ini akan mendukung operasi militer sekaligus memberikan kepastian bisnis bagi industri batu bara domestik. Kantor instalasi energi Pentagon disebut aktif mengejar perjanjian tersebut demi meningkatkan permintaan batu bara nasional.

Gedung Putih bahkan mengumumkan alokasi dana sebesar US$175 juta dari Departemen Energi. Dana ini akan digunakan untuk meningkatkan enam PLTU di Kentucky, North Carolina, Ohio, Virginia, dan West Virginia. Langkah tersebut memperlihatkan komitmen konkret pemerintah AS dalam mempertahankan infrastruktur batu bara.

Klaim Peningkatan Produksi dan Konsumsi Batu Bara AS

Trump mengklaim pembangkitan listrik berbasis batu bara meningkat hampir 15 persen pada tahun pertama masa jabatannya. Bahkan, ia memproyeksikan kenaikan tersebut akan melonjak hingga 25–30 persen pada tahun berikutnya. Klaim ini menjadi narasi kuat yang mendorong sentimen positif di pasar komoditas global.

“Lebih banyak batu bara berarti biaya lebih rendah dan lebih banyak uang di kantong warga Amerika,” ujar Trump. Pernyataan tersebut sejalan dengan strategi politiknya yang menekankan pertumbuhan ekonomi dan penurunan biaya hidup. Di sisi lain, kebijakan ini juga mengundang perdebatan terkait arah transisi energi dan isu lingkungan.

Namun bagi pasar, pesan yang ditangkap jelas. Pemerintah AS tidak hanya memberi dukungan verbal, tetapi juga kebijakan nyata yang meningkatkan permintaan batu bara. Dampaknya, harga batu bara global langsung merespons positif.

Lonjakan Kebutuhan Listrik dan Peran Industri AI

Kebijakan agresif Trump juga tidak terlepas dari lonjakan kebutuhan listrik akibat ekspansi industri kecerdasan buatan atau AI. Industri ini dikenal sangat haus energi dan membutuhkan pasokan listrik stabil dalam jumlah besar. Trump menilai listrik dari “batu bara bersih dan indah” menjadi kunci memenangkan persaingan global di bidang AI.

Selain itu, faktor politik menjelang pemilu sela November juga ikut memengaruhi arah kebijakan. Trump ingin menekan tagihan listrik konsumen agar tetap terjangkau. Batu bara kembali diposisikan sebagai solusi cepat dan efektif dibandingkan energi terbarukan yang dinilai belum sepenuhnya stabil.

Padahal, selama satu dekade terakhir, penggunaan batu bara di AS terus menurun. Tekanan dari energi terbarukan, gas alam yang lebih murah, serta isu perubahan iklim membuat batu bara tersisih. Namun kini, tren tersebut berbalik arah seiring perubahan kebijakan pemerintah.

Indonesia Pangkas Produksi Demi Jaga Harga

Selain faktor Amerika Serikat, kebijakan Indonesia juga berperan besar dalam mendorong kenaikan harga batu bara. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah sengaja memangkas kuota produksi batu bara tahun ini. Pemangkasan dilakukan melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya pertambangan.

Tujuan kebijakan ini adalah mengintervensi pasar agar harga batu bara tidak jatuh akibat kelebihan pasokan. Bahlil menegaskan langkah tersebut murni berdasarkan hukum ekonomi dasar, yakni keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Dengan produksi yang lebih terkendali, harga diharapkan tetap stabil bahkan terdorong naik.

“Kenapa RKAB itu kita potong? Karena supply and demand,” ujar Bahlil di Jakarta, Kamis 12 Februari 2026. Ia menambahkan bahwa selama ini harga batu bara Indonesia kerap dikendalikan pihak asing meski Indonesia merupakan eksportir terbesar dunia.

Dominasi Indonesia di Pasar Batu Bara Global

Berdasarkan catatan pemerintah, total volume perdagangan batu bara dunia mencapai 1,3 miliar ton per tahun. Indonesia sendiri menyuplai sekitar 560 juta ton atau menguasai pangsa pasar 43–44 persen. Namun dominasi volume tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan kendali harga.

Bahlil menilai Indonesia seharusnya mampu memengaruhi harga global. Oleh karena itu, pengaturan volume produksi menjadi instrumen penting. Meski demikian, pemerintah memberikan pengecualian bagi pemegang PKP2B Generasi 1, termasuk tambang milik PT Bumi Resources Tbk dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk, serta BUMN pemegang IUP.

Dengan kombinasi kebijakan Amerika Serikat dan Indonesia tersebut, harga batu bara global mendapatkan dorongan kuat. Situasi ini menunjukkan bagaimana keputusan politik dan strategi pasokan mampu mengubah arah pasar komoditas secara signifikan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index