Kebiasaan Ngopi Takeaway Diam-Diam Masukkan Mikroplastik ke Tubuh Setiap Hari

Rabu, 21 Januari 2026 | 12:58:10 WIB
Kebiasaan Ngopi Takeaway Diam-Diam Masukkan Mikroplastik ke Tubuh Setiap Hari

JAKARTA - Rutinitas membeli kopi takeaway di pagi hari sering dianggap hal sepele yang menyenangkan sebelum memulai aktivitas. 

Namun, di balik aroma kopi panas dan kepraktisan gelas sekali pakai, tersimpan potensi risiko kesehatan yang jarang diperhatikan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan ini dapat menjadi jalur masuk mikroplastik ke dalam tubuh tanpa disadari oleh banyak orang.

Temuan tersebut menyoroti peran besar suhu panas dan jenis bahan gelas terhadap pelepasan partikel mikroplastik. Gelas kopi sekali pakai, baik yang berbahan plastik murni maupun kertas berlapis plastik tipis, terbukti dapat melepaskan ribuan hingga jutaan partikel kecil ke dalam minuman panas. Artinya, aktivitas ngopi yang tampak aman bisa menyumbang paparan mikroplastik harian.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Journal of Hazardous Materials: Plastics mengungkap bahwa panas adalah faktor utama yang mempercepat pelepasan mikroplastik. Para peneliti menegaskan bahwa bahan gelas berpengaruh jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan, terutama saat digunakan untuk minuman panas seperti kopi atau teh.

Fakta konsumsi gelas sekali pakai yang mengkhawatirkan

Penggunaan gelas minuman panas sekali pakai ternyata sangat masif. Di Australia saja, konsumsi gelas minuman panas mencapai sekitar 1,45 miliar per tahun, ditambah sekitar 890 juta tutup plastik. Jika ditarik ke skala global, jumlahnya melonjak drastis hingga sekitar 500 miliar gelas per tahun.

Angka tersebut mencerminkan betapa dekatnya masyarakat modern dengan produk plastik sekali pakai. Setiap gelas yang digunakan bukan hanya menghasilkan sampah, tetapi juga berpotensi menjadi sumber paparan mikroplastik ke tubuh manusia. Kebiasaan yang diulang setiap hari dapat memberikan efek akumulatif dalam jangka panjang.

Para peneliti menilai tingginya angka konsumsi ini membuat temuan tentang mikroplastik menjadi semakin relevan. Risiko yang awalnya terlihat kecil bisa menjadi signifikan ketika dikalikan dengan frekuensi penggunaan dan jumlah populasi yang terpapar.

Metode penelitian dan hasil pengujian langsung

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menganalisis sekitar 30 studi ilmiah sebelumnya dan melakukan pengujian langsung terhadap 400 gelas kopi di Brisbane. Fokus penelitian diarahkan pada dua jenis gelas utama, yakni gelas plastik murni berbahan polyethylene dan gelas kertas dengan lapisan plastik tipis di bagian dalam.

Pengujian dilakukan pada dua kondisi suhu, yaitu 5 derajat Celsius untuk minuman dingin dan 60 derajat Celsius untuk minuman panas. Hasilnya sangat jelas, semakin tinggi suhu minuman, semakin banyak mikroplastik yang terlepas ke dalam cairan.

Pada gelas plastik murni, perpindahan dari minuman dingin ke panas meningkatkan pelepasan mikroplastik sekitar 33 persen. Jika seseorang mengonsumsi sekitar 300 mililiter kopi panas setiap hari dari gelas plastik jenis ini, ia berpotensi menelan hingga 363.000 partikel mikroplastik dalam setahun.

Apa sebenarnya mikroplastik itu

Mikroplastik adalah potongan plastik berukuran sangat kecil, berkisar antara 1 mikrometer hingga 5 milimeter. Ukurannya bisa menyerupai debu halus hingga sebutir biji wijen. Partikel ini berasal dari pecahan plastik yang lebih besar atau dilepaskan langsung dari produk sehari-hari.

Saat ini, mikroplastik telah ditemukan hampir di mana-mana, mulai dari laut, udara, air minum, makanan, hingga tubuh manusia. Meski demikian, para ilmuwan masih terus meneliti dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan karena partikel ini sangat sulit dideteksi dan diukur secara presisi di dalam jaringan tubuh.

Kekhawatiran utama muncul karena mikroplastik berpotensi membawa zat kimia berbahaya atau menjadi media pembawa polutan lain. Paparan berulang dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat memengaruhi sistem tubuh, meski bukti klinis yang pasti masih terus dikembangkan.

Alasan panas mempercepat pelepasan mikroplastik

Dengan teknologi pencitraan beresolusi tinggi, peneliti menemukan bahwa bagian dalam gelas plastik murni memiliki permukaan yang jauh lebih kasar. Permukaan ini dipenuhi lekukan mikro yang memudahkan partikel plastik terlepas ketika bersentuhan dengan cairan panas.

Panas membuat plastik melunak, kemudian mengembang dan menyusut. Proses ini menciptakan tekanan pada struktur material, sehingga fragmen mikro lebih mudah terlepas dan bercampur ke dalam minuman. Kondisi inilah yang membuat kopi panas menjadi medium berisiko lebih tinggi dibanding minuman dingin.

Gelas kertas berlapis plastik memang sedikit lebih baik dibanding plastik murni, tetapi tetap bukan solusi sepenuhnya aman. Lapisan plastik tipis di bagian dalam tetap dapat terurai, terutama saat terkena suhu tinggi dalam waktu tertentu.

Langkah sederhana mengurangi paparan mikroplastik

Meski temuan ini terdengar mengkhawatirkan, para peneliti menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menghentikan kebiasaan ngopi sepenuhnya. Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.

Menggunakan tumbler reusable berbahan stainless steel, keramik, atau kaca menjadi pilihan paling aman. Jika terpaksa menggunakan gelas sekali pakai, gelas kertas berlapis plastik dinilai sedikit lebih baik dibanding plastik murni. Selain itu, hindari menuangkan cairan yang terlalu panas ke dalam wadah plastik.

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah meminta barista menyajikan kopi dalam kondisi hangat, bukan mendidih. Dengan perubahan kecil namun konsisten, kebiasaan ngopi tetap bisa dinikmati tanpa menambah paparan mikroplastik secara berlebihan dalam jangka panjang.

Terkini