Berburu Takjil

Berburu Takjil Jadi Ritual Ngabuburit Favorit Gen Z dan Milenial

Berburu Takjil Jadi Ritual Ngabuburit Favorit Gen Z dan Milenial
Berburu Takjil Jadi Ritual Ngabuburit Favorit Gen Z dan Milenial

JAKARTA - Menjelang azan Magrib, suasana jalanan di berbagai kota berubah drastis. Trotoar dipenuhi lapak dadakan, aroma gorengan menyeruak, dan antrean pembeli memanjang. 

Di tengah dinamika itu, berburu takjil bukan lagi sekadar membeli makanan pembuka, melainkan bagian penting dari gaya hidup Ramadan generasi muda.

Makna kata takjil di Indonesia pun mengalami perjalanan panjang. Berasal dari bahasa Arab ajila yang berarti menyegerakan berbuka, istilah ini dulu merujuk pada anjuran mempercepat membatalkan puasa. Namun dalam praktik sehari hari, maknanya bergeser menjadi identik dengan kudapan pembuka puasa yang dijajakan di sore hari.

Kini, istilah tersebut kembali berevolusi mengikuti perubahan zaman. Aktivitas membeli takjil tidak lagi semata soal makanan, tetapi telah menjelma menjadi ritual ngabuburit yang dinanti. Bagi Gen Z dan milenial, momen ini menghadirkan pengalaman sosial yang khas dan sulit tergantikan.

Perubahan Makna Takjil dari Religius ke Gaya Hidup

Fenomena ini diperkuat oleh laporan terbaru Populix bertajuk Berburu Takjil Menurut Gen Z dan Milenial. Riset tersebut menunjukkan bahwa mencari kudapan sore kini menempati posisi teratas dalam daftar aktivitas menunggu azan Magrib. Aktivitas ini bahkan melampaui kebiasaan berselancar di media sosial atau memasak sendiri di rumah.

Research Director Populix, Susan Adi Putra, menilai pergeseran ini mencerminkan transformasi budaya Ramadan. Berburu takjil tidak lagi dipahami sebagai kebutuhan praktis semata. Ia telah berkembang menjadi simbol kebersamaan, interaksi sosial, dan cara generasi muda merayakan bulan suci.

"Sekitar 41% anak muda memandang kegiatan berburu takjil bukan hanya sebagai self-reward setelah seharian menahan lapar, melainkan sebuah tradisi khas Ramadan yang memiliki nilai emosional tersendiri," ujar Putra dalam keterangan resminya, Selasa (3/3/2026).

Ritual Harian yang Sulit Ditinggalkan

Data survei memperlihatkan bahwa aktivitas ini dilakukan hampir setiap hari. Lebih dari separuh responden, baik laki laki maupun perempuan, mengaku rutin membeli takjil selama Ramadan. Intensitas tersebut menegaskan bahwa berburu takjil telah menjadi kebiasaan harian, bukan sekadar selingan.

Menariknya, hanya sekitar 5% responden yang mengaku jarang atau bahkan tidak pernah membeli takjil sama sekali. Angka kecil ini menunjukkan dominasi kuat budaya jajan sore di kalangan generasi muda Muslim. Tradisi ini seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman berpuasa.

Hiruk pikuk pasar kaget, pedagang kaki lima, hingga lapak musiman di pinggir jalan menghadirkan sensasi tersendiri. Suasana ramai, tawar menawar, dan berburu menu favorit menciptakan kenangan kolektif yang memperkaya makna Ramadan.

Preferensi Menu Antara Kesegaran dan Nostalgia

Riset yang dilakukan pada 18 hingga 19 Februari 2025 itu juga memetakan selera para pemburu takjil. Terdapat perbedaan cukup kontras antara kelompok usia dan gender dalam menentukan pilihan menu. Setiap segmen menunjukkan kecenderungan yang unik.

Gen Z cenderung mengutamakan kesegaran dan kepraktisan. Minuman manis seperti es teh, es buah, dan es campur menjadi incaran utama untuk melepas dahaga setelah seharian berpuasa. Sensasi dingin dan manis dianggap paling efektif memulihkan energi.

Sementara itu, milenial dan responden perempuan lebih condong pada pilihan bernuansa nostalgia. Kue kue tradisional dinilai menghadirkan rasa autentik yang mengingatkan pada suasana Ramadan masa kecil. Aspek emosional dan kedekatan budaya menjadi pertimbangan penting.

Meski demikian, ada pula menu yang bersifat universal. Gorengan tetap menjadi juara umum yang paling banyak dicari, disusul kurma, dessert kekinian, hingga makanan berat seperti nasi dan lontong. Ragam pilihan ini menunjukkan fleksibilitas selera generasi muda.

Peluang Ekonomi di Era Digital Ramadan

Walau interaksi langsung dengan pedagang kaki lima masih mendominasi karena menghadirkan sensasi ngabuburit, kanal digital mulai mengambil peran signifikan. Sekitar sepertiga responden kini memanfaatkan aplikasi pesan antar makanan, media sosial, dan layanan pesan instan.

Kelompok perempuan tercatat lebih aktif menggunakan platform daring untuk mendapatkan takjil pilihan mereka. Kemudahan akses, efisiensi waktu, serta ragam promo menjadi daya tarik tersendiri. Transformasi ini membuka dimensi baru dalam ekosistem ekonomi Ramadan.

"Penjualan secara online membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk meraup omzet lebih tinggi, melengkapi pasar fisik yang sudah ada," Putra menambahkan. Integrasi antara lapak konvensional dan kanal digital menciptakan model bisnis hibrida yang adaptif.

Survei ini melibatkan 1.000 responden dari kalangan milenial dan Gen Z dengan profil ekonomi menengah ke atas. Sebanyak 93% responden beragama Islam, sehingga hasilnya memberikan gambaran kuat tentang dinamika sosial ekonomi Ramadan di Indonesia.

Dari perubahan makna istilah hingga transformasi pola konsumsi, berburu takjil mencerminkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan zaman. Ramadan bukan hanya ruang spiritual, tetapi juga arena interaksi sosial dan peluang ekonomi yang terus berkembang mengikuti gaya hidup generasi digital.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index