JAKARTA - Sorotan tak hanya tertuju pada hasil pertandingan ketika Manchester City bertandang ke markas Leeds United.
Di tengah tensi kompetisi Premier League 2025/2026, momen jeda singkat untuk berbuka puasa justru memicu kontroversi di tribun.
Peristiwa tersebut menimbulkan reaksi keras dari pelatih City, Josep Guardiola. Ia secara terbuka menyampaikan kritik terhadap sekelompok suporter yang menyoraki penghentian sementara laga di Elland Road.
Pelatih Manchester City, Josep Guardiola melayangkan kritik tajam terhadap sekelompok suporter yang menyoraki keputusan penghentian sementara pertandingan melawan Leeds United. Kejadian tersebut berlangsung di Elland Road.
Insiden itu terjadi pada menit ke-13 saat City meraih kemenangan 1-0 di markas Leeds. Wasit menghentikan laga sejenak guna memberi waktu bagi pemain Muslim untuk membatalkan puasa Ramadan setelah matahari terbenam.
Saat para pemain bergerak ke tepi lapangan untuk minum dan mengonsumsi asupan ringan, terdengar suara cemoohan dari sebagian pendukung tuan rumah. Momen yang seharusnya berjalan singkat itu justru berubah menjadi polemik.
Pihak stadion sebenarnya sudah menampilkan penjelasan di layar besar bahwa laga dihentikan untuk memberi waktu berbuka bagi pemain yang berpuasa di bulan Ramadan. Informasi tersebut ditujukan agar publik memahami konteks penghentian pertandingan.
Penghentian ini bukanlah keputusan mendadak. Protokol resmi Premier League telah menyepakati bahwa kedua kapten tim setuju terkait jeda tersebut sebelum pertandingan dimulai.
Kekecewaan Guardiola atas reaksi suporter
Guardiola tidak dapat menutupi kekecewaannya terhadap kejadian tersebut. Ia menilai reaksi sebagian penonton mencerminkan kurangnya empati terhadap keberagaman yang ada dalam sepak bola modern.
"Ini dunia modern, bukan? Lihat apa yang terjadi di dunia saat ini," ujar Guardiola seusai pertandingan. Ia menekankan bahwa poin utamanya adalah pentingnya menghormati agama serta keberagaman.
Baginya, penghentian singkat tersebut tidak merugikan jalannya pertandingan. Liga telah memberikan ruang yang jelas agar pemain Muslim dapat menjalankan kewajibannya tanpa mengganggu ritme kompetisi.
Ia menegaskan bahwa liga sudah mengalokasikan waktu satu hingga dua menit bagi pemain untuk membatalkan puasa. Menurutnya, tidak ada alasan logis untuk mempermasalahkan pemberian waktu tersebut.
Guardiola turut menyebut dua pemainnya, Rayan Cherki dan Rayan Ait-Nouri, yang belum makan sepanjang hari. "Kami hanya mengambil sedikit vitamin, tidak lebih dari itu," tegasnya dengan mempertanyakan mengapa hal tersebut menjadi masalah.
Komentar itu memperlihatkan bahwa jeda tersebut sangat singkat dan bersifat mendasar. Tidak ada keuntungan taktis, hanya kesempatan untuk menjaga kondisi fisik pemain.
Protokol resmi sejak beberapa musim terakhir
Organisasi anti-diskriminasi sepak bola Inggris, Kick It Out, turut memberikan tanggapan. Mereka menyayangkan reaksi sebagian suporter yang mencemooh momen berbuka puasa di tengah pertandingan.
Kick It Out menegaskan bahwa jeda pertandingan bagi pemain Muslim telah menjadi protokol resmi sejak 2021. Kebijakan ini dianggap krusial demi menciptakan lingkungan sepak bola yang lebih inklusif bagi komunitas Muslim.
Menurut organisasi tersebut, aturan ini lahir dari kesadaran bahwa sepak bola profesional dihuni pemain dari latar belakang beragam. Fasilitas sederhana seperti jeda singkat dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap keyakinan.
"Reaksi malam ini menunjukkan bahwa sepak bola masih membutuhkan perjalanan panjang terkait edukasi dan penerimaan," bunyi pernyataan resmi organisasi tersebut.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa isu toleransi belum sepenuhnya selesai di dunia olahraga. Meskipun regulasi sudah dibuat, penerimaan publik tetap menjadi tantangan tersendiri.
Dalam konteks yang lebih luas, kejadian di Elland Road membuka kembali diskusi mengenai peran sepak bola sebagai ruang inklusif. Kompetisi elite seperti Premier League tidak hanya soal taktik dan hasil akhir, tetapi juga nilai-nilai yang dijunjung tinggi.
Bagi Guardiola, penghormatan terhadap keberagaman adalah bagian dari identitas sepak bola modern. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang dan publik semakin memahami alasan di balik kebijakan tersebut.
Kemenangan tipis 1-0 mungkin tercatat sebagai hasil penting bagi Manchester City. Namun perdebatan mengenai toleransi dan penghormatan justru menjadi cerita utama dari laga tersebut.