Harga Minyak Dunia Menguat Awal Pekan Dipicu Isu Geopolitik Dan Data Pasokan Global

Selasa, 20 Januari 2026 | 13:28:52 WIB
Harga Minyak Dunia Menguat Awal Pekan Dipicu Isu Geopolitik Dan Data Pasokan Global

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menjadi sorotan pada awal pekan ini seiring berkembangnya dinamika geopolitik dan rilis data pasokan dari sejumlah negara utama. 

Sentimen pasar cenderung berhati-hati, meski harga minyak mencatatkan kenaikan tipis setelah sesi sebelumnya ditutup menguat. Investor global menimbang berbagai faktor, mulai dari situasi politik di Timur Tengah hingga perkembangan stok minyak dan kebijakan energi negara produsen.

Pada perdagangan Senin atau Selasa waktu Jakarta, harga minyak menunjukkan kecenderungan naik terbatas. Kondisi ini mencerminkan respons pasar terhadap meredanya kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan produsen utama, meskipun risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Situasi tersebut membuat pelaku pasar bersikap selektif dalam mengambil posisi.

Pergerakan Harga Minyak Brent Dan WTI

Mengutip CNBC, Selasa (20/1/2026), harga minyak mentah Brent diperdagangkan di level USD 64,19 per barel. Angka ini naik 6 sen atau sekitar 0,09 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI untuk kontrak Februari tercatat menguat 9 sen atau 0,15 persen menjadi USD 59,53 per barel.

Kenaikan tipis tersebut terjadi setelah harga minyak sempat melonjak pada sesi sebelumnya. Namun, penguatan ini masih berada dalam rentang terbatas karena pasar mencermati berbagai sinyal yang berpotensi menekan harga ke depan. Pergerakan harga mencerminkan keseimbangan antara sentimen geopolitik dan faktor fundamental pasokan.

Meski demikian, harga minyak masih berada di bawah level tertinggi multi bulan yang sempat dicapai pekan lalu. Hal ini menandakan adanya koreksi setelah lonjakan yang dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan global.

Situasi Iran Dan Dampaknya Ke Pasar Energi

Salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak adalah situasi politik di Iran. Tindakan keras pemerintah Iran terhadap protes yang dipicu kesulitan ekonomi disebut meredam keresahan sipil di negara tersebut. Para pejabat menyebutkan bahwa tindakan tersebut menewaskan 5.000 orang.

Perkembangan ini mempersempit peluang terjadinya intervensi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Pasar menilai berkurangnya risiko konflik terbuka akan menurunkan kemungkinan gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, khususnya dari Iran sebagai salah satu produsen utama OPEC.

Presiden AS Donald Trump juga memberikan sinyal penurunan tensi dengan menarik kembali ancaman intervensi sebelumnya. Melalui media sosial, ia menyatakan bahwa Iran telah membatalkan rencana hukuman gantung massal terhadap demonstran, meskipun belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Iran terkait hal tersebut.

Risiko Pasokan Dan Respons Investor

Pernyataan tersebut dinilai pasar sebagai sinyal meredanya risiko geopolitik. Dengan demikian, kemungkinan terganggunya aliran minyak dari Iran sebagai produsen terbesar keempat di OPEC menjadi lebih kecil. Hal ini turut menekan premi risiko yang sebelumnya mendorong harga minyak naik signifikan.

Meski begitu, pergerakan militer AS ke kawasan Teluk tetap menjadi perhatian investor. Langkah ini menggarisbawahi bahwa kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan global masih ada, meskipun intensitasnya menurun dibandingkan pekan sebelumnya.

“Penurunan harga tersebut terjadi setelah pelepasan cepat premium Iran yang telah mendorong harga melonjak ke level tertinggi dalam 12 minggu, dipicu oleh tanda-tanda pelonggaran tindakan keras Iran terhadap para pengunjuk rasa,” kata Analis Pasar IG, Tony Sycamore.

Tekanan Dari Data Stok Minyak Amerika Serikat

Selain faktor geopolitik, data persediaan minyak Amerika Serikat turut memberikan tekanan pada harga. Menurut Tony Sycamore, data stok menunjukkan peningkatan signifikan pada minyak mentah yang memperkuat sentimen bearish terkait pasokan.

Data dari Energy Information Administration atau EIA pekan lalu mencatat stok minyak mentah AS naik 3,4 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Januari. Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang sebelumnya memperkirakan penurunan sebesar 1,7 juta barel.

Kenaikan stok tersebut mengindikasikan pasokan yang relatif longgar di pasar AS. Kondisi ini menjadi faktor penahan laju kenaikan harga minyak, terutama di tengah permintaan yang belum menunjukkan lonjakan signifikan.

Perhatian Pasar Pada Venezuela Dan China

Pasar juga mengamati perkembangan terkait ladang minyak Venezuela. Presiden Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengelola industri minyak negara tersebut setelah Nicolas Maduro digulingkan. Pernyataan ini memunculkan spekulasi baru terkait potensi perubahan pasokan dari Venezuela.

Amerika Serikat disebut bergerak cepat untuk memberikan izin lisensi produksi yang diperluas kepada Chevron di Venezuela. Menteri energi AS menyampaikan hal tersebut kepada Reuters pada Jumat lalu. Meski demikian, pasar masih meragukan prospek peningkatan produksi minyak dari negara tersebut dalam waktu dekat.

“Venezuela dan Ukraina tetap berada di urutan belakang,” kata Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights. “Perkirakan pergerakan harga akan berada dalam kisaran terbatas untuk sisa hari ini, karena pasar AS tutup,” ungkap dia.

Dari Asia, data pemerintah China menunjukkan kapasitas pengolahan kilang minyak pada 2025 meningkat 4,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi minyak mentah juga tumbuh 1,5 persen dari 2024. Keduanya mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, yang menjadi sinyal kuat dari sisi pasokan dan permintaan global.

Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak saat ini masih dipengaruhi tarik-menarik antara risiko geopolitik dan data fundamental pasokan. Pasar cenderung bergerak hati-hati sambil menunggu perkembangan lanjutan dari kawasan produsen utama dan kebijakan energi negara besar.

Terkini