JAKARTA - Capaian investasi Indonesia sepanjang dua ribu dua puluh lima memberi gambaran tersendiri tentang daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Di saat ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia masih membayangi, arus modal yang masuk ke Tanah Air justru mampu menembus target yang telah ditetapkan pemerintah.
Data resmi Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal menunjukkan bahwa realisasi investasi nasional sepanjang dua ribu dua puluh lima mencapai Rp1.931,2 triliun. Angka ini melampaui target Rp1.905,6 triliun yang sebelumnya ditetapkan.
Capaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa Indonesia masih dipandang menarik oleh investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kepercayaan ini menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ke depan.
Capaian Investasi Lampaui Rencana Pemerintah
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa realisasi investasi sepanjang dua ribu dua puluh lima berhasil melampaui target. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers capaian realisasi investasi triwulan akhir di kantor BKPM, Jakarta.
Ia menyebutkan bahwa capaian ini patut disyukuri mengingat kondisi global yang belum sepenuhnya stabil. Di tengah tantangan tersebut, investasi tetap mampu tumbuh dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.
Secara tahunan, realisasi investasi tumbuh sebesar dua belas koma tujuh persen. Meski demikian, laju pertumbuhan ini tercatat lebih lambat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang mampu menembus pertumbuhan di atas dua puluh persen.
Dampak Investasi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
Selain nilai investasi, dampak lain yang menjadi sorotan adalah kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja. Sepanjang dua ribu dua puluh lima, investasi yang masuk berhasil menyerap sekitar dua koma tujuh satu juta tenaga kerja di berbagai sektor.
Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan lebih dari sepuluh persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penyerapan tenaga kerja ini menjadi indikator bahwa investasi tidak hanya berkontribusi pada angka makro, tetapi juga menyentuh aspek kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah menilai bahwa tren ini perlu terus dijaga agar investasi yang masuk benar-benar memberikan manfaat nyata. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Peran Investasi Domestik Semakin Dominan
Dilihat dari komposisi sumber modal, Penanaman Modal Dalam Negeri menjadi penggerak utama investasi nasional sepanjang dua ribu dua puluh lima. Kontribusi PMDN tercatat mencapai lebih dari separuh total realisasi investasi.
Pertumbuhan investasi domestik tercatat cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha dalam negeri terhadap prospek ekonomi nasional.
Sementara itu, Penanaman Modal Asing mencatatkan nilai investasi sebesar Rp900,9 triliun. Kontribusi PMA berada di kisaran empat puluh enam persen dari total realisasi, meski pertumbuhannya relatif stagnan.
Tantangan Global dan Strategi Pemerintah
Menteri Rosan mengakui bahwa perlambatan pertumbuhan investasi asing tidak lepas dari dinamika global. Ketegangan geopolitik, tekanan geoekonomi, serta kondisi ekonomi dunia yang belum stabil masih memengaruhi keputusan investor.
Meski demikian, pemerintah menilai bahwa realisasi investasi yang masuk masih sejalan dengan rencana yang telah disusun. Baik investasi dari dalam negeri maupun luar negeri tetap menunjukkan arah yang positif.
Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk lebih aktif menjalin komunikasi dengan calon investor. Melalui Indonesia Investment Promotion Center di berbagai negara, upaya promosi dan pendekatan akan terus diperkuat.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga momentum investasi di tengah tantangan global. Dengan strategi yang tepat, pemerintah optimistis tren investasi dapat terus meningkat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Keberhasilan melampaui target investasi pada dua ribu dua puluh lima menjadi fondasi penting bagi langkah selanjutnya. Pemerintah berharap capaian ini dapat menjadi dorongan untuk memperkuat iklim usaha, meningkatkan daya saing, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif di masa mendatang.