JAKARTA - Di tengah meningkatnya dinamika risiko pembiayaan, perusahaan asuransi kredit dituntut menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas portofolio.
PT Asuransi Asei Indonesia memilih memperkuat fondasi manajemen risiko agar rasio klaim tetap terjaga dalam batas sehat dan bisnis berkelanjutan ke depan.
Upaya tersebut menjadi penting karena lini asuransi kredit di industri masih menghadapi tekanan klaim yang relatif tinggi. Karena itu strategi pengelolaan risiko menjadi fokus utama perusahaan agar kinerja tetap stabil sekaligus memberikan perlindungan yang optimal bagi para pemangku kepentingan perusahaan.
Penguatan Seleksi Risiko Kredit
Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe menjelaskan perusahaan menerapkan sejumlah langkah strategis. Fokus utamanya adalah memperkuat proses underwriting sekaligus meningkatkan ketelitian dalam memilih portofolio kredit yang akan diasuransikan agar risiko tetap terkendali dan kualitas bisnis perusahaan tetap terjaga secara konsisten.
Dody menegaskan pentingnya seleksi portofolio sebelum penjaminan kredit dilakukan.
"Sebab, seleksi terhadap portofolio kredit merupakan kunci utama. Tentu akan lebih selektif terhadap sektor usaha, profil debitur, serta kualitas lembaga pembiayaan yang menjadi mitra," ungkapnya.
Penyesuaian Premi Berdasarkan Risiko
Perusahaan juga menerapkan pendekatan risk based pricing dalam menentukan premi asuransi kredit. Langkah ini dilakukan agar besaran premi benar-benar mencerminkan tingkat risiko yang melekat pada setiap portofolio pembiayaan yang dijamin oleh perusahaan asuransi tersebut.
Dody menyebut industri asuransi juga mulai menyesuaikan tarif premi berdasarkan pengalaman klaim, tren Non Performing Loan (NPL), serta karakteristik debitur. Penyesuaian tersebut dinilai penting agar perusahaan tidak menetapkan premi terlalu rendah dibanding risiko yang sebenarnya dihadapi dalam portofolio kredit mereka.
Kolaborasi Pengelolaan Risiko Dengan Lembaga Pembiayaan
Selain kebijakan premi, perusahaan juga memperkuat mekanisme risk sharing dengan lembaga pembiayaan. Mitra kreditur didorong ikut bertanggung jawab terhadap kualitas pembiayaan sehingga pengelolaan risiko tidak hanya bertumpu pada perusahaan asuransi tetapi juga pada pemberi kredit.
Regulasi terbaru pada asuransi kredit menurut Dody turut mendorong pembagian risiko yang lebih proporsional antara perusahaan asuransi dan lembaga pembiayaan. Selain itu Asei juga melakukan monitoring portofolio secara lebih aktif guna mendeteksi sejak dini potensi kredit bermasalah dalam portofolio pembiayaan.
Faktor Pendorong Kenaikan Klaim Asuransi Kredit
Dengan berbagai langkah tersebut perusahaan berharap rasio klaim dapat lebih terkendali sehingga bisnis asuransi kredit tetap berjalan berkelanjutan dalam jangka panjang. Strategi ini juga diharapkan mampu menjaga stabilitas industri sekaligus meningkatkan kepercayaan lembaga pembiayaan terhadap perlindungan asuransi kredit yang disediakan.
Sementara itu Dody menjelaskan terdapat beberapa faktor utama yang dapat memengaruhi peningkatan rasio klaim pada lini asuransi kredit. Dia bilang salah satunya adalah kualitas portofolio kredit yang diasuransikan.
"Jika kualitas kredit yang dijamin menurun atau terjadi peningkatan kredit bermasalah, klaim asuransi kredit cenderung meningkat," katanya.
Dody menyebut kondisi ekonomi makro turut memengaruhi. Dia menerangkan perlambatan ekonomi, penurunan daya beli, atau tekanan pada sektor usaha tertentu dapat memengaruhi kemampuan debitur dalam membayar kewajibannya.
Faktor lainnya yakni praktik underwriting yang terlalu longgar atau premi yang tidak mencerminkan risiko dapat menyebabkan rasio klaim asuransi kredit menjadi tinggi. Kondisi tersebut membuat perusahaan berpotensi menanggung beban klaim lebih besar dibandingkan dengan premi yang diterima.
Dody juga menyoroti karakteristik produk asuransi kredit yang mengikuti tenor pinjaman yang umumnya menengah hingga panjang. Hal ini menyebabkan klaim dapat muncul beberapa tahun setelah polis diterbitkan sehingga perusahaan harus mempersiapkan cadangan risiko secara lebih hati-hati.
"Selain itu, peningkatan kredit konsumtif atau pembiayaan pada sektor berisiko tinggi juga dapat meningkatkan potensi klaim," ucap Dody.
Sebagai informasi, angka rasio klaim lini asuransi kredit di industri asuransi umum terbilang masih tinggi. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, rasio klaim asuransi kredit berada di level 95,7% per akhir 2025, atau meningkat dibandingkan pencapaian per akhir 2024 yang sebesar 91,3%.
Kondisi ini menunjukkan tantangan besar bagi perusahaan asuransi kredit dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio pembiayaan. Tanpa pengelolaan risiko yang kuat peningkatan klaim dapat menekan profitabilitas serta mengganggu stabilitas kinerja perusahaan.
Karena itu strategi penguatan underwriting, seleksi debitur, serta penyesuaian premi berbasis risiko menjadi langkah penting agar pertumbuhan bisnis tetap sehat. Perusahaan juga harus disiplin memantau perkembangan portofolio kredit yang dijamin agar potensi masalah dapat dideteksi lebih awal.
Pendekatan kolaboratif dengan lembaga pembiayaan juga dinilai mampu memperkuat mitigasi risiko secara menyeluruh. Ketika perusahaan asuransi dan kreditur berbagi tanggung jawab terhadap kualitas pembiayaan maka potensi kredit bermasalah dapat ditekan.
Melalui rangkaian strategi tersebut manajemen berharap rasio klaim asuransi kredit dapat bergerak lebih terkendali ke depan. Dengan manajemen risiko yang disiplin perusahaan optimistis mampu mempertahankan kinerja bisnis sekaligus mendukung pertumbuhan pembiayaan yang sehat bagi perekonomian nasional.