JAKARTA - Di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak orang mencari cara alami untuk menjaga kesehatan mental.
Ramadan menghadirkan satu praktik yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memberi ruang pemulihan bagi pikiran dan emosi. Puasa menjadi momentum refleksi sekaligus penataan ulang keseimbangan diri.
Menahan lapar dan haus sejak fajar hingga magrib bukan sekadar latihan fisik. Proses ini juga mengajarkan pengendalian diri terhadap dorongan emosi negatif. Dalam praktiknya, puasa menghadirkan jeda dari kebiasaan impulsif dan memberi kesempatan tubuh serta pikiran melakukan adaptasi yang lebih sehat.
Sejumlah akademisi dari Universitas Indonesia, Universitas Negeri Surabaya, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa puasa berkontribusi dalam menjaga kesehatan mental. Praktik ini dinilai membantu meredakan stres dan kecemasan, sekaligus memperkuat rasa syukur, empati, serta kebahagiaan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya berdimensi spiritual. Ada aspek psikologis yang turut bekerja ketika seseorang menjalankan puasa dengan kesadaran penuh. Keseimbangan mental terbangun melalui kombinasi disiplin diri dan peningkatan makna hidup.
Latihan Mengelola Emosi dan Meningkatkan Makna Hidup
Pakar Psikologi Klinis UI, Dini Rahma Bintari, menjelaskan bahwa puasa melatih individu untuk mengelola emosi dengan lebih baik. “Dengan menahan lapar, haus, serta emosi negatif, puasa mengajarkan seseorang untuk lebih sabar dan tawakal,” ujarnya melalui laman resmi UI.
Kemampuan menahan respons spontan saat lapar atau lelah menjadi bentuk latihan pengendalian diri. Dalam konteks psikologi, pengelolaan emosi yang baik berperan penting dalam menjaga stabilitas mental. Puasa menghadirkan situasi nyata untuk mempraktikkan kesabaran dan regulasi diri.
Ia juga menambahkan bahwa aktivitas berbagi seperti sedekah dan zakat selama Ramadan dapat meningkatkan perasaan bermakna. Ketika seseorang membantu meringankan beban orang lain, muncul rasa keterhubungan sosial yang lebih kuat.
Perasaan bermakna tersebut berkontribusi pada kesejahteraan psikologis. Individu tidak hanya fokus pada kebutuhan pribadi, tetapi juga menyadari perannya dalam komunitas. Dimensi sosial ini memperkaya pengalaman spiritual sekaligus emosional selama Ramadan.
Proses Biologis yang Mendukung Kesehatan Psikologis
Dari sisi ilmiah, Dekan Fakultas Psikologi Unesa, Diana Rahmasari, menyampaikan bahwa puasa berpengaruh terhadap kondisi psikologis melalui proses biologis dan psikososial. “Dengan pola makan yang lebih teratur selama puasa, kemampuan berpikir meningkat dan stres lebih terkendali,” katanya, dikutip dari laman resmi Unesa.
Perubahan pola makan selama Ramadan memberi dampak pada sistem tubuh. Ritme yang lebih teratur membantu stabilitas energi dan konsentrasi. Kondisi ini mendukung kejernihan berpikir serta pengambilan keputusan yang lebih tenang.
Ia menjelaskan bahwa puasa dapat membantu menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol. Selain itu, produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) meningkat, yaitu protein yang berperan dalam regenerasi sel otak dan pengaturan suasana hati.
Peningkatan hormon dopamin dan oksitosin selama Ramadan turut mendukung munculnya rasa bahagia. Kombinasi perubahan biologis tersebut memperkuat kesejahteraan emosional. Dengan demikian, efek puasa tidak hanya terasa secara subjektif, tetapi juga terukur secara ilmiah.
Puasa sebagai Terapi Psikologis yang Efektif
Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, Imran Pambudi, menilai puasa yang dijalankan secara tepat dapat menjadi terapi psikologis yang efektif. Dalam keterangan resmi yang dikutip Antara pada 18 Februari 2026, ia menyatakan, “Puasa yang dilakukan dengan benar membangun harmoni antara tubuh, pikiran, dan jiwa.”
Harmoni tersebut terbentuk ketika praktik ibadah dijalankan dengan pemahaman yang utuh. Tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga pola pikir dan perilaku. Keseimbangan ini memperkuat ketahanan mental dalam menghadapi tekanan hidup.
Puasa memberi struktur harian yang lebih teratur, mulai dari waktu sahur hingga berbuka. Pola yang konsisten membantu tubuh dan pikiran beradaptasi dengan ritme yang lebih stabil. Stabilitas ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental.
Selain itu, dukungan sosial yang meningkat selama Ramadan turut berperan. Kebersamaan dalam ibadah dan kegiatan berbagi mempererat hubungan sosial. Interaksi positif tersebut menjadi pelindung alami dari stres dan kecemasan.
Didukung Penelitian dan Relevan di Era Modern
Berbagai temuan penelitian turut menguatkan manfaat puasa bagi kesehatan mental. Studi Jandali et al. (2024) menunjukkan bahwa puasa Ramadan berkorelasi dengan peningkatan kepuasan hidup dan kebahagiaan. Pada saat yang sama, tingkat stres dan kecemasan dilaporkan menurun.
Hasil tersebut mempertegas bahwa puasa bukan sekadar ritual keagamaan. Ada dimensi psikologis yang terbangun melalui disiplin diri, refleksi, serta peningkatan kualitas hubungan sosial. Ramadan menjadi ruang pembelajaran emosional yang berulang setiap tahun.
Di tengah tantangan kehidupan modern yang sarat distraksi dan tekanan, praktik puasa menawarkan pendekatan alami. Tubuh diberi kesempatan menata ulang ritme biologis, sementara pikiran dilatih untuk lebih sadar dan terkontrol.
Dengan demikian, puasa Ramadan dapat dipahami sebagai sarana menjaga kesehatan mental secara menyeluruh. Ia menghadirkan keseimbangan antara aspek spiritual, biologis, dan sosial. Ketika dijalankan dengan tepat, puasa menjadi terapi alami yang relevan bagi kehidupan masa kini.