Harga Pangan

Harga Pangan Masih Tinggi di Ramadan, Kenaikan BBM Picu Kekhawatiran

Harga Pangan Masih Tinggi di Ramadan, Kenaikan BBM Picu Kekhawatiran
Harga Pangan Masih Tinggi di Ramadan, Kenaikan BBM Picu Kekhawatiran

JAKARTA - Harga sejumlah komoditas pangan tetap tinggi pada pekan kedua Maret 2026, meski pemerintah menegaskan stok pangan nasional aman. 

Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi menambah kekhawatiran karena berpotensi mendorong biaya distribusi meningkat, sehingga harga pangan bisa semakin mahal.

Fenomena ini terjadi di tengah Ramadan, ketika permintaan kebutuhan pokok masyarakat meningkat. Pemerintah terus memantau situasi dan melakukan berbagai langkah agar pasokan tetap lancar, termasuk melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah.

Harga Cabai dan Bumbu Masih Tinggi

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia per Senin (9/3/2026) menunjukkan harga cabai rawit merah mencapai Rp 85.500 per kilogram. Cabai merah besar tercatat Rp 45.600 per kilogram, sementara cabai merah keriting Rp 43.950 per kilogram.

Sementara itu, harga bawang merah berada di Rp 44.800 per kilogram dan bawang putih Rp 40.850 per kilogram. Lonjakan harga bumbu dapur ini dipengaruhi faktor cuaca, terutama curah hujan tinggi yang membuat petani menunda panen agar kualitas cabai tidak menurun.

Harga Protein Hewani Masih Tinggi

Harga daging ayam ras tetap tinggi di kisaran Rp 41.750 per kilogram, sedangkan telur ayam ras tercatat Rp 33.200 per kilogram. Ketua Dewan Pengurus Wilayah APPSI, Ngadiran, menyatakan keterbatasan pasokan bibit ayam atau day old chick (DOC) di tingkat peternak memengaruhi harga ayam ras.

“Distribusi dan keterbatasan bibit ayam membuat harga masih tinggi. Pemerintah perlu menurunkan satgas agar harga tetap terkendali,” kata Ngadiran. Ia juga menyoroti praktik lama dalam rantai distribusi pangan yang berpotensi memicu permainan harga di pasar.

Stabilitas Pasokan Pangan Nasional

Meski harga beberapa komoditas tinggi, pemerintah menegaskan pasokan pangan nasional tetap aman. Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, menyatakan masyarakat tidak perlu panic buying karena pembelian berlebihan justru mengganggu distribusi.

“Stok pangan saat ini cukup. Masyarakat tidak perlu khawatir. Pemerintah terus menjaga stabilitas melalui berbagai program, termasuk Gerakan Pangan Murah,” ujarnya. Program ini bertujuan agar kebutuhan pokok tetap tersedia dengan harga terjangkau selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri.

Dampak Kenaikan Harga Energi

Ekonom Senior Indef, Tauhid Ahmad, menilai kenaikan harga energi biasanya diikuti kenaikan harga pangan. Biaya logistik dan produksi meningkat, terutama untuk komoditas yang masih bergantung pada impor seperti kedelai, bawang putih, sebagian gula, dan beberapa jenis beras.

“Kenaikan harga BBM akan mendorong biaya distribusi dari sentra produksi ke pasar. Ini berdampak langsung pada harga pangan,” jelas Tauhid. Ia menekankan perlunya langkah antisipasi agar inflasi tidak semakin tinggi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Perlunya Strategi Diversifikasi dan Pengamanan Pangan

Selain kenaikan energi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menambah tekanan harga pangan. Biaya pengadaan barang impor menjadi lebih mahal sehingga pemerintah disarankan memperkuat strategi pengamanan pasokan, termasuk diversifikasi sumber impor.

Langkah ini penting agar tekanan harga pangan tidak mendorong inflasi lebih tinggi dan tidak mengganggu daya beli masyarakat. Situasi ini menjadi perhatian serius menjelang Idulfitri, ketika permintaan pangan biasanya meningkat secara signifikan

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index