Tokio Marine Life Insurance

Tokio Marine Life Insurance Soroti Volatilitas IHSG dan Dampaknya ke Unitlink Saham

Tokio Marine Life Insurance Soroti Volatilitas IHSG dan Dampaknya ke Unitlink Saham
Tokio Marine Life Insurance Soroti Volatilitas IHSG dan Dampaknya ke Unitlink Saham

JAKARTA - Gejolak pasar saham pada awal tahun menjadi perhatian pelaku industri asuransi jiwa, terutama bagi produk unitlink berbasis saham. 

PT Tokio Marine Life Insurance Indonesia menilai koreksi Indeks Harga Saham Gabungan atau Indeks Harga Saham Gabungan pada akhir Januari 2026 berpotensi memengaruhi kinerja produk tersebut. Dinamika pasar dinilai berdampak langsung pada nilai investasi yang melekat dalam unitlink.

Head of Investment Tokio Marine Life Insurance Indonesia, Kornelis Pandu Wicaksono, menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir pasar keuangan domestik dipengaruhi sejumlah sentimen global. Pergerakan tersebut tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan dipicu berbagai faktor eksternal. Kondisi ini kemudian tercermin pada volatilitas IHSG.

Ia menyebut sorotan MSCI terhadap tata kelola pasar serta perubahan outlook dari lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's menjadi salah satu faktor penekan. Perubahan persepsi tersebut memengaruhi pandangan investor terhadap risiko di pasar negara berkembang. Indonesia pun tidak luput dari dampak sentimen global tersebut.

Sentimen Global dan Persepsi Risiko Investor

Menurut Kornelis, faktor-faktor tersebut memengaruhi persepsi risiko investor terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampaknya terlihat dari volatilitas IHSG dan koreksi yang terjadi pada akhir Januari 2026. Fluktuasi indeks menjadi cerminan respons pasar terhadap dinamika eksternal.

Kondisi tersebut berimplikasi pada instrumen investasi yang berbasis ekuitas. Unitlink saham pada dasarnya menempatkan dana pada saham-saham di pasar modal. Karena itu, setiap gejolak pada IHSG akan tercermin pada pergerakan nilai unit produk tersebut.

Kornelis menuturkan unitlink berbasis saham secara alami mengikuti dinamika pasar saham. Ketika pasar terkoreksi, nilai unit berpotensi mengalami penyesuaian. Sebaliknya, saat pasar menguat, potensi imbal hasil juga terbuka.

“Oleh karena itu, dalam jangka pendek, volatilitas dapat memengaruhi nilai unit,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (19/2/2026). Pernyataan tersebut menegaskan adanya keterkaitan langsung antara kondisi pasar saham dan kinerja unitlink berbasis ekuitas.

Horizon Investasi Menjadi Penentu

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa fluktuasi jangka pendek merupakan bagian dari siklus pasar. Bagi nasabah dengan horizon investasi menengah hingga panjang, volatilitas IHSG tidak selalu mencerminkan kinerja jangka panjang. Pergerakan pasar yang naik turun merupakan dinamika yang wajar.

Sepanjang fundamental ekonomi domestik tetap terjaga dan stabilitas kebijakan terpelihara, peluang pemulihan masih terbuka. Faktor fundamental menjadi penopang utama keberlanjutan kinerja investasi. Stabilitas makroekonomi juga menjadi kunci menjaga kepercayaan investor.

Kornelis menegaskan perusahaan tetap mengelola dana sesuai mandat investasi yang dipilih nasabah. Setiap produk dirancang berdasarkan profil risiko masing-masing pemegang polis. Prinsip kehati-hatian menjadi landasan utama dalam pengelolaan portofolio.

“Perusahaan memastikan pengelolaan dana dilakukan sesuai mandat investasi yang dipilih nasabah berdasarkan profil risiko masing-masing, dengan penerapan prinsip kehati-hatian,” jelasnya. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko.

Respons Regulator dan Stabilitas Pasar

Ia juga melihat adanya langkah responsif dari regulator dan pelaku pasar dalam menjaga stabilitas serta kepercayaan investor. Koordinasi yang baik dinilai penting untuk meredam gejolak berlebihan. Stabilitas menjadi fondasi agar tekanan jangka pendek tidak berkembang menjadi risiko sistemik.

Stabilitas tersebut dianggap krusial bagi keberlanjutan instrumen berbasis pasar, termasuk unitlink. Dengan dukungan kebijakan yang adaptif, diharapkan dinamika pasar tetap terkendali. Hal ini sekaligus menjaga minat masyarakat terhadap produk investasi asuransi.

Data kinerja industri juga memberikan gambaran situasi terkini. Berdasarkan data Infovesta per Januari 2026, rata-rata imbal hasil unitlink saham masih mencatatkan kinerja tipis positif sebesar 0,41 persen secara year to date. Capaian tersebut terjadi di tengah volatilitas pasar saham.

Angka tersebut menunjukkan bahwa meski IHSG mengalami koreksi, sebagian produk masih mampu membukukan hasil positif. Namun, capaian itu tetap mencerminkan tekanan yang dirasakan sepanjang Januari. Investor perlu memahami konteks pergerakan tersebut.

Perbandingan Kinerja Antar Jenis Unitlink

Selain unitlink saham, produk berbasis pasar uang mencatatkan rata-rata return terbesar kedua pada Januari 2026 sebesar 0,25 persen. Instrumen ini relatif lebih stabil karena berinvestasi pada instrumen jangka pendek. Risiko fluktuasinya pun cenderung lebih rendah dibanding saham.

Sementara itu, unitlink pendapatan tetap mengalami kontraksi rata-rata 0,33 persen. Tekanan tersebut menunjukkan bahwa instrumen obligasi juga terpengaruh dinamika pasar. Perubahan suku bunga dan sentimen global turut memberi dampak.

Adapun unitlink berbasis campuran juga terkontraksi rata-rata 0,45 persen pada Januari 2026. Produk ini menggabungkan saham dan obligasi sehingga tetap terdampak volatilitas kedua instrumen tersebut. Kondisi ini menggambarkan bahwa hampir seluruh kelas aset merasakan tekanan di awal tahun.

Secara keseluruhan, Tokio Marine Life menilai volatilitas IHSG memang berpotensi memengaruhi kinerja unitlink saham dalam jangka pendek. Namun, dengan pengelolaan yang disiplin dan dukungan stabilitas kebijakan, peluang pemulihan tetap terbuka. Bagi investor, pemahaman atas profil risiko dan horizon investasi menjadi kunci dalam menyikapi dinamika pasar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index