Daftar Mobil Listrik Terlaris Indonesia 2025 Didominasi China Tanpa Kehadiran Merek Jepang

Senin, 19 Januari 2026 | 10:37:25 WIB
Daftar Mobil Listrik Terlaris Indonesia 2025 Didominasi China Tanpa Kehadiran Merek Jepang

JAKARTA - Pasar mobil listrik Indonesia sepanjang 2025 menampilkan dinamika yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. 

Pertumbuhan penjualan yang sangat pesat justru diiringi perubahan peta persaingan merek. Jika sebelumnya pabrikan Jepang kerap mendominasi segmen kendaraan konvensional dan hybrid, pada mobil listrik murni situasinya berbalik arah. Sepanjang 2025, daftar mobil listrik terlaris di Tanah Air sepenuhnya diisi oleh merek China dan Vietnam, tanpa satu pun nama Jepang masuk jajaran 10 besar.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana strategi harga, agresivitas produk, serta pemanfaatan insentif pemerintah mampu mengubah struktur pasar dalam waktu relatif singkat. Data penjualan yang dirilis menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin terbuka terhadap merek baru, selama produk yang ditawarkan sesuai kebutuhan dan memiliki nilai ekonomis yang kuat.

Dominasi merek China dalam peta penjualan

Merek asal China tampil sebagai penguasa mutlak pasar mobil listrik Indonesia pada 2025. BYD menjadi pemain paling agresif dengan menempatkan tiga model sekaligus di posisi teratas daftar penjualan. Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi penetrasi pasar yang fokus pada kombinasi harga kompetitif, desain modern, serta fitur yang relevan bagi konsumen perkotaan.

Urutan pertama ditempati BYD Atto 1 dengan catatan wholesales mencapai 22.582 unit. Angka ini menjadikan Atto 1 sebagai tulang punggung penjualan BYD di Indonesia. Desain ringkas, fitur yang relatif lengkap, serta dukungan insentif membuat model ini mudah diterima pasar. Posisi kedua diisi BYD M6 dengan distribusi 10.862 unit, sementara Sealion 07 berada di peringkat ketiga dengan penjualan 8.402 unit.

Keberhasilan BYD ini memperlihatkan bahwa konsumen tidak lagi semata-mata melihat asal merek, melainkan mempertimbangkan nilai guna dan harga yang ditawarkan. Dalam konteks mobil listrik, aspek efisiensi dan biaya kepemilikan menjadi faktor penentu.

Segmen premium dan peran Denza

Di luar segmen massal, pasar premium mobil listrik juga menunjukkan pertumbuhan yang solid. Denza D9, merek yang berada di bawah naungan BYD, berhasil menempati posisi keempat dengan penjualan 7.474 unit. Capaian ini menegaskan bahwa segmen kendaraan listrik premium mulai menemukan ceruk pasarnya di Indonesia.

Denza diposisikan sebagai merek untuk konsumen yang menginginkan kenyamanan, ruang, serta citra eksklusif, tanpa meninggalkan konsep kendaraan ramah lingkungan. Kehadiran Denza D9 sekaligus memperluas spektrum pasar mobil listrik, dari entry level hingga kelas atas.

Pabrikan non-China tetap bertahan

Meski merek China mendominasi, bukan berarti pemain lain sepenuhnya tersisih. VinFast dari Vietnam menjadi satu-satunya produsen non-China yang mampu menembus daftar 10 besar. VinFast VF e34 menempati peringkat kelima dengan wholesales 5.974 unit, menunjukkan respons positif pasar terhadap produk asal Vietnam tersebut.

Selain VF e34, VinFast juga menempatkan model VF5 di posisi kesembilan dengan distribusi 3.106 unit. Capaian ini menandakan bahwa pasar Indonesia masih memberi ruang bagi merek non-China, selama produk yang ditawarkan memiliki harga kompetitif dan ketersediaan unit yang memadai.

Sementara itu, Chery J6 berada di urutan keenam dengan penjualan 5.810 unit. Wuling juga mempertahankan eksistensinya melalui BinguoEV di posisi ketujuh dengan 4.213 unit dan Air EV di peringkat kedelapan dengan 3.894 unit. Urutan ke-10 ditempati GAC Aion V yang mencatatkan angka distribusi 3.087 unit.

Lonjakan penjualan mobil listrik nasional

Secara keseluruhan, penjualan mobil listrik Indonesia pada 2025 mencatatkan lonjakan signifikan. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan bahwa wholesales mobil listrik menembus 103.931 unit sepanjang tahun tersebut. Angka ini setara dengan kontribusi lebih dari 12 persen terhadap total penjualan kendaraan nasional.

Kenaikan permintaan mobil listrik pada 2025 melonjak hingga 141 persen dibandingkan 2024, ketika wholesales masih berada di angka 43.188 unit. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kendaraan ramah lingkungan, sekaligus efek langsung dari kebijakan insentif yang diberikan pemerintah.

Namun, peningkatan penjualan ini belum sepenuhnya sejalan dengan kapasitas produksi dalam negeri. Produksi mobil listrik di Indonesia justru tercatat turun 4 persen pada 2025 menjadi 24.727 unit, dari sebelumnya 25.861 unit pada 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar mobil listrik yang beredar di pasar domestik masih berasal dari impor.

Tantangan dan arah pasar ke depan

Ketimpangan antara penjualan dan produksi menjadi tantangan tersendiri bagi industri otomotif nasional. Di satu sisi, permintaan pasar tumbuh sangat cepat, tetapi di sisi lain, kapasitas produksi lokal belum mampu mengimbangi lonjakan tersebut. Situasi ini menegaskan pentingnya percepatan investasi pabrik dan rantai pasok mobil listrik di dalam negeri.

Tidak hadirnya merek Jepang dalam daftar 10 besar mobil listrik terlaris juga menjadi sinyal kuat bahwa pabrikan tradisional perlu mengevaluasi kembali strategi mereka di segmen kendaraan listrik murni. Konsumen Indonesia terbukti responsif terhadap produk baru, selama menawarkan kombinasi harga, fitur, dan ketersediaan yang tepat.

Dengan tren penjualan yang terus meningkat, pasar mobil listrik Indonesia diprediksi tetap tumbuh pada tahun-tahun mendatang. Persaingan akan semakin ketat, tidak hanya antar merek China, tetapi juga dengan masuknya pemain global lainnya. Tahun 2025 pun menjadi penanda penting perubahan lanskap industri otomotif nasional menuju era elektrifikasi yang semakin nyata.

Terkini