Rekomendasi Saham Hari Ini Kamis 22 Januari 2026 Paling Potensial Untuk Trader

Kamis, 22 Januari 2026 | 09:06:03 WIB
Rekomendasi Saham Hari Ini Kamis 22 Januari 2026 Paling Potensial Untuk Trader

JAKARTA - Tekanan pasar saham kembali menjadi perhatian utama investor pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026. 

Setelah IHSG ditutup melemah cukup dalam sehari sebelumnya, pelaku pasar dihadapkan pada kebutuhan strategi yang lebih selektif. Kondisi volatilitas tinggi membuat keputusan investasi tidak bisa dilakukan secara terburu buru. Di tengah situasi tersebut, rekomendasi saham menjadi rujukan penting bagi trader harian.

Indeks Harga Saham Gabungan pada Rabu, 21 Januari 2026, tercatat melemah 1,36% ke level 9.010. Tekanan jual masih mendominasi pergerakan pasar secara keseluruhan. Aksi jual investor asing turut memperberat laju indeks. Kondisi ini membuat peluang koreksi lanjutan masih terbuka pada perdagangan hari ini.

Analis pasar menilai, IHSG belum sepenuhnya keluar dari fase rawan koreksi. Sentimen global dan domestik masih menjadi faktor penekan utama. Investor pun dituntut lebih disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Dalam kondisi seperti ini, saham pilihan dengan sinyal teknikal yang jelas menjadi alternatif strategi.

Proyeksi Pergerakan IHSG Masih Berisiko

Laju IHSG pada Kamis ini diperkirakan masih berada dalam tekanan. Secara teknikal, indeks berpeluang melemah ke rentang 8.710 hingga 8.887. Proyeksi ini muncul setelah IHSG gagal mempertahankan penguatan pada perdagangan sebelumnya. Tekanan jual masih terlihat dominan di sejumlah sektor.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menuturkan posisi IHSG saat ini berada pada awal wave [iv] dari wave 5. Dengan kondisi tersebut, potensi koreksi lanjutan masih terbuka. Area penguatan IHSG disebut berada pada kisaran 9.026 hingga 9.054. Pernyataan ini menegaskan bahwa ruang naik masih terbatas.

"Adapun area penguatan IHSG akan menguji 9.026-9.054,” ujar Herditya. Ia juga menyebutkan level support IHSG berada di 8.956 dan 8.905. Sementara itu, level resistance berada di 9.120 dan 9.192. Rentang ini menjadi acuan penting bagi pelaku pasar.

Dalam riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas, IHSG disebut berpeluang menguat terbatas. Support dan resistance indeks diperkirakan berada di kisaran 9.000 hingga 9.200. Namun, penguatan dinilai belum cukup kuat untuk mengubah tren jangka pendek. Investor tetap disarankan waspada.

Tekanan Jual Asing Dan Sentimen Pasar

Tekanan pada IHSG tidak terlepas dari aksi jual investor asing. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing tercatat melepas saham senilai Rp 1,88 triliun. Aksi ini memperlihatkan sikap hati hati investor global terhadap pasar domestik. Volatilitas pun meningkat seiring derasnya arus dana keluar.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus alias Nico, menyebutkan pelemahan IHSG diwarnai volatilitas tinggi. Kondisi ini dipicu oleh aksi ambil untung setelah reli sebelumnya. Selain itu, faktor kebijakan domestik juga memberi tekanan tambahan. Saham berbasis sumber daya alam tercatat melemah.

“Dari dalam negeri, saham-saham berbasis Sumber Daya Alam termasuk yang berkapitalisasi besar tercatat melemah merespons kebijakan pemerintah yang mencabut izin Perizinan Berusaha Pemanfataan Hutan sebanyak 28 perusahaan,” demikian dikutip dari Antara. Kebijakan tersebut berdampak langsung pada sektor terkait. Sentimen negatif pun menyebar ke pasar.

Dari sisi moneter, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 4,75% dinilai belum cukup menahan tekanan. Kebijakan tersebut sudah sesuai ekspektasi pasar. Namun belum mampu menjadi katalis positif. Investor masih menanti langkah lanjutan yang lebih akomodatif.

Daftar Saham Rekomendasi Pilarmas Dan MNC Sekuritas

Di tengah kondisi pasar yang menantang, sejumlah saham tetap dinilai memiliki peluang trading. PT Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham ANTM, HRTA, dan BRMS. Saham saham ini dinilai memiliki potensi seiring pergerakan harga komoditas. Sektor emas masih menarik dicermati.

Sementara itu, Herditya Wicaksana memilih saham ENRG, IMPC, MBMA, dan BMRI sebagai saham pilihan. Rekomendasi ini didasarkan pada analisis teknikal jangka pendek. Masing masing saham memiliki karakter pergerakan yang berbeda. Strategi masuk pun disesuaikan dengan kondisi harga.

Pemilihan saham ini bertujuan memanfaatkan peluang di tengah volatilitas. Trader disarankan fokus pada disiplin entry dan exit. Penentuan stoploss menjadi faktor penting. Dengan demikian, risiko dapat dikendalikan secara optimal.

Ulasan Teknikal Saham Energi Dan Industri

Saham PT Energi Mega Persada Tbk atau ENRG tercatat menguat 0,98% ke level 1.550. Penguatan ini disertai munculnya volume pembelian. Namun, harga ENRG belum mampu menembus moving average 20 harian. Posisi ini masih dinilai menarik untuk spekulasi terbatas.

“Selama masih mampu bertahan di atas 1.515 sebagai stoplossnya, posisi ENRG saat ini diperkirakan membentuk bagian dari wave [b] dari wave 4,” ujar Herditya. ENRG direkomendasikan spec buy di kisaran 1.520 hingga 1.545. Target harga berada di 1.580 dan 1.655.

Untuk saham PT Impack Pratama Industri Tbk atau IMPC, harga menguat 1,72% ke level 3.550. Volume pembelian masih mendominasi meski mulai mengecil. Posisi saham ini diperkirakan berada di awal wave 5 dari wave (5). Strategi buy on weakness menjadi pilihan.

IMPC direkomendasikan buy on weakness di rentang 3.480 hingga 3.530. Target harga berada di 3.640 dan 3.870. Stoploss ditetapkan di bawah 3.430. Pendekatan ini menyesuaikan dengan kondisi pasar yang fluktuatif.

Saham Tambang Dan Perbankan Jadi Perhatian

Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk atau MBMA menguat 1,30% ke level 780. Penguatan ini disertai peningkatan volume pembelian. Posisi MBMA dinilai berada pada bagian awal wave v dari wave (iii). Selama harga bertahan di atas 735, tren masih positif.

MBMA direkomendasikan buy on weakness di area 745 hingga 775. Target harga berada di kisaran 825 dan 880. Stoploss ditetapkan di bawah 735. Saham ini menarik seiring sentimen sektor baterai dan kendaraan listrik.

Berbeda dengan saham lainnya, PT Bank Mandiri Tbk atau BMRI justru direkomendasikan sell on strength. Saham BMRI terkoreksi 0,70% ke level 4.990 dengan volume penjualan yang mulai muncul. Posisi teknikal menunjukkan potensi koreksi lanjutan.

“Kami perkirakan, posisi BMRI saat ini berada di awal wave [c] dari wave 2,” ujar Herditya. BMRI dinilai masih rawan turun ke kisaran 4.460 hingga 4.750. Strategi sell on strength disarankan di area 5.000 hingga 5.050.

Terkini