BMKG

BMKG Prediksi Musim Kemarau Lebih Awal Di NTB Mulai April Tahun 2026

BMKG Prediksi Musim Kemarau Lebih Awal Di NTB Mulai April Tahun 2026
BMKG Prediksi Musim Kemarau Lebih Awal Di NTB Mulai April Tahun 2026

JAKARTA - Perubahan pola musim di Indonesia kembali menjadi perhatian setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat akan segera memasuki musim kemarau. 

Pergeseran musim ini diperkirakan mulai terjadi pada April 2026 setelah wilayah tersebut mengalami musim hujan sejak Oktober 2025. Informasi ini menjadi penting karena berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat, sektor pertanian, serta pengelolaan sumber daya air.

Prediksi tersebut disampaikan berdasarkan pemantauan dan analisis data klimatologi yang dilakukan BMKG. Lembaga ini mencatat adanya perubahan pola curah hujan yang menandakan berakhirnya musim penghujan di sebagian besar wilayah NTB. Dengan kondisi tersebut, masyarakat diharapkan dapat mempersiapkan diri menghadapi perubahan cuaca yang akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau juga dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Selain berdampak pada sektor pertanian, perubahan musim ini juga berkaitan dengan potensi kekeringan, ketersediaan air, hingga kemungkinan terjadinya bencana alam yang dipicu kondisi cuaca kering.

Perkiraan Awal Musim Kemarau Di Nusa Tenggara Barat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Peralihan ini terjadi setelah musim hujan yang berlangsung sejak Oktober 2025.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB Nuga Putrantijo mengatakan sebanyak 84 persen wilayah NTB akan mengalami peralihan ke musim kering pada bulan depan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mayoritas daerah di provinsi tersebut akan mulai merasakan perubahan pola cuaca secara bertahap.

Menurutnya, proses pergantian musim tersebut merupakan bagian dari siklus iklim yang terjadi setiap tahun. Namun, waktu kedatangan musim kemarau dapat berbeda-beda tergantung kondisi atmosfer dan dinamika iklim global.

BMKG melakukan pemantauan intensif untuk memastikan perkiraan musim yang disampaikan dapat menjadi acuan bagi masyarakat serta pemerintah daerah dalam menyusun langkah antisipasi.

Sebagian Besar Zona Musim Memulai Kemarau Awal April

Nuga menjelaskan bahwa awal musim kemarau di wilayah NTB akan dimulai secara bertahap pada awal April 2026. Secara spesifik, sebagian besar zona musim di provinsi tersebut diperkirakan mengalami perubahan musim pada periode awal bulan tersebut.

"Secara spesifik 74 persen zona musim memulai kemarau pada dasarian I April 2026 (tanggal 1-10 April)," ujarnya dalam konferensi pers di Mataram seperti dilansir Antara, Senin, 9 Maret 2026.

Dasarian merupakan pembagian waktu dalam satu bulan yang terdiri dari tiga periode masing-masing selama sepuluh hari. Dengan demikian, periode dasarian pertama April menjadi waktu awal terjadinya transisi musim hujan menuju musim kemarau di sebagian besar wilayah NTB.

Perubahan ini menandai berakhirnya periode hujan yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Wilayah yang memasuki musim kemarau biasanya akan mengalami penurunan curah hujan secara bertahap.

Musim Kemarau Diprediksi Datang Lebih Awal Dari Kondisi Normal

Nuga menjelaskan bila dibandingkan dengan kondisi normal berdasarkan data klimatologi periode 1991–2020, awal musim kemarau tahun 2026 didominasi kondisi yang lebih maju. Artinya, musim kering diperkirakan datang lebih cepat dari rata-rata waktu yang biasanya terjadi.

BMKG memprediksi sekitar 70 hingga 73 persen wilayah NTB mengalami awal musim kemarau yang datang lebih cepat dibandingkan kondisi normal. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran waktu musim yang cukup signifikan di sebagian besar wilayah provinsi tersebut.

Perubahan waktu kedatangan musim kemarau dapat dipengaruhi berbagai faktor atmosfer, termasuk dinamika suhu permukaan laut dan pergerakan massa udara. Fenomena iklim global juga sering memberikan pengaruh terhadap pola musim di wilayah Indonesia.

Karena itu, analisis data klimatologi jangka panjang menjadi dasar bagi BMKG untuk memperkirakan kapan suatu wilayah akan memasuki musim tertentu.

Tingkat Kekeringan Diperkirakan Lebih Tinggi Dari Biasanya

Selain datang lebih awal, sifat musim kemarau di wilayah NTB juga diperkirakan memiliki karakter yang lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis. Hal ini berkaitan dengan jumlah curah hujan yang diperkirakan lebih sedikit selama periode kemarau.

"Sifat musim kemarau atau disebut tingkat kekeringan diprediksi dan didominasi dalam kategori bawah normal mencakup 93-95 persen wilayah NTB," kata Nuga.

Musim kemarau dengan kategori bawah normal tersebut mengindikasikan curah hujan lebih sedikit ketimbang musim biasanya. Akibatnya, musim kemarau diperkirakan lebih kering dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.

Kondisi ini berpotensi memengaruhi berbagai sektor, terutama pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Selain itu, daerah dengan sumber air terbatas juga dapat mengalami tekanan terhadap pasokan air bersih.

Imbauan Antisipasi Menghadapi Musim Kemarau Lebih Panjang

Menghadapi kondisi musim kemarau yang diperkirakan lebih kering dan datang lebih awal, BMKG mengimbau masyarakat serta pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah antisipasi dianggap penting agar dampak yang mungkin muncul dapat diminimalkan sejak dini.

Nuga mengimbau masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersiap menghadapi akhir musim hujan yang segera berganti menjadi awal musim kemarau pada April 2026. Persiapan tersebut meliputi pengelolaan air, kesiapan sektor pertanian, serta upaya pencegahan kebakaran lahan.

"Durasi kemarau lebih kering dan lebih panjang, sehingga perlu kita antisipasi lebih awal supaya tidak terjadi bencana-bencana yang tidak kita harapkan," ujarnya.

Dengan adanya peringatan ini, masyarakat diharapkan lebih memperhatikan penggunaan sumber daya air serta memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG. Informasi tersebut menjadi acuan penting dalam menghadapi perubahan musim yang akan berlangsung dalam waktu dekat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index