JAKARTA - Pergerakan harga bahan pokok nasional kembali menjadi perhatian pada Jumat, 27 Februari 2026.
Memasuki pekan awal Ramadan 1447 Hijriah, dinamika permintaan masyarakat mulai terasa di pasar tradisional berbagai daerah. Situasi ini memicu perubahan harga yang cukup bervariasi di sejumlah komoditas strategis.
Berdasarkan data Panel Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, mayoritas bahan pokok tercatat mengalami kenaikan harga. Meski demikian, tidak semua komoditas bergerak naik. Cabai rawit justru mencatat penurunan yang cukup signifikan di tengah tren kenaikan komoditas lainnya.
Kondisi ini memperlihatkan adanya kombinasi antara faktor permintaan musiman dan dinamika pasokan di tingkat distribusi. Awal Ramadan umumnya mendorong konsumsi rumah tangga meningkat, terutama untuk bahan pangan utama dan kebutuhan memasak harian.
Tekanan Harga Mulai Terlihat Pada Kelompok Beras
Kenaikan harga paling merata terjadi pada kelompok beras. Beras kualitas bawah I naik 4,86 persen atau Rp700 menjadi Rp15.100 per kilogram. Sementara itu, beras kualitas bawah II meningkat 1,04 persen atau Rp150 menjadi Rp14.600 per kilogram.
Untuk kategori medium, beras medium I naik 3,13 persen atau Rp500 menjadi Rp16.450 per kilogram. Beras medium II mencatat kenaikan lebih tinggi sebesar 5,4 persen atau Rp850 menjadi Rp16.600 per kilogram.
Adapun beras kualitas super I berada di level Rp17.150 per kilogram atau stabil. Beras super II naik tipis 0,3 persen atau Rp50 menjadi Rp16.750 per kilogram. Kenaikan yang terjadi hampir di seluruh kualitas ini menunjukkan adanya tekanan permintaan yang mulai meningkat menjelang puncak konsumsi Ramadan.
Cabai Bergerak Kontras Rawit Justru Turun Tajam
Berbeda dengan beras, kelompok cabai menunjukkan pergerakan yang tidak seragam. Cabai merah besar naik 1,66 persen atau Rp800 menjadi Rp49.000 per kilogram. Cabai merah keriting bahkan melonjak 7,01 persen atau Rp3.650 menjadi Rp55.750 per kilogram.
Namun, cabai rawit hijau justru turun tajam 11,75 persen atau Rp6.650 menjadi Rp49.950 per kilogram. Penurunan ini menjadi yang terdalam di antara seluruh komoditas pangan pada periode tersebut.
Cabai rawit merah juga mengalami koreksi 3,24 persen atau Rp2.750 menjadi Rp82.050 per kilogram. Dinamika ini mencerminkan perbedaan kondisi pasokan di tingkat produsen serta distribusi antarwilayah yang memengaruhi harga akhir di pasar tradisional.
Pergerakan Protein Hewani Relatif Terkendali
Pada kelompok protein hewani, fluktuasi harga relatif lebih terbatas dibandingkan beras dan cabai. Daging ayam ras segar turun tipis 0,71 persen atau Rp300 menjadi Rp42.250 per kilogram.
Daging sapi kualitas I turun 2,51 persen atau Rp3.650 menjadi Rp141.550 per kilogram. Sementara itu, daging sapi kualitas II justru naik 0,69 persen atau Rp950 menjadi Rp138.150 per kilogram.
Telur ayam ras segar tercatat naik 4,93 persen atau Rp1.600 menjadi Rp34.050 per kilogram. Pergerakan ini menunjukkan bahwa permintaan protein hewani mulai meningkat, meskipun tekanan harga belum terlalu signifikan secara keseluruhan.
Lonjakan Mencolok Pada Gula dan Minyak Goreng
Kenaikan cukup tajam terjadi pada kelompok gula dan minyak goreng. Gula pasir premium melonjak 12,59 persen atau Rp2.500 menjadi Rp22.350 per kilogram. Sementara gula pasir lokal naik 3,79 persen atau Rp700 menjadi Rp19.150 per kilogram.
Minyak goreng curah naik 2,37 persen atau Rp450 menjadi Rp19.400 per liter. Minyak goreng kemasan bermerek I meningkat 4,19 persen atau Rp950 menjadi Rp23.600 per liter.
Minyak goreng kemasan bermerek II juga naik 3,46 persen atau Rp750 menjadi Rp22.400 per liter. Lonjakan pada gula premium menjadi sorotan karena kenaikannya paling tinggi secara persentase dibanding komoditas lain pada hari tersebut.
Data harga ini dihimpun dari pasar tradisional di seluruh provinsi dan diperbarui pada 27 Februari 2026. Secara umum, mayoritas komoditas menunjukkan tren kenaikan seiring meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat.
Cabai rawit menjadi pengecualian dengan penurunan harga yang cukup dalam. Fenomena ini bisa dipengaruhi oleh pasokan yang melimpah atau distribusi yang lebih lancar dibanding komoditas lainnya.
Tren pergerakan harga pada awal Ramadan ini mencerminkan dinamika klasik antara permintaan dan pasokan. Jika tekanan konsumsi terus meningkat dalam beberapa hari ke depan, potensi kenaikan lanjutan pada komoditas strategis seperti beras, gula, minyak goreng, dan telur ayam ras masih perlu diantisipasi oleh pelaku pasar maupun pemerintah.
Stabilitas harga pangan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat. Oleh karena itu, pemantauan rutin serta intervensi kebijakan apabila diperlukan akan menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan pasar selama periode Ramadan berlangsung.