United Tractors

Laba United Tractors 2025 Turun Jadi Rp14,81 Triliun Akibat

Laba United Tractors 2025 Turun Jadi Rp14,81 Triliun Akibat
Laba United Tractors 2025 Turun Jadi Rp14,81 Triliun Akibat

JAKARTA - Tekanan harga komoditas kembali memengaruhi kinerja emiten alat berat dan pertambangan. 

Di tengah dinamika pasar batu bara serta tantangan operasional, capaian keuangan sepanjang 2025 mencerminkan fase penyesuaian yang tidak ringan. Penurunan laba menjadi sinyal bahwa sektor ini masih menghadapi volatilitas yang cukup tinggi.

Bagi pelaku pasar, laporan keuangan terbaru menjadi indikator penting untuk membaca arah bisnis ke depan. Kondisi tersebut juga menunjukkan bagaimana strategi diversifikasi mulai memainkan peran dalam menjaga stabilitas pendapatan perusahaan.

PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan laba bersih sebesar Rp14,81 triliun pada 2025 atau turun signifikan akibat melemahnya harga jual batu bara dan lesunya bisnis kontraktor penambangan.

Sepanjang 2025, UNTR mengantongi pendapatan bersih sebesar Rp131,3 triliun atau turun sebesar 2,32% dari Rp134,4 triliun pada 2024. Pendapatan bersih tersebut terutama berasal dari segmen kontraktor penambangan Rp54,1 triliun, segmen mesin konstruksi Rp36,6 triliun, segmen pertambangan batu bara Rp24,2 triliun, serta segmen pertambangan emas dan mineral lainnya Rp14 triliun.

Tekanan Pada Segmen Batu Bara Dan Kontraktor

Pendapatan dari segmen kontraktor tambang dan pertambangan batu bara masing-masing turun 7% year on year. Berbanding terbalik, segmen emas dan mineral lainnya menjadi satu-satunya yang mengalami lonjakan pendapatan pada 2025, yakni sebesar 41% year on year.

Manajemen UNTR menjabarkan laba bersih perseroan turun 24,17% year on year dari Rp19,53 triliun pada 2024 menjadi Rp14,81 triliun pada 2025. 

“Penurunan itu disebabkan oleh penurunan kontribusi dari segmen kontraktor penambangan yang terkendala curah hujan tinggi dan segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi akibat harga jual batu bara yang lebih rendah yang sebagian dapat diimbangi oleh penguatan harga emas,” paparnya dalam keterangan resmi, Jumat.

Faktor cuaca dan harga komoditas menjadi kombinasi tekanan utama sepanjang tahun. Curah hujan tinggi menghambat produktivitas operasional di sejumlah lokasi tambang, sementara pelemahan harga batu bara menekan margin keuntungan.

Di sisi lain, kenaikan harga emas memberi bantalan kinerja yang cukup berarti. Kontribusi dari segmen emas dan mineral lainnya menjadi penyeimbang ketika bisnis batu bara dan kontraktor tidak tumbuh optimal.

Aksi Buyback Saham Dan Stabilitas Pasar

Di sisi aksi korporasi, pada 14 Januari 2026, United Tractors menyelesaikan program pembelian kembali saham senilai Rp2 triliun yang dimulai pada 31 Oktober 2025 dengan 68,5 juta lembar saham yang dibeli kembali.

Selanjutnya, UNTR mengumumkan tahap kedua pembelian kembali saham dengan nilai maksimal sebesar Rp2 triliun dari 22 Januari sampai 15 April 2026. Kedua program buyback saham itu dijalankan dengan mengikuti peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait pembelian kembali saham dalam situasi pasar berfluktuasi.

“Program ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek perseroan dan kemampuannya untuk menghasilkan arus kas yang berkelanjutan, juga bertujuan untuk mendukung pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal.”

Langkah buyback tersebut menjadi sinyal kepercayaan diri manajemen terhadap fundamental jangka panjang perusahaan. Selain memberikan dukungan pada harga saham, strategi ini juga menunjukkan posisi kas yang relatif kuat meskipun laba mengalami penurunan.

Strategi Akuisisi Tambang Emas

Selain kebijakan pasar modal, UNTR juga melakukan langkah ekspansi melalui akuisisi. Melalui anak perusahaannya PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara, perseroan telah menyelesaikan transaksi untuk mengakuisisi 100% kepemilikan saham PT Arafura Surya Alam pada 11 Februari 2026.

PT Arafura Surya Alam merupakan sebuah perusahaan pertambangan emas yang berlokasi di Sulawesi Utara. Akuisisi ini memperkuat portofolio UNTR di sektor emas, yang terbukti memberikan pertumbuhan signifikan sepanjang 2025.

Langkah tersebut memperlihatkan arah diversifikasi yang semakin jelas. Ketika batu bara menghadapi tekanan harga global, emas menjadi alternatif sumber pertumbuhan yang lebih stabil dan berpotensi mengurangi ketergantungan pada satu komoditas utama.

Ke depan, tantangan harga komoditas dan kondisi cuaca tetap menjadi variabel penting bagi kinerja perusahaan. Namun kombinasi diversifikasi usaha, program buyback saham, serta ekspansi melalui akuisisi menunjukkan bahwa UNTR menyiapkan fondasi untuk menjaga daya tahan bisnis dalam siklus industri yang fluktuatif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index