JAKARTA - Gejolak harga aset digital kembali menguji ketahanan pelaku industri kripto nasional.
Sejak awal 2026, fluktuasi tajam terutama pada kelompok altcoin membuat pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati. Situasi ini turut berdampak pada aktivitas perdagangan di dalam negeri.
Kondisi pasar kripto yang masih bergejolak mendorong bursa aset kripto PT Central Finansial X (CFX) angkat bicara. Manajemen menilai volatilitas tinggi masih membayangi pergerakan harga aset kripto. Tekanan paling terasa terjadi pada altcoin sepanjang tahun berjalan.
Direktur Utama CFX Subani mengatakan hingga kini belum ada kepastian apakah pasar kripto telah menyentuh titik terendah. Ia menilai dari sisi teknikal sangat sulit memprediksi kapan fase bottom benar-benar terjadi. Ketidakpastian ini menjadi tantangan tersendiri bagi investor.
“Variabel di market terlalu banyak untuk bisa diprediksi secara absolut. Kalau ditanya masih bisa turun atau tidak, kemungkinannya selalu ada. Aset kripto, seperti instrumen investasi lain, memiliki risiko dan fluktuasi harga adalah bagian dari naturenya,” ujar Subani.
Volatilitas yang tinggi membuat pelaku pasar tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan analisis. Banyak faktor yang bergerak bersamaan dan memengaruhi harga. Oleh karena itu, kehati-hatian menjadi kunci dalam menghadapi situasi ini.
Tekanan Besar di Pasar Altcoin
Tekanan paling besar terjadi di pasar altcoin sejak awal 2026. Tekanan jual dinilai mencapai level paling ekstrem dalam lima tahun terakhir. Hal ini terlihat dari data kumulatif buy/sell difference yang menunjukkan arus jual bersih terus menumpuk.
Arus keluar dana di pasar spot exchange terpusat terus meningkat. Kondisi tersebut mencerminkan dominasi aksi jual dibanding pembelian. Investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi.
Mengutip Tokocrypto, sebanyak US$ 209 miliar tercatat keluar dari pasar altcoin selama 13 bulan terakhir. Angka ini menunjukkan skala tekanan yang signifikan. Pergerakan tersebut menjadi kontras dibanding periode sebelumnya.
Kondisi ini berbeda dengan Januari 2025 ketika permintaan relatif seimbang. Pada saat itu, indikator buy/sell difference berada di kisaran mendekati nol. Perubahan drastis ini memperlihatkan perubahan sentimen pasar.
Subani menilai tidak ada satu indikator tunggal yang bisa dijadikan patokan pasti untuk menentukan titik terendah altcoin. Indikator pasar bersifat dinamis dan bergerak mengikuti perubahan harga. Hal tersebut menambah kompleksitas dalam membaca arah pasar.
Pengaruh Faktor Eksternal Global
Selain faktor teknikal, tekanan juga dipicu oleh kondisi makroekonomi global. Kebijakan moneter dan dinamika ekonomi dunia turut memengaruhi sentimen terhadap aset kripto. Koreksi harga terjadi di berbagai instrumen investasi berisiko.
Subani menekankan bahwa faktor eksternal memainkan peran penting dalam fase koreksi saat ini. Perubahan suku bunga dan kebijakan likuiditas global berdampak pada arus modal. Aset kripto tidak terlepas dari pengaruh tersebut.
Ketidakpastian global membuat investor lebih selektif dalam menempatkan dana. Aset dengan volatilitas tinggi menjadi lebih sensitif terhadap sentimen negatif. Oleh sebab itu, pergerakan harga cenderung lebih fluktuatif.
Dalam situasi seperti ini, manajemen risiko menjadi prioritas utama. Investor perlu memahami karakteristik pasar kripto yang memang sarat fluktuasi. Pendekatan rasional sangat dibutuhkan untuk meminimalkan potensi kerugian.
Strategi dan Produk Lindung Nilai
Di tengah kondisi tersebut, CFX mendorong konsumen untuk lebih fokus pada manajemen risiko. Investor diimbau melakukan “do your own research” sebelum mengambil keputusan investasi. Prinsip kehati-hatian dinilai sangat relevan saat volatilitas tinggi.
Sebagai alternatif, CFX menghadirkan produk kontrak perpetual derivative. Produk ini memungkinkan konsumen melakukan lindung nilai. Dengan demikian, investor tetap dapat bertransaksi baik saat pasar naik maupun turun.
Instrumen lindung nilai memberikan fleksibilitas dalam menghadapi pasar yang bergejolak. Investor dapat memanfaatkan peluang tanpa harus sepenuhnya terpapar risiko arah harga. Strategi ini menjadi salah satu solusi di tengah ketidakpastian.
Langkah tersebut menunjukkan upaya bursa untuk menjaga ekosistem tetap sehat. Inovasi produk menjadi bagian dari adaptasi industri terhadap perubahan pasar. Hal ini juga memberi pilihan lebih luas bagi pelaku pasar.
Volume Transaksi dan Kebijakan Biaya
Terkait dampak penurunan harga terhadap aktivitas perdagangan, CFX mencatat volume transaksi harian sejak awal tahun hingga Senin (23/2) cenderung menurun. Namun demikian, volume masih berada dalam kategori stabil. Penurunan tidak sedalam koreksi harga aset kripto.
Menurut Subani, kondisi ini mencerminkan kedewasaan investor kripto di dalam negeri. Aktivitas pasar dinilai masih cukup tinggi dan likuiditas tetap terjaga. Hal tersebut menjadi indikator positif bagi industri.
Selama periode tersebut, Tether (USDT), Bitcoin (BTC), dan Ethereum (ETH) menjadi aset kripto dengan nilai transaksi terbesar di bursa CFX. Ketiga aset ini masih mendominasi minat perdagangan. Stabilitas relatif pada aset utama turut menopang likuiditas.
Sebagai dukungan terhadap industri aset kripto nasional, CFX juga akan menurunkan biaya transaksi bursa sebesar 50%. Biaya yang semula 4 basis poin menjadi 2 basis poin efektif mulai Maret 2026. Kebijakan ini diharapkan menciptakan struktur biaya lebih kompetitif serta mendorong peningkatan likuiditas dan perluasan pangsa pasar kripto di Indonesia.