Kurs Dolar

Kurs Dolar AS Hari Ini 23 Februari 2026 di Bank Besar

Kurs Dolar AS Hari Ini 23 Februari 2026 di Bank Besar
Kurs Dolar AS Hari Ini 23 Februari 2026 di Bank Besar

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada awal pekan ini. 

Mata uang Garuda dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan Senin. Penguatan ini terjadi di tengah dinamika global yang masih dipengaruhi kebijakan moneter AS dan ketegangan geopolitik. Pelaku pasar pun mencermati perkembangan kurs di sejumlah bank besar nasional.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah menguat 0,12% atau 21 poin ke Rp16.867 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS melemah 0,38% ke 97,42. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi sentimen global dan domestik. Meski dibuka positif, arah penutupan rupiah masih menjadi tanda tanya.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini akan ditutup melemah. Pada perdagangan Jumat, rupiah ditutup menguat tipis 6 poin ke level Rp16.888 per dolar AS. Namun tekanan eksternal dinilai masih cukup kuat. Proyeksi jangka pendek menunjukkan potensi fluktuasi yang tinggi.

“Sedangkan untuk perdagangan Senin depan [hari ini], mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.880 sampai Rp16.910 per dolar AS,” ujar Ibrahim. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penguatan pembukaan belum tentu berlanjut hingga akhir sesi. Pelaku pasar pun diminta tetap waspada terhadap sentimen global.

Sentimen Global Masih Mendominasi

Kebijakan moneter The Fed menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Januari menunjukkan nada hati-hati namun cenderung hawkish. Sikap tersebut memperkuat pandangan bahwa pemotongan suku bunga jangka pendek tidak mungkin terjadi. Kondisi ini membuat dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah tetap stabil.

Dampaknya, tekanan terhadap aset berisiko termasuk mata uang emerging market masih terasa. Logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil juga tertekan akibat ekspektasi suku bunga tinggi. Selain itu, data ekonomi AS yang optimistis turut memperkuat dolar AS. Sentimen ini menjadi tantangan bagi penguatan rupiah.

Data Klaim Pengangguran Awal AS turun menjadi 206.000 untuk minggu yang berakhir pada 14 Februari. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan 225.000 dan turun dari 229.000 pada periode sebelumnya. Data positif ini memperkuat keyakinan pasar terhadap ketahanan ekonomi AS. Dampaknya, dolar AS kembali mendapat dukungan.

Eskalasi geopolitik antara AS dan Iran juga menjadi faktor tambahan. Ibrahim menjelaskan bahwa risiko geopolitik tetap tinggi meskipun sempat ada pembicaraan tingkat tinggi pekan lalu. Ketidakpastian ini membuat investor cenderung berhati-hati. Arus modal global pun bergerak dinamis mengikuti perkembangan situasi.

Sentimen Domestik dan Kerja Sama Dagang

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari perjanjian dagang resiprokal antara Indonesia dan AS. Kesepakatan bertajuk Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance diteken langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Perjanjian tersebut memuat sejumlah komitmen kerja sama strategis.

Dalam kesepakatan itu tercantum 11 nota kesepahaman (MoU) serta pembentukan dewan ekonomi permanen. Selain itu, terdapat penurunan tarif ribuan pos produk hingga komitmen pembelian energi dan pesawat. Langkah ini diharapkan memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Sentimen tersebut menjadi penopang optimisme pasar domestik.

“Prabowo dan Trump menginstruksikan jajaran menteri untuk segera menurunkan kesepakatan tersebut ke dalam kebijakan teknis dan regulasi pendukung agar implementasinya berdampak nyata terhadap perekonomian,” jelasnya. Implementasi konkret dari kesepakatan ini diharapkan mampu memberikan efek positif bagi stabilitas rupiah.

Kurs Dolar AS di BCA dan BRI

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) pada pukul 09.36 WIB mematok harga beli dolar AS sebesar Rp16.825 dan harga jual sebesar Rp16.845 berdasarkan e-rate. Berdasarkan TT counter, bank tersebut menetapkan harga beli dolar AS sebesar Rp16.695 dan harga jual Rp16.995. Untuk bank notes, harga beli dan jual masing-masing Rp16.695 dan Rp16.995.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menetapkan harga beli dan jual dolar AS pada pukul 09.41 WIB sebesar Rp16.826 dan Rp16.853 untuk e-rate. Untuk TT counter, harga beli dipatok Rp16.740 per dolar AS dan harga jual Rp16.940 per dolar AS. Perbedaan kurs ini mencerminkan kebijakan masing-masing bank.

Kurs Dolar AS di Mandiri dan BNI

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) pada pukul 09.16 WIB menetapkan harga beli dan jual untuk special rate masing-masing Rp16.830 dan Rp16.860 per dolar AS. Untuk TT counter, harga beli dolar AS sebesar Rp16.700 dan harga jual Rp17.000. Sementara bank notes juga dipatok pada level yang sama.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menetapkan harga beli dan jual dolar AS untuk special rates pada pukul 09.35 WIB masing-masing Rp16.824 dan Rp16.844. Berdasarkan TT counter, harga beli sebesar Rp16.730 dan harga jual Rp17.030. Untuk bank notes, levelnya juga Rp16.730 dan Rp17.030.

Secara keseluruhan, rupiah dibuka menguat namun masih dibayangi tekanan global. Kebijakan The Fed, data ekonomi AS, serta geopolitik menjadi faktor utama yang memengaruhi arah selanjutnya. Di sisi lain, sentimen domestik dari kerja sama dagang Indonesia-AS memberikan harapan positif. Pelaku pasar pun terus memantau perkembangan global dan domestik untuk menentukan langkah berikutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index