JAKARTA - Pergerakan nilai tukar mata uang kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada awal perdagangan hari ini.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat mengalami pelemahan pada pembukaan pasar setelah sebelumnya menghadapi tekanan dari berbagai sentimen global.
Kondisi pasar internasional yang dipengaruhi oleh lonjakan harga komoditas energi turut memberikan dampak terhadap pergerakan mata uang di berbagai negara. Situasi tersebut membuat investor lebih berhati hati dalam melakukan transaksi di pasar valuta asing.
Perkembangan harga minyak dunia yang meningkat tajam menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisi dolar Amerika Serikat di pasar global. Hal ini membuat sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan pada awal perdagangan.
Dengan adanya berbagai faktor eksternal tersebut, pelaku pasar terus memantau dinamika pasar global untuk melihat arah pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek. Perubahan sentimen global sering kali menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang di pasar keuangan internasional.
Rupiah melemah pada pembukaan perdagangan pagi
Pada awal perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan. Mata uang Indonesia tersebut tidak mampu menahan penguatan dolar yang mendapat dorongan dari kenaikan harga minyak dunia.
Mengutip data dari Bloomberg pada Jumat, 13 Maret 2026, rupiah berada di level Rp16.910 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan bahwa mata uang Garuda melemah sekitar 17 poin atau setara 0,10 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp16.893 per dolar AS.
Pelemahan ini menggambarkan bahwa tekanan eksternal masih memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Investor cenderung menempatkan dana pada aset yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian global meningkat.
Selain itu, pergerakan dolar yang menguat terhadap berbagai mata uang dunia juga menjadi faktor yang turut memengaruhi kinerja rupiah pada awal perdagangan.
Data pasar menunjukkan pergerakan rupiah bervariasi
Sementara itu, data lain yang dikutip dari Yahoo Finance menunjukkan pergerakan rupiah yang sedikit berbeda pada waktu yang sama. Berdasarkan data tersebut, rupiah berada di level Rp16.894 per dolar AS.
Angka ini menunjukkan bahwa rupiah melemah sekitar 38 poin atau 0,23 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp16.856 per dolar AS.
Perbedaan angka yang muncul dari berbagai sumber data pasar merupakan hal yang umum terjadi dalam perdagangan valuta asing. Hal ini disebabkan oleh perbedaan waktu pencatatan serta sumber transaksi yang digunakan oleh masing masing platform.
Meskipun terdapat perbedaan angka, arah pergerakan rupiah tetap menunjukkan kecenderungan yang sama yaitu mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan hari ini.
Lonjakan harga minyak dunia memengaruhi pasar mata uang
Salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah saat ini adalah lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak global yang meningkat tajam telah memberikan dorongan bagi penguatan dolar Amerika Serikat di pasar internasional.
Kenaikan harga energi biasanya memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi peningkatan inflasi global. Ketika inflasi meningkat, bank sentral di berbagai negara cenderung mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat.
Situasi tersebut membuat investor menjadi lebih berhati hati dalam menempatkan dana mereka di pasar keuangan. Akibatnya, mata uang negara berkembang sering kali mengalami tekanan karena arus modal mengalir ke aset yang dianggap lebih stabil.
Pergerakan harga minyak yang telah menembus level psikologis tertentu juga menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kenaikan harga energi dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa pergerakan rupiah pada hari ini akan cenderung fluktuatif meskipun masih berada dalam tekanan pelemahan.
Menurutnya, mata uang Garuda diperkirakan bergerak dalam rentang antara Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS. Rentang tersebut menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase penyesuaian terhadap berbagai sentimen global yang memengaruhi pasar valuta asing.
Ibrahim mengungkapkan bahwa prospek kurs rupiah masih terdampak oleh lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus level 100 dolar AS per barel. Kondisi ini membuat pelaku pasar waspada terhadap potensi inflasi jangka panjang.
Ia menjelaskan, “Hal ini pada gilirannya memicu kekhawatiran atas kebijakan bank sentral yang lebih agresif dalam beberapa bulan mendatang,” papar Ibrahim.
Sentimen global dan data inflasi AS menjadi perhatian pasar
Selain faktor harga minyak, perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global juga turut memengaruhi prospek pergerakan rupiah. Pasar masih mencermati berbagai sinyal yang muncul dari kebijakan pemerintah Amerika Serikat.
Rupiah juga diproyeksikan kembali melemah meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memberikan sinyal bahwa konflik di Iran hampir berakhir. Sentimen geopolitik tersebut tetap menjadi perhatian investor global.
Dari sisi kebijakan moneter, prospek rupiah juga dipengaruhi oleh rilis data inflasi Amerika Serikat yang dikenal sebagai CPI. Data inflasi Februari yang sesuai ekspektasi memberikan sedikit petunjuk mengenai arah kebijakan ekonomi selanjutnya.
Ibrahim menambahkan bahwa perhatian pasar saat ini tertuju pada rilis data inflasi lain yang dianggap lebih penting. Data yang dimaksud adalah indeks harga PCE yang sering digunakan sebagai acuan utama oleh bank sentral Amerika Serikat.
Ia menjelaskan, “Fokus minggu ini sepenuhnya tertuju pada data indeks harga PCE untuk bulan Januari, yang akan dirilis pada hari Jumat, untuk mendapatkan petunjuk yang lebih pasti mengenai inflasi. Data tersebut merupakan tolok ukur inflasi pilihan Federal Reserve, dan kemungkinan akan menjadi faktor dalam ekspektasi inflasi jangka panjang,” imbuh Ibrahim.