Panas Bumi

Pertamina Geothermal Energy Catat Rekor Produksi Panas Bumi Bidik Kapasitas Hingga 3 GW

Pertamina Geothermal Energy Catat Rekor Produksi Panas Bumi Bidik Kapasitas Hingga 3 GW
Pertamina Geothermal Energy Catat Rekor Produksi Panas Bumi Bidik Kapasitas Hingga 3 GW

JAKARTA - Kinerja perusahaan energi panas bumi milik negara menunjukkan perkembangan yang cukup positif sepanjang tahun terakhir. 

Meski menghadapi sejumlah tekanan pada sisi keuntungan, perusahaan tetap mencatat pertumbuhan pendapatan sekaligus peningkatan produksi yang signifikan.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa sektor energi terbarukan, khususnya panas bumi, semakin memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan energi nasional. Permintaan listrik yang terus meningkat mendorong perusahaan untuk memperkuat kapasitas produksi dan memperluas jaringan pembangkit.

Di tengah dinamika pasar energi global, perusahaan juga terus menyiapkan berbagai proyek strategis guna mempercepat pengembangan energi bersih. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari langkah besar Indonesia dalam memperkuat transisi menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Kinerja operasional yang solid menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan perusahaan. Produksi yang meningkat menjadi fondasi penting untuk mencapai target kapasitas pembangkit panas bumi dalam beberapa tahun ke depan.

Pendapatan PGEO Meningkat Sepanjang Tahun

Emiten energi terbarukan, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk PGEO mencatatkan kenaikan pendapatan, meski laba bersihnya tertekan. Ke depan, PGEO akan terus meningkatkan kapasitas jaringan.

Melansir laporan keuangan per 31 Desember 2025, PGEO membukukan pendapatan sebesar US$ 432,72 juta. Ini meningkat 6,29% secara tahunan dari US$ 407,12 juta.

Pertumbuhan pendapatan tersebut mencerminkan kinerja operasional yang tetap stabil di tengah berbagai tantangan industri energi. Peningkatan ini juga menunjukkan adanya permintaan yang terus berkembang terhadap listrik berbasis panas bumi.

Meski kenaikan pendapatan tidak terlalu besar, hasil tersebut tetap memberikan sinyal positif bagi perkembangan bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

Tekanan Biaya Pengaruhi Laba Usaha

Laba usaha PGEO menyusut 3,05% secara tahunan menjadi US$ 233,06 juta. Tekanan datang dari melonjaknya beban pokok pendapatan dan beban langsung lainnya sebesar 19,76% secara year on year menjadi US$ 199,66 juta.

Kenaikan beban operasional tersebut menjadi faktor utama yang menekan kinerja keuntungan perusahaan. Dalam industri energi, peningkatan biaya produksi sering kali berkaitan dengan pengembangan infrastruktur dan operasional pembangkit.

Selain itu, berbagai proyek pengembangan yang tengah dijalankan juga membutuhkan investasi besar. Hal ini dapat berdampak pada meningkatnya beban perusahaan dalam jangka pendek.

Meski demikian, investasi tersebut dianggap penting untuk memperkuat kapasitas produksi serta mendukung strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Dampak Selisih Kurs Terhadap Kinerja Keuangan

Tak hanya itu, PGEO juga harus menanggung rugi dari selisih kurs sebesar US$ 7,63 juta di sepanjang 2025. Ini berbalik dari laba selisih kurs sebesar US$ 15,98 juta di tahun sebelumnya.

Perubahan nilai tukar mata uang memang sering menjadi faktor yang memengaruhi kinerja keuangan perusahaan, terutama yang memiliki transaksi internasional. Fluktuasi kurs dapat memberikan dampak signifikan terhadap laporan keuangan.

Alhasil, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk PGEO mencapai US$ 137,69 juta di 2025. Ini melorot 14,20% secara tahunan dari US$ 160,94 juta di 2024.

Meskipun laba bersih mengalami penurunan, perusahaan tetap mampu mempertahankan kinerja operasional yang stabil sepanjang tahun.

Produksi Panas Bumi Capai Rekor Tertinggi

Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy Yurizki Rio menjelaskan pertumbuhan pendapatan sejalan dengan kinerja operasional yang mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah dengan kenaikan sebesar 5,6% di 2025.

Capaian ini menjadi pencapaian penting bagi perusahaan dalam mengembangkan energi panas bumi di Indonesia. Produksi yang meningkat menunjukkan efektivitas pengelolaan wilayah kerja panas bumi yang dimiliki.

Yurizki bilang pihaknya berfokus pada pertumbuhan jangka panjang dengan berinvestasi pada berbagai proyek quick win untuk meningkatkan kapasitas terpasang dan produksi panas bumi.

“Di saat yang sama, kami juga terus memperluas kapasitas terpasang melalui sejumlah proyek strategis di berbagai wilayah kerja panas bumi,” jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima Kontan, Senin 9 Maret 2026.

Target Kapasitas Panas Bumi Hingga 3 Gigawatt

Dalam jangka panjang, kata Yurizki, PGEO menargetkan kapasitas terpasang hingga 3 gigawatt yang telah teridentifikasi dari 15 Wilayah Kerja Panas Bumi yang dikelola.

Beberapa proyek kunci PGE untuk mencapai target tersebut antara lain pengembangan Lumut Balai Unit 3 dan 4 dengan kapasitas 2 kali 55 MW, Hululais Unit 1 dan 2 sebesar 110 MW, serta Lahendong Unit 7 dan 8 dengan kapasitas 2 kali 20 MW dan Binary Unit 10 MW.

Yurizki menjelaskan pihaknya juga tengah mengembangkan sejumlah proyek co generation dengan total kapasitas 230 MW. PGEO juga terus memperkuat sinergi antar Badan Usaha Milik Negara dalam mendorong percepatan transisi menuju energi bersih.

Asal tahu saja, PGEO telah menjalin kerja sama dengan PT PLN Indonesia Power PLN IP untuk mempercepat pengembangan panas bumi melalui 19 proyek eksisting dengan total kapasitas 530 MW pada Agustus 2026.

“Kerja sama dengan PT PLN Indonesia Power PLN IP untuk mempercepat pengembangan panas bumi melalui 19 proyek eksisting dengan total kapasitas 530 MW,” kata Yurizki.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index