Kripto

Analisis Pasar Kripto Bitcoin Melemah Tajam Analis Waspadai Koreksi Lanjutan

Analisis Pasar Kripto Bitcoin Melemah Tajam Analis Waspadai Koreksi Lanjutan
Analisis Pasar Kripto Bitcoin Melemah Tajam Analis Waspadai Koreksi Lanjutan

JAKARTA - Pergerakan aset digital kembali berada dalam tekanan pada awal perdagangan pekan ini. 

Pelaku pasar merespons kombinasi sentimen global dan faktor teknikal yang belum mendukung penguatan harga. Kondisi tersebut membuat mayoritas kripto utama bergerak di zona negatif sejak pagi.

Pasar kripto jatuh, bahkan harga Bitcoin (BTC) terkoreksi dalam pada perdagangan Senin pagi, seiring pelemahan pasar kripto global. Analis memperingatkan potensi penurunan lebih lanjut menuju area US$ 60.000 setelah BTC gagal mempertahankan level teknikal penting.

Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 05.45 WIB, kapitalisasi pasar kripto global jatuh 1,97% menjadi US$ 2,26 triliun. Harga Bitcoin (BTC) hari ini anjlok 1,85% ke US$ 66.047 per koin atau sekitar Rp 1,11 miliar (kurs Rp 16.939).

Altcoin Utama Turut Mengalami Pelemahan Harga

Koreksi tidak hanya terjadi pada Bitcoin, melainkan merata pada sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar. Indikator pergerakan kelompok kripto utama menunjukkan tekanan jual yang konsisten. Investor terlihat masih menahan aksi beli agresif.

Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar juga ambrol 1,6%. Dengan Ethereum terpangkas 1,38% ke US$ 1.938, Binance (BNB) anjlok 1,02% ke US$ 613, XRP melemah 0,79% ke US$ 1,34, Dogecoin (DOGE) turun 0,51% ke US$ 0,08, dan Solana (SOL) terjungkal 1,32% ke US$ 81,91.

Dikutip dari Cointelegraph, Harga Bitcoin berisiko menghadapi resistensi baru setelah gagal mempertahankan level penting menjelang penutupan perdagangan mingguan. Kondisi ini memunculkan kemungkinan penurunan menuju area US$ 60.000.

Level Teknikal Penting Jadi Sorotan Pelaku Pasar

Perhatian investor kini tertuju pada sinyal teknikal yang dinilai krusial bagi arah harga berikutnya. Kegagalan mempertahankan area support utama memicu kekhawatiran terbentuknya tekanan lanjutan. Grafik pergerakan menunjukkan pelemahan struktur harga jangka menengah.

Data dari TradingView menunjukkan pasangan BTC/USD sempat menyentuh level terendah multi-hari selama akhir pekan. Posisi ini menempatkan Bitcoin di bawah garis tren penting, yakni 200-day exponential moving average (EMA), yang beberapa kali gagal direbut kembali sebagai level support.

Trader dan analis kripto Rekt Capital menyoroti pentingnya level tersebut. Menurut dia, Bitcoin kembali menembus ke atas garis 200 EMA, tetapi gagal mempertahankan momentum sehingga sebagian besar rebound sebelumnya terhapus.

Ia menilai jika penutupan mingguan terjadi di bawah level 200-week EMA yang kini berada di sekitar US$68.310, maka garis tersebut berpotensi menjadi resistensi baru bagi harga Bitcoin. Sebelum Februari lalu, pasangan BTC/USD terakhir kali ditutup di bawah garis tren ini pada grafik mingguan terjadi pada awal Maret 2023.

Pandangan Beragam Dari Sejumlah Analis Kripto

Sejumlah pelaku pasar melihat kondisi saat ini sebagai fase krusial penentuan tren. Sebagian analis menilai koreksi bisa berlanjut, sementara lainnya melihat peluang pemulihan. Perbedaan pandangan mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi.

Meski demikian, pandangan lebih optimistis datang dari trader Merlijn The Trader yang menilai pergerakan harga saat ini berpotensi mengulang pola tahun 2023. Saat itu, Bitcoin sempat melemah sebelum akhirnya melonjak tajam setelah kembali menembus 200-week EMA.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik di Timur Tengah, perhatian pasar kini juga tertuju pada pergerakan komoditas seperti minyak dan emas. Dinamika tersebut dinilai ikut memengaruhi minat investor terhadap aset kripto.

Trader kripto sekaligus analis pasar Michaël van de Poppe mengatakan, peluang pemulihan Bitcoin sangat berkaitan dengan arah pergerakan kedua komoditas tersebut. “Jika minyak, emas, dan perak bergerak mendukung Bitcoin, kita bisa melihat harga kembali ke level tertinggi dalam waktu dekat dan kemungkinan fase terburuk sudah lewat,” ujarnya.

Namun, jika skenario tersebut tidak terjadi dan Bitcoin kembali menguji level terendah, ia mengaku akan mempertimbangkan akumulasi di area US$ 60.000.

Pergerakan Komoditas Dan Indikator RSI Ikut Diperhatikan

Faktor eksternal turut memengaruhi sentimen pelaku pasar kripto global. Pergerakan harga energi dan logam mulia menjadi indikator penting yang dicermati investor. Hubungan antar aset dinilai semakin kuat di tengah gejolak geopolitik.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup melonjak hampir 16% pada Jumat, sedangkan emas masih bergerak di bawah level US$5.200 setelah gagal menembus rekor tertinggi.

Van de Poppe juga menyoroti indikator relative strength index (RSI) yang menunjukkan Bitcoin berada pada level terendah secara historis jika dibandingkan dengan emas. Menurut dia, kondisi tersebut mengindikasikan emas kemungkinan sedang overvalued dalam jangka pendek, sementara Bitcoin justru undervalued.

“Valuasi Bitcoin terhadap emas belum berubah. RSI menunjukkan level terendah sepanjang sejarah untuk indikator ini, yang berarti emas terlalu mahal dalam jangka pendek, sedangkan Bitcoin masih relatif murah,” ujarnya

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index